Java Jazz FestivalNews

Straight Ahead a la Bambang Nugroho dan Margie Segers

jjf0902-aw-bambang-nugroho-straight-ahead-0235Penampilan Margie Segers adalah bintang di panggung Bambang Nugroho malam kedua Java Jazz Festival 2009 lalu. Pianis yang menetap di Bandung ini hadir bersama kuartet Straight Ahead di ruang Assembly I. Dengan drummer Tb.Daddy Sufyadi, bassis Rudy Zulkarnain dan violis Amy, Bambang Nugroho menghadirkan olahan komposisi standard jazz.

Pertunjukan dibuka dengan solo akustik piano Bambang Nugroho memainkan “Falling In Love With Love”. Jelajah formasi trio masuk setelah part drum menutup intro yang dinyanyikan Bambang Nugroho. Lagu karangan komposer Richard Rodgers dan penulis lirik Lorenz Hart tahun 1938 ini disajikan manis dengan variasi permainan tempo diselingi beberapa part solo piano dan double bass.

kemudian dimainkan “Here’s That Rainy Day” karya Jimmy Van Heusen-Johnny Burke dari tahun 1953, “Christopher Columbus” yang merupakan sebuah lagu swing klasik dari tahun 1936, “Bluesette” dan “Tenor Madness”. Formasi Bambang Nugroho menjadi kuartet dengan tambahan pemain violin setelah lagu kedua selesai dimainkan. Aransemen yang dibuat Bambang Nugroho stright Ahead terdengar lebih banyak memberikan ruang untuk Bambang Nugroho mempertontonkan kelincahan jemarinya berimprovisasi. Tontonan menarik juga dipertunjukkan saat di beberapa bagian piano dan violin melakukan pairing.

Aura pertunjukan justru memanas saat bintang tamu spesial trio itu naik ke atas panggung. “You’re enjoying the show? I can’t hear you… that much better!” saat penonton memberikan applaus lebih keras dari sebelumnya, “If the sounds from there good, my voice will be good!” pancing Margie Segers di awal sebelum melantunkan “Body and Soul”. Setelah komposisi dari Johnny Green itu, Margie Segers melanjutkan dengan
“Time After Time”.

“Saya ketemu Bambang cuma hanya sekali. Karena dia tinggalnya di Bandung (dan) saya di Jakarta. And, we met only 30 minutes here. Tigapuluh menit, ya, tiga puluh menit. We start to practiced, all this songs. And then we start doing it.  Because it is what they said, You do not need a practice! It’s right. They’re right. Because it’s jazz. you practice now, and you perform, it’s gonna be different. Am i right? You understand what jazz is about…” kata Margie di awal lagu yang dipopulerkan Frank Sinatra.

Ketajaman talenta entertain Margie membuat suasana cair. Pemahaman Margie pada lirik lagu memudahkan ia memainkan kata. Seperti di satu bait “Time After Time” dengan pas penyanyi itu mengganti dengan kalimat, “…so lucky to be event Java Jazz…” Tepuk tangan penonton menyambut manuver Margie.

Tampilan berikutnya adalah bagaimana para pemain jazz itu menjaga momen yang telah berhasil mereka bangun. Margie Segers dan kuartet Bambang Nugroho menghadirkan “Misty” karya Erroll Garrner-Johnny Burke dan “The Lady Is A Tramp” Richard Rodgers-Lorenz Hart di akhir pertunjukan. Selain bertepuk menyambut meriah lagu-lagu yang dinyanyikan Margie, penonton juga terhibur dengan spontanitas anekdotnya di atas panggung. “No practicing. Just on the spot!” sekali lagi diucapkan Margie di sela penampilannya. Tentu ini adalah bukti pengalaman seorang penyanyi yang telah terasah bertahun-tahun di atas panggung.

Namun ada satu hal yang kurang dari penampilan Bambang Nugroho malam itu. Sudah di tiga tahun penyelenggaraan Jazz Jazz pianis ini tampil. Tahun 2007 ia hadir bersama Rien Djamain. Tahun 2008 ia tampil dua kali, bersama kelompok Octagon yang memainkan komposisi standard jazz dan satu lagi dengan Bhaskara 2008. Bhaskara 2008 menampilkan lagu orisinil dengan bintang tamu Luluk Purwanto. Tahun ini Bambang Nugroho kembali tampil dengan kelompok yang ia namakan Stright Ahead. Meski sambutan penonton untuk pertunjukkan kelompok ini cukup meriah, terutama dengan hadirnya Margie Segers, tapi entah kenapa pianis yang sudah beberapa kali mewakili Indonesia untuk acara North Sea Jazz Festival di Belanda (sebagai anggota Bhaskara, Indonesian All-Star, Embong Rahardjo Band, Jakarta All-Star) serta belajar jazz di Dick Groove Music School Los Angeles di tahun 1985 ini tidak menampilkan karyanya sendiri? Tentu akan lebih lengkap jika ada satu-dua lagu orisinil Bambang Nugroho yang diaransemen senafas konsep straight ahead.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker