FestivalJava Jazz FestivalNewsProfile

Chaseiro – 30 tahun intelektualitas berkarya

“Kulama menanti suasana bermelodi
Turutlah bernyanyi bersama kita semua

Lupakan segala dosamu, kisahkan hari-hari yang datang
kau sambut semua dengan cinta dan kasih sesama”

Kiranya penggalan lirik lagu “Kulama Menanti” karya Candra Darusman di album kedua Chaseiro itu dapat dipilih menjadi pembuka kenangan kita pada kelompok vokal yang lahir di awal tahun 80an. Adalah sekelompok mahasiwa UI yang tergabung dalam kegiatan folk-song (atau vocal group di masa sekarang), terdiri dari Candra Darusman (Vocal, Keyboards), Helmie Indrakesuma (Vocals), Aswin Sastrowardoyo (Guitar, Vocals), Edwin Hudioro (Flute, Vocal), Irwan Indrakesuma (Vocals), Rizali Indrakesuma (Bass,Vocal), dan Omen Norman Soni Sontani (Vocal) menggunakan inisial nama mereka menjadi sebuah nama sebuah kelompok vokal. Chaseiro. Ya, kelompok Chaseiro inilah yang kemudian maju ke sebuah festival vocal group se-Jakarta.

Sejarahpun dimulai. Kala itu, tanggal 6 Mei 1978, adalah hari dimana Chaseiro menjadi juara satu festival yang diselenggarakan oleh sebuah radio swasta di Jakarta, Radio Amigos. Maka dimulailah langkah Chaseiro menapakkan diri di peta musik Indonesia.

Talenta yang ada di Chaseiro kemudian menjadi perhatian khalayak. Salah satunya adalah drummer Benny Mustafa yang mempertemukan Chaseiro dengan Musica Studio. Maka dalam kurun 1979-1983 Chaseiro merilis 4 album bersama perusahaan rekaman pribumi ini. Dimulai dengan album “Pemuda” (terbit maret 1979), “Bila” (November 1979), “Chaseiro vol.3” (1981), dan “Ceria” (1982). Banyak lagu yang menjadi hit dari album-album itu. Menjadi evergreen hits.

Kekuatan musik Chaseiro terletak pada intelektualitas dalam berkarya, baik dari segi aransemen vokal, musik, dan penulisan lirik. Harmonisasi vokal para personel Chaseiro telah melekat dan menjadi sebuah ciri khas kelompok itu. Melodi musik mereka dibuat manis dengan aransemen yang memasukkan anasir jazz, bossas dan latin. Andalan yang tidak dapat dipisahkan adalah tema lirik lagu Chaseiro yang selalu menyiratkan kebahagiaan, harapan positif serta cinta kasih sesama.

Selepas album keempat, Chaseiro tidak lantas menyatakan dirinya bubar. Sesekali mereka masih tampil di depan publik, walau sebagian sudah menggeluti profesi lain diluar musik dan berkarya di masyarakat. Beberapa jejak dari era ini adalah dua buah single yang dirilis bersama Atlantic Records dan Harpa Records, berjudul “Time Past” dan versi baru lagu “Pemuda”. Namun di kedua lagu yang terbit tahun 1990 itu mereka mencantumkan nama Chasero, tanpa insial “i”.

Reuni besar pertama Chaseiro terwujud pada maret 2001 dengan dirilisnya sebuah proyek kompilasi yang berisi lagu-lagu pilihan tahun 1978-1982. Sebuah lagu baru mereka masukkan di album yang disebarkan oleh Musica Records itu. Lagu itu, “Bagaimanakah” merupakan hasil kerjasama Chaseiro dengan arranjer Andi Rianto. “CHASEIRO untuk BANGSA” begitu tagline yang diberikan untuk lagu “Bagaimanakah”. Karya itu merupakan ungkapan mereka kepada keadaan negeri ini, dimana disebutkan, “Masih banyak manusia yang baik di bumi tercita kita. SENI (Selamatkan Negeri Ini) niscaya turut menyelamatkan keadaan ini.”

Tepat 30 tahun, pada maret 2009 ini Anda kembali dapat menyaksikan mereka beraksi di atas panggung. Di Java Jazz 2009, Chaseiro  hadir memenuhi rindu “kawan-kawan setia”nya. Walau tidak dalam format utuh, karena Candra Darusman dan Rizali Indrakesuma sedang tugas di luar negeri. Chaseiro akan didampingi para sahabat lama dalam bermusik, Uce Hariono (drums), Ade Hamzah (bass), Ronald “Ochon” Panjaitan (keyboards), Achmad Ananda (gitar) dan dr. Iwang Gumiwang (perkusi). Mereka akan menyuguhkan karya dan penampilan yang terbaik. Helmi Indrakesuma menyebutkan, “Lagu yg akan dibawakan lagu yang sudah pernah ada di kaset/CD, tetapi ada beberapa lagu dengan aransemen baru.”

Tentu menarik menunggu bagaimana hadirnya sebuah kelompok vokal yang saat ini nyatanya sudah tidak lagi sekedar sebuah vocal group atau band, namun lebih dari itu, Chaseiro adalah pertemanan, persahabatan dan persaudaraan diantara anggotanya serta dengan para pecinta musiknya. Maka siapkan waktu Anda untuk momen 30 tahun Chaseiro berkarya, tentunya dengan senandung,

“Kulama menanti dalam sebuah laguku
Rasanya memberi bahagia kita semua

Sekali pernah dikatakan nada-nada yang kusenandung
Tak’kan dinikmati bagaimana kedengarannya
Suara yang mengalun ini”

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker