FestivalJava Jazz FestivalNews

Inner Beauty bersama David Murray

David Murray (photo by Aji Wartono/WJ)

Inner beauty, sebuah konsep qualifikasi untuk menggambarkan aspek-aspek positif dari sesuatu yang non-fisik. Wikipedia menyebut kualitas tersebut meliputi kindness, sensitivity, tenderness or compassion, creativity and intelligence. Gambaran abstrak kualitas tersebut kalau dibandingkan dengan penampilan David Murray bersama Black Saint Quartet di AXIS Java Jazz Festival 2010 terasa melekat menjadi satu dalam aura Murray.

Kreatif dan pintar, kesan mendalam setelah mengamati lika-liku perjalanan karier David Murray sejak akhir dasawarsa 1970an sampai saat ini. Murray mencoba untuk memompa spirit jazz sebagai satu kesatuan yang utuh ke dalam para musisi generasi kontemporer. Kelembutan, meski sering bercumbu dengan tradisi free jazz namun masih menyisakan banyak ruang untuk bermain lembut, vibrato, dalam tiupannya  bak seorang saxophonis di era Swing. Sensitif, di beberapa tahun terakhir ini juga, Murray lebih detail dan sensitif terhadap cara memperlakukan saxophone. Pribadi yang baik, sebatas pengetahuan penulis, orangnya low profile, tegas dan terbuka. Di hari ketiga, Murray sempat memberi salam kepada penonton dengan bahasa Arab yang cukup fasih.

Hamid Drake & David Murray
Hamid Drake & David Murray (photo by Aji Wartono/WJ)

Tampil 2 kali selama perhelatan musik terbesar di Asia ini dengan dukungan formasi Black Saint Quartet yang terdiri dari para musisi dari Chicago Lafayette Gilchrist (piano), Jaribu Sahid (bass) dan Hamid Drake (drum). Black Saint adalah sebuah label jazz dari Milan Itali yang didirikan oleh Giovanni Bonandrini di tahun 1977 yang berfokus kepada para musisi jazz kreatif dan sophisticated. Sedangkan beberapa album unggulan Murray sendiri ada di bawah label tersebut dari 1978 sampai 1993.  Sayang label yang berisi para musisi free jazz generasi lebih modern tersebut saat ini telah bangkrut dan dibeli oleh label yang sama-sama dari Itali, CamJazz. Nama Black Saint Quartet sendiri muncul dalam album “Sacred Ground” (2007) yang terdiri dari Lafayette Gilchrist (piano), Ray Drummond (bas), Andrew Cyrille (drum) dan vokalis tamu Cassandra Wilson.

Hamid Drake (photo by Aji Wartono/WJ)

Agak berbeda dengan masa paruh pertama karier Murray yang energik, meledak-ledak, liar, garang dan atonal. Sekarang ini lebih banyak fokusnya kepada masalah komposisional, kembali ke roots seperti bebop dan hardbop serta kelembutan dan keharmonisan simetris. Kalau ada kesan-kesan outside dalam permainannya semuanya dalam bingkai controled freedom. Termasuk ketika Murray memainkan bas klarinet yang mengingatkan kita kepada musisi jazz legendaris Eric Dolphy. Sebaliknya, justru yang tertangkap adalah kedewasaan Murray dalam bermusik.  Terlebih, penjiwaan dari sound setiap nada yang keluar dari saxophonenya begitu luar biasa. Bahkan bisa memunculkan bayangan sebuah sejarah musik jazz dan sosial masyarakat Afro-American.

Lafayette Gilchrist (photo by Aji Wartono/WJ)

David Murray menampilkan beberapa komposisi standar maupun orisinalnya seperti ‘Waltz Again’, ‘Wagoo Pagoo’

Jaribu Shahid (photo by Aji Wartono/WJ)

(dibuat sebagai respon slogan kampanye Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Yes We Can), ‘Giant Step’ (ditampilkannya dengan pendekatan yang unik dan bersahaja), ‘In A Sentimental Mood’ dan beberapa komposisi lainnya. Para musisi pendukungnya bermain secara proporsional, meski Gilchrist dan Drake sering mencuri perhatian penonton. Pendekatan gaya permainan Gilchrist yang perkusif ini mengingatkan kita kepada beberapa pianis yang dulu sering bermain bersama Murray seperti Don Pullen dan D.D. Jackson. Sementara drummer Drake juga tampil lain kali ini.  Kalau biasanya kita menyimak permainannya yang abstrak dan komplek ketika membantu saxophonis free improvisation legendaris dari Jerman Peter Brotzmann atau free jazzer Chicago generasi terakhir Ken Vandermark, Drake kali ini justru tampil dengan lebih simpatis dan komunikatif dengan penonton. Sedangkan cabikan bas Sahid begitu kuatnya dalam menjaga tempo seluruh permainan.

Alhasil, mereka berempat mampu menyuguhkan tontonan jazz berbobot tanpa membuat dahi penonton berkerut. Aura David Murray memang mampu menembus batas-batas ras, budaya, politik dan geografis. Sebuah kesempatan yang langka terjadi dalam ajang pertunjukan musik jazz di Indonesia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker