FestivalJak Jazz FestivalNews

Belia Bersama Open Hands

Adalah skenario solo bass yang jamak: comping samba layaknya jemari bermain gitar (atau lebih tepatnya petik bass double stops). Bassis juga biasanya memilih aksi slap dan khusus “Abe” Laboriel, ia menggunakan telapak tangannya sebagai klimaks “menampari” senar seolah alat pukul. Apa-apa yang kesannya old school, jadi beda, berbalut kharisma, ketika seorang Abraham Laboriel tersenyum hingga menyipit matanya, membuka tangan, kemudian merangkul pendengarnya sepenuh hati.

Pernyataan paling pribadi, yang spirit (dan mungkin yang religi) dibawa ke musik oleh proyek Open Hands. Boleh dibilang keterlibatan drummer Bill Maxwell, proyek penyanyi peraih Grammy, Andraé Crouch (yang datang juga ke JakJazz 2008 dalam jadwal berbeda), adalah paket rombongan berwarna gospel. Musisi lainnya, Justo Almario (saksofon, flute) dan Greg Mathieson (keyboard), berkontribusi pula membuka-tangan sebagai awak Open Hands. Pernyataan-pernyataan transedental ini dibawa menjadi lebih universal. Misalnya saja isu globalisasi dan kemanusiaan pada “Prayer For Congo”. Di sisi lain, muncul pula tema perayaan, misalnya pada “Partita for Saxophone”. Judul yang (menurut Almario) tidak lain adalah plesetan kata “party” dengan “fiesta” yang digabung sebagai “partita“, dari sini saja sudah ada niat ber-ria-jenaka.

Dengan rata-rata pemain yang telah beruban, secara khusus Laboriel punya karakter suara bass elektrik yang vintage. Jika dihubung-hubungkan, jadul (jaman dulu) secara teknis disengaja oleh rekaman proyek ini (yang mendapat pujian teknikal pula). Sengaja dalam arti garapan serius adalah simulasi pita rekam analog (boleh disebut kaset, lah), rekaman live, tanpa overdub, dan umumnya take pertama. Tanpa latihan bersama yang khusus pun bukan kesulitan berarti bagi musisi-musisi senior ini saat merekamnya. Sayangnya, ketika tampil di Jakarta (2008/11/29) suara keseluruhan bernuansa reproduksi moderen. Adaptasi ini juga terasa di seksi Laboriel yang suaranya lebih “besi”. Namun, tetap saja daya interaksi mereka, memperagakan bergoyang lepas yang jadi jenaka untuk usia mereka atau bahkan meloncat, menyuntikkan semangat untuk jadi belia, bahkan jadi bocah yang berani menjelajah apa saja tak kenal takut.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker