FestivalJak Jazz FestivalNews

Ray Harris: Bintang Malam Pertama

Main kibor dengan jari-jemari? Itu normal. Dengan siku? Juga biasa. Tapi (maaf) dengan pantat? Itu pasti langka dan unik. Ya, begitulah ulah “gila” musisi muda asal Skotlandia, Ray Harris, di malam pertama Jakjazz 2008, Jumat (28/11).

Pada komposisi andalan berjudul Tokyo Blue, atraksi Ray benar-benar menghibur dan dia berhasil menyandera para penonton dalam sihir musik beraliran fussion sajiannya bersama Evan Malloch (gitar), John Paul Speirs (bas), Jamie McGrory (drum), Signy Sakobsdottir (perkusi), dan Marie Clare Lee (vokal). Ray sebenarnya lebih banyak memainkan Grand Piano Yamaha hitamnya. Namun berkali-kali ini pindah ke kibor Hammond merahnya, ketika beberapa komposisinya membutuhkan nada-nada khas dan atraktif.

Ray Harris bolehlah menjadi bintang pembuka ajang musik berskala internasional Jakjazz Jilid ke-10 malam itu. Dia menyapa penonton dengan sajian pembuka Scaramunga dengan bumbu latin. Perkusionis mungil Signy menggebrak nomor awal ini dengan sangat dominan, membuat para penonton tersentak dan menyambut girang sambil bergoyang.

Nomor kedua My Last Chance malah lebih kental nuasansa pop-nya. Di nomor ini, vokal bariton Ray yang serak-serak dipadu dengan vokal sopran Marie Clare Lee.

Lepas dari suasana sentimentil, para penonton diajak melompat ke wilayah rock saat Ray & the Fussion Experience membawakan One of a Kind. Bagi penonton yang berumur dan penyuka rock, nomor ini mirip komposisi milik grup tahun 60-an the Doors yang juga berasal dari Skotlandia, Inggris. Ketika ditanya, Ray tanpa sungkan mengakui kalau dirinya memang sangat mengagumi personil the Door, Ray Manzarek. Terlebih lagi, musisi yang berbeda 3 generasi itu sama-sama lulusan International Jazz Institution, Inggris.

Kelebihan anak-anak muda Skotlandia itu tampak benar bertumpu pada skill, technic, dan speed, serta art dalam bermain secara grup. Wilayah musik mereka pun terdengar sangat luas dan variatif. “Saya memang menyukai dan terinspirasi banyak aliran musik mulai funk, rock, pop, latin, dan jazz,” aku Ray.

Selain Ray & the Fussion Experience, grup tamu yang tampil perdana malam itu adalah Kyoto Jazz Massive. Grup asal Jepang yang dimotori dua DJ kakak beradik Shuya Okino dan Yoshihiro Okino ini menawarkan warna lain lebih ke arah disco-jazz. Maka jadilah ruang utama konser di Istora malam itu seperti arena “dugem” di lantai diskotik lewat sajian electro-musical mereka.

Kontributor: Rahmadian Noor

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker