Java Jazz FestivalNews

Global Harmony Orchestra

jjf0901-aw-0671Dwiki Dharmawan kembali mendapat kesempatan untuk menyajikan gagasannya dalam format kolosal di edisi Java Jazz kali ini. Di dua tahun penyelenggaraaan lalu, Dwiki tampil dengan formasi World Peace orchestra yang menghadirkan kolaborasinya dengan musisi Internasional. Tahun ini, di Java Jazz 2009, Dwiki kembali hadir dikawal oleh satu set string section, satu set brass section, satu set gamelan Bali, tiga pemain perkusi, dua orang vokalis dan seorang sinden, sekelompok pemain rhythm yang terdiri dari keybordis-bassis-gitaris-dua drummer, dan tiga musisi tamu internasional. Ia menamakan unit yang tampil malam itu sebagai Global Harmony Orchestra.

Dwiki Dharmawan Global Harmony Orchestra membuka pertunjukan dengan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Penonton di ruang Plenary Hall berdiri hikmat memberi penghormatan kepada lagu tersebut. Sepertinya, selain sebagai seremoni, lirik lagu karya W.R Supratman itu linier dengan tema pertunjukan Dwiki kali ini.

“Janger” sebuah lagu tradisional dari pulau dewata Bali dimainkan sebagai tune pertama petualangan musikal bersama Global Harmony Orchestra. Semangat tradisi kemudian berlanjut dengan disajikannya sebuah folksong asal kepulauan Flores. “Ie”, judul lagu itu menghadirkan  lantunan vokalis Dira dan permainan saksofonis asal Kalifornia, Michael Paulo. Kerjasama dua talenta itu membuat versi Java Jazz 2009 lagi “Ie” kental dengan manisnya nuansa smothjazz. Dua versi lainnya dapat disimak di album baru Dwiki yang dirilis hari itu juga.

Lagu berikut adalah sebuah komposisi orisinal Dwiki yang berjudul “Arafura”. Lagu berbasis fusion ini mengetengahkan isian vocoder Dwiki dan improvisasi permainan gitar Andre Dinuth.

Peni Candrarini tampil dengan lantunannya membuka komposisi berjudul “Gunungan”. Paduan gamelan bali dan voice Peni menjadi menu di bagian awal lagu. Kemudian masuk ke bagian sahut-sahutan antara string section dengan gamelan bali yang menciptakan suasana magis. Permainan gamelan Semar Menggulingan dibawah pimpinan I Nyoman Winda selanjutnya menutup “Gunungan” dengan dipadu tetabuhan tiga pemain perkusi, Steve Thornton-Philipe Ciminato-Zaenal Arifin.

Kemudian kembali sebuah lagu rakyat Flores, dimana Dwiki mengajak Ivan Nestroman untuk menyanyikan “Benggong Banggong”. Lantunan khas Ivan dalam lagu berbahasa ibunya itu berhasil membakar penonton. “Ayo kita goyang sama-sama!” kata Ivan di awal lagu.

Dua lagu terakhir kembali adalah komposisi yang ditulis Dwiki. “The Spirit Of Peace”  menampilkan permainan oud Kamal Musallam (gitaris asal Dubai) yang memberikan arrabic touch. Peni kembali memberikan warna khas pada lagu itu dengan lantunan sindennya.  Komposisi ini sepertinya sengaja ditulis untuk dapat menjadi tuan rumah yang baik bagi segala etnis. karena di versi Java Jazz 2009, “The Spirit Of Peace” menjadi sangat bernuansa 1001 malam. Baik karena permainan oud Kamal, tetabuhan perkusi Steve Thornton, dan dari repetisi permainan string section.

“Kita sekarang akan fun membawakan sebuah komposisi yang berjudul “Numfor”, featuring Steve Thornton, Demas, Alsa and other percussions.” jelas Dwiki tentang lagu yang menjadi pamungkas pertunjukannya. “Numfor” dimulai dengan paduan permainan perkusi dan dua drummer berusia 15 tahun. Badan lagu adalah sebuah fusion. Berturut-turut “Numfor” menampilkan part improvisasi isian vocoder Dwiki, Eugene dengan saksofonnya, permainan bass Indro Hardjodikoro, synthesizers, perkusi dan aksi solo dua drummernya.

Tentang penampilan Dwiki tadi, Kompyang Raka memberikan komentar, “Bagus. Lagu yang kolaborasi betul-betul bagus. Cuma ada bagian yang lebih banyak bisa terjalin. Tidak hanya sekedar gini-gini-gini terakhirnya (saling sahut). Tapi (secara keseluruhan) cukup bagus. Tonenya pas. Tempo pas. variasi mereka bagus. Gamelannya bagus. Cocok. Seneng saya, suka saya. Tidak sekedar tempel-tempelan saja. Bagus. Tantangannya musti latihan lebih banyak.”

Masih tentang pertunjukan Dwiki, Franky Raden menambahkan, “Saya pikir menarik. Saya pikir tidak banyak orang memiliki ambisi seperti Dwiki. Itu ambisi yang bagus. Dunia musik Indonesia perlu orang-orang seperti dia. Yang sangat adventurous, yang berani menjelajahi wilayah-wilayah baru. Maka kita perlu appreciate Dwiki. Dari segi musiknya, memang masih banyak hal yang bisa dikembangkan lebih jauh. Atau lebih dimatangkan lebih jauh. Karena ini sifatnya masih eksperimental tahap-tahap awal. Tapi ada orang seperti Dwiki, yang punya gagasan, itu menarik sekali. Mudah-mudahan makin banyak akan makin bagus.”

Ya, Setuju. Namun harapan Franky Raden tadi akan bermuara pada sebuah pertanyaan, “Kapan kesempatan itu ada?” Karena sejatinya gagasan dan usaha seperti Dwiki perlu didukung banyak pihak.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker