FestivalNews

Laporan dari North Sea Jazz Festival 2009 (Bagian ketiga -terakhir)

Hari ketiga adalah hari terberat, maklum kondisi fisik sudah agak menurun plus sudah harus mempersiapkan kepulangan ke tanah air via Dusseldorf menggunakan Emirates, pada senin pagi. Namun sepertinya panitia juga telah membaca gelagat ini, karena keesokan harinya adalah hari kerja pertunjukan yang paling bontot dijadwalkan selesai pada pukul 12 tengah malam.

Saya datang saat penonton berjubel di stage Maas, tempat John Scofield Piety Street Band Manggung. Ini kali keempat saya melihat pertunjukannya. Sekali di Toronto Jazz Festival (2004), North Sea Jazz Festival (2005) dan Java Jazz Festival (2008). Selalu menarik, karena semua line-up dan musik yang ditawarkan relatif berbeda, tergantung proyek yang disuguhkannya.

Sang master mengajak Jon Cleary (vocals, piano, Hammond B3 organ); Donald Ramsey (bass) dan Ricky Fataar (drums). Proyek kali ini merupakan interpretasinya pada karya-karya gospel lama. Musiknya agak ‘laid back’ dan mengingatkan band R&B seperti The Meters. Sound yang terdengar ngeblues menghiasi seluruh performance namun tentu bukan dengan struktur yang biasa-biasa. Hal ini didukung jajaran musisinya yang merupakan legenda di masing-masing bidang. Contohnya drummer Ricky Fataar yang telah banyak bermain dengan Bonnie Raitt, serta artis lainnya, bertugas menjaga rhythm yang agak lembut dan syahdu. Piety Street merupakan album terbaru John Scofield yang dirilis awal mei 2009. Penasaran seperti apa proyek John Scofield?, berikut ini videonya.

Saya lantas beranjak ke stage Hudson dan menyaksikan drummer Roy Haynes bersama pianis asal panama, David Kikoski (piano) dan John Patitucci (double bass). Trio ini menyuguhkan warna straight-ahead jazz.

Roy Haynes
Roy Haynes

Haynes yang pernah bermain dengan Lester Young, Charlie Parker, Thelonious Monk, John Coltrane dan Miles Davis sering disebut-sebut sebagai salah satu peletak tradisi modern drumming, bersama pianoir bebop Kenny Clarke dan Max Roach, dan hard bopper Art Blakey. Bersama trio ini, Haynes menyajikan campuran nomor standard selain meramunya dengan bop, Latin, swing dan sedikit groove. Saya tak berlama-lama, karena saya harus mengambil gambar Norma Winstone, Satoko Fujii dan Melody Gardot di tiga panggung berbeda sementara pada pukul 18.40 Wynton Marsalis bersama Jazz at Lincoln Orchestra nan kesohor itu akan tampil di panggung Spesial Shows di stage Amazon. Bukan sebuah pilihan, tapi semuanya harus tercover.

Norma Winstone
Norma Winstone

Norma Winstone, penyanyi kelahiran tahun 1941 yang memulai karirnya di klub jazz kenamaan London, Ronnie Scott sejak 1960-an dikenal awalnya menyanyikan lagu-lagu standard. Namun belakangan ia kerap berada dilingkungan eksperimental, seperti penampilannya di NSJF kali ini bersama pianis Fred Hersch, yang jejaknya terekam dalam CD ‘Songs & Lullabies’.

Pertunjukan Wynton dan J@lco agak telat lima belas menit dari jadwal. Mungkin alasannya karena mengisi kursi yang hanya terisi separuh. Beruntung penulis mendapatkan tiket cuma-cuma, lantaran membeli merchandise jazz di hari ketiga. Petugas dibagian kasir menawarkan dua tiket Wynton Marsalis sesi pertama. Ya, Wynton dan Jazz at Lincoln Centre Orchestra memang manggung dua kali di hari terakhir tersebut. Dan keduanya merupakan pertunjukan dengan tiket tambahan.

Wynton Marsalis with Jazz at Lincoln Orchestra
Wynton Marsalis with Jazz at Lincoln Center Orchestra

Pertunjukan dimulai dengan ‘We Gonna Swing You’ dan ‘Deep blue from the phone’. Suara brass yang sangat khas membahana, memenuhi ruangan yang hanya terisi separuh. Tak jelas apakah karena ini pertunjukan hari terakhir, spesial shows atau ada hal lain (penulis tidak berkesempatan mengecek sesi kedua pertunjukan -red). “Tapi yang jelas, suaranya beda!”.

Pada lagu ketiga, Wynton Marsalis yang bertindak selaku konduktor selain bermain trumpet, mengundang dua tamu spesial dalam pertunjukannya di NSJF09, yaitu Chano Dominguez (piano) dan El Piraña (perkusi), lalu mereka membawakan lagu Tres square el pidemia yang berirama flamenco.

Ada satu sesi seru dimana Dan Nimmer melakukan call-response namun menggunakan satu piano secara bergantian dengan Chano. Dan Nimmer memainkan gaya bebop sementara Chano merespon dengan sentuhan klasik dan flamenco. Duel yang berlangsung sekitar lima belas menit yang mengundang decak kagum penonton dan berbuah tepuk tangan pujian.

Chano Domínguez & El Piraña
Chano Domínguez & El Piraña

Sekedar informasi saja, pianis yang menguasai teknik bermain post-bop dan latinjazz ini awalnya bermain progressif rock. Gara-gara Mahavisnu Orchestra dan Weather Report, ia jadi tertarik T.S. Monk dan dan Bill Evans. Penampilannya pada hari terakhir NSJF09 mendapat applaus berkali-kali.

Wynton Marsalis yang menjadi artistic director bagi Jazz at Lincoln Centre Orchestra merupakan nama yang berkibar didunia jazz. Selain prestasinya, komentar-komentarnya kerap mengundang kontroversi. Lahir dari keluar musisi jazz yang semuanya menjadi tokoh terpandang membuat pria kelahiran 1961 ini, punya riwayat jazz yang mengagumkan. Menggondol 9 grammy awards, dan pernah pula meraih Pulitzer.

Musisi-musisi lain yang tampil malam itu adalah Sean Jones, Ryan Kisor, Marcus Printup (trumpet); Vincent R. Gardner, Elliot Mason, Chris Crenshaw (trombone); Sherman Irby (alto sax); Ted Nash (alto sax, soprano sax, clarinet); Walter Blanding (tenor sax, soprano sax, clarinet); Victor Goines (soprano sax, tenor sax, clarinet); Joe Temperley (baritone sax, soprano sax, bass clarinet);Carlos Henriquez (bass); Ali Jackson (drums).

Usai pertunjukan sepanjang 60 menit, saya beranjak menuju stage Darling, salah satu stage favorit di NSJF09. Tak hanya karena John Zorn selalu tampil disini, namun rata-rata pertunjukan diruangan ini, membuat para penonton harus rela mengantri minimal 15 menit menunggu giliran masuk. Saat kesempatan itu tiba, saya sudah berada di dua lagu terakhir. Esperanza Spalding yang manggung dua tahun lalu di NSJF sebagai new comer, kini sudah menjadi bintang. Itu pujian dari Jan Willem Lyuken, Festival Director NSJF.

Esperanza Spalding
Esperanza Spalding

Dan layaknya bintang, ia dengan leluasa berkomunikasi dengan para penonton yang rela duduk disebagian area tanpa kursi alias lesehan. Esperanza juga gemar bercanda dan ini keahlian utamanya. Ia mengajak penonton untuk menirukan suaranya dengan membagi ruangan menjadi tiga bagian. Namun ia mencontohkan lagu yang harus ditiru penonton sepanjang lima menit. Meskipun ia tahu bahwa tak ada penonton yang bisa mengingat melodi sepanjang itu, ia berujar “Great, anda hebat semua, teruskan!”. Begitu diulanginya hingga baris terdepan. Penonton pun tertawa.

Wanita yang punya keahlian memetik double bass sekaligus bernanyi ini juga mengagumkan. Dalam dua tahun terakhir, namanya muncul diberbagai album rekaman musisi-musisi jazz kenamaan. Sebut saja Stanley Clark, Joe Lovano sampai album terbaru kelompok smooth jazz Fourplay. Ia dianggap memiliki segala keunggulan milik Norah Jones, Nina Simone hingga Ron Carter. Malam itu ia tampil bersama Ricardo Vogt (guitar); Leo Genovese (piano); Otis Brown (drums).

McCoy Tyner
Dari kiri-ke-kanan: McCoy Tyner, Gerald Canon, Gary Bartz, John Scofield,Eric Kamau Gravatt dan Bill Frisell

Usai penampilan Esperanza, saya berpindah ke stage Hudson dan menyaksikan pianis legendaris McCoy Tyner tampil bersama gitaris Bill Frisell, saxophonis Gary Bartz, Gerald Canon (double bass) dan Eric Kamau Gravatt (drums). Gitaris John Scofield yang sebelumnya juga manggung dengan Piety Street Band, kali ini kembali tampil.

Gary Bartz, John Scofield, Bill Frisell
Gary Bartz, John Scofield, Bill Frisell

Kharisma yang luar biasa dari musisi yang tampil depan membuat para penonton berdiri meminta encore. Petugas security yang tadinya sempat melarang sebagian penonton mengambil gambar dari depan panggung tak dapat berbuat apa-apa. Puluhan fotografer baik yang amatir maupun professional, berebut kesempatan mengabadikan momen ini.

Pianis yang diidentikan dengan John Coltrane – mereka pernah membuat quartet bersama – menggunakan scale, struktur chords, phrasing melody dan rhythms yang mirip. Tyner yang kidal justru memiliki kemampuan yang powerful untuk memainkan low bass, sementara jemari kanannya sigap melakukan aksi solo yang khas.

Saya buru-buru menuju stage Madeira. Ada sebuah pertunjukan yang tak boleh saya lewatkan, meskipun hanya diberikan kesempatan menikmati dua lagu. Ia adalah tokoh free jazz, Anthony Braxton yang tampil bersama The Diamond Curtain Wall Trio.

Anthony Braxton
Anthony Braxton

Sebuah laptop terletak disebelah kirinya. Ia tak menghadap ke penonton, tapi justru berbaring dilantai sambil meniup saxophone. Suara-suara elektronis terdengar tak beraturan. Rupanya Braxon memanfaatkan MacBooknya untuk memainkan audio programming language. Tentu bukan hal yang aneh, karena dalam membuat komposisipun, Anthony Braxton sering menggunakan rumusan matematis dan feeling secara bersamaan.

Mary Halvorson
Mary Halvorson

Rasa-rasanya tak mungkin saya mendapati tokoh-tokoh freejazz dalam sebuah festival -meskipun North Sea Jazz- diwaktu mendatang. Pertunjukan Anthony Braxton (alto sax, soprano sax, electronics) memang tidak dipadati layaknya Cecil Taylor dihari sebelumnya. Namun Braxton yang berhasil ditemui WartaJazz.com seusai manggung mengungkapkan terima kasihnya sudah mau mendengarkan ‘kicauannya’. Ia mengaku belum sempat beristirahat namun sangat antusias melihat penonton yang menikmati sajiannya malam itu. Mungkin sekedar informasi saja, Braxton merupakan salah satu musisi yang menyambut baik dan mendukung hadirnya WartaJazz dari Indonesia beberapa tahun lalu.

Taylor Ho Bynum
Taylor Ho Bynum

Partner bermain Braxton malam itu adalah Taylor Ho Bynum (trumpet, cornet, flugelhorn, trombone, trumpbone) dan Mary Halvorson (guitar).

Setelah bersalaman dengan Braxton, saya lantas turun eskalator menuju Darling. Saat itu sudah pukul 22.30 artinya hanya tersisa 30menit lagi menikmati John Zorn proyek Cobra. Dan tepat dugaan saya, kembali harus mengantri 15menit, tapi tak apa. Daripada tak kebagian sama sekali.

Jika pada umumnya panitia melabeli konser dengan keterangan straight-ahead-bebop-fusion-elektronika-modern jazz dan seterusnya. Pertunjukan penutup dari Artist in Residence NSJF09 kali ini disebut modern creative dan beyond, bingung?. Begini, jika pada umumnya pertunjukan hanya didominasi satu style, maka disini kita menemukan semuanya, bak gado-gado. Bagi John Zorn tidak ada hirarki dalam musik, baik itu musik klasik, jazz, pop, rock atau pun avant-garde. Semua dalam tataran yang sama.

John Zorn Cobra
John Zorn Cobra

Nah, apa yang dilakukannya bersama Cobra yang terdiri dari Mark Feldman (violin); Eric Friedlander (cello); Marc Ribot (guitar); Uri Caine (piano); Jamie Saft (keyboards); Trevor Dunn (bass); Carol Emanuel (harp); Zeena Parkins (electric harp, acoustic harp, effects); Joey Baron (drums); Kenny Wollesen (vibraphone); Cyro Baptista (percussion); Ikue Mori (electronics); sementara John Zorn sendiri menjadi prompter atau tukang aba-aba.

John Zorn Cobra
John Zorn Cobra

Ia duduk ditengah. Seluruh musisi mengelilinginya membentuk huruf U. Ia mengambil beberapa potongan kertas dengan tulisan A, B, R dan seterusnya. Fungsinya seperti cue card. Setiap musisi yang ia tunjuk akan memainkan atau menghentikan permainan alat musiknya masing-masing dengan tinggi rendahnya nada, cepat lambatnya tempo. Tak ada aturan yang pasti sepertinya. Komposisi yang dibawakan bisa berubah-ubah, tinggal tergantung apa yang ada dibenak John Zorn kala itu saja. Ketidak teraturan itu menghasilkan keteraturan. Mengutip kata-katanya, “deliberately chosen not to publish (or even write down) the rules”. Setidaknya ada empat rekaman Cobra yang telah dirilis dengan jumlah orang yang tidak selalu sama.

John Zorn memegang cue card dan mengarahkannya pada penonton
John Zorn memegang cue card dan mengarahkannya pada penonton

Saat MC menyatakan bahwa acara telah selesai, penonton rupanya tak setuju. Tepuk tangan panjang menanti kehadiran kembali JZ dan kawan-kawan. Ia lantas menyelesaikan tugasnya malam itu dengan kembali bermain selama kurang lebih tiga menit. Pada saat penonton bertepuk tangan meriah John mengambil cue card dan sambil menggerak-gerakkan tangannya agar tepuk tangan bertambah keras, ia telah mengajak penontn sebagai bagian dari Cobra, proyeknya yang menarik.

Dua pertunjukan terakhir yang saya sempat nikmati adalah Nicholas Payton Sexxxtett di stage Hudson dan Jazzanova Live! di stage Yukon. Jika bukan karena gerimis dijam setengah dua belas malam itu, saya mungkin akan benar-benar menghabiskan hari terakhir justru hingga selesai.

Nicholas Payton (trumpet) bersama pianis muda Taylor Eigsti, Vicente Archer (bass); Marcus Gilmore (drums); Daniel Sadownick (perkusi) dan Johnaye Kendrick (vocals) membius penonton dengan sound trumpetnya yang lembut. Hari yang sudah larut menambah suasana stage Hudson berkapasitas dua kali ruang assembly 1 JCC di Jakarta, terasa kelam.

dsc_7841
Nicholas Payton

Pria yang sejak tahun 2008 tergabung dalam The Blue Note 7, group yang dibuat untuk merayakan 70th tahun kelahiran perusahaan rekaman Blue Note pernah dijuluki sebagai young lions atau singa muda. Beberapa kritikus sempat pula menyatakan bahwa sound trumpetnya adalah yang terbaik sepeninggal Miles Davis.

dsc_7906
Thomas Pfirmann

Diluar itu, penampilan Taylor Eigsti juga mencuri perhatian. Pianis yang sekarang menekuni post-bop, dijuluki prodigy karena kemampuannya bermain musik diusia muda. Sementara Marcus Gilmore adalah cucu dari drummer Roy Haynes yang manggung ditempat yang sama beberapa jam sebelumnya. Sepak terjangnya cukup menantang. Ia pernah bermain dengan  Steve Coleman, Ravi Coltrane, Vijay Iyer maupun John Clayton.

Taylor
Taylor Eigsti

Stage Yukon yang terletak disebelah kanan dari stage Nile, mirip seperti kontainer namun berukuran lebih besar. Di stage ini banyak musisi jazz Jepang yang manggung selain mereka yang beraliran Jazz Rocks. Kehadiran Sebastian John (trombone, vocals); Sebastian Borkowski (reeds); Kalle Kalima (guitar); Sebastian Studnitzky (keyboards); Paul Kleber (bass); Thomas Pfirmann (drums, percussion); Axel Reinemer (percussion, DJ) bersama bintang Paul Randolph (bass, vocals) menjadi klimaks dari NSJF09.

Jazzanova!
Jazzanova! Kalle Kalima (guitar)

Jazznova yang awalnya hanya fokus pada musik jazz, belakangan telah mencampur musik-musik lain seperti dance, Latin dan trip-hop. Tentu saja, makin banyak saja yang menyukai mereka. Genre elektronika jazz yang disandang memang pantas untuk mereka miliki. Ruangan Yukon berubah bak lantai disko. Sebagian penonton dibagian depan hanya menggerakkan kepalanya saja. Mungkin buat mereka sudah tak penting lagi apakah jazz atau bukan jazz. Yang penting asyik.

Jazzanova!
Jazzanova! Sebastian John (trombone, vocals)

Benar, NSJF tidak hanya menawarkan Jazz, tapi juga merambahkan kebanyak genre lain. Ada hiphop, pop, dance, elektonika, avant-garde dan sebagainya. Semua bersatu, karena musik adalah bahasa universal. Terima kasih dan sampai bertemu di North Sea Jazz Festival tahun depan!.

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker