News

WartaJazz berusia 10 tahun – Refleksi (bagian pertama)

Saat kami memulai WartaJazz.com kurang lebih 10 tahun yang lalu, tidak sedikit nada pesimis terlontar dari berbagai pihak termasuk orang-orang dekat dengan kami. Wajar, ibarat bayi yang baru lahir – organisasi kami masih belum punya nama – sehingga hal tersebut kami anggap sebagai tantangan.

Benar bahwa menjual ideologi Jazz bukanlah hal gampang. Namun jika kita tidak pernah memulai sesuatu jangan pernah bermimpi hasilnya bisa kita raih. Dan kami di WartaJazz menyadari sejak awal bahwa yang kami jual membutuhkan proses agar banyak pihak memahami bagaimana cari kami memandang musik demokratis namun juga sangat ‘individualistis’ ini.

Jika kita melakukan ‘flash back’ sepuluh tahun yang rasanya cukup singkat untuk sebuah perjalanan hidup, banyak hal menarik yang kami alami dan pelajari. Sebagian tentu bisa anda lihat dari penampilan atau pemunculan artikel-artikel, namun banyak pula yang hanya bisa dirasakan jika anda bersentuhan dengan medium lain selain website yang anda baca.

Liputan perdana kami dimulai dari menjadi saksi lahirnya Jakarta Jazz Society, Liputan di Hotel Regent (kini Fourseason Jakarta), Batam Jazz Forum, Paul van Kemenade (Belanda), Bali Jazz Forum, Jakarta Open Jazz yang digagas Tjut Nyak Deviana Daudjsah, Triocolor (Jerman) termasuk membantu penyelenggaraan konser Nial Djuliarso yang kala itu masih bersekolah di Amerika Serikat dan Jazz Goes to Campus di Universitas Indonesia, Depok.

Pada tahun pertama ini WartaJazz mengontak hampir seluruh stasiun radio di Indonesia dan menawarkan berbagai program. Sebut saja mulai dari Trijaya Network, Cosmopolitan FM, Smart FM, Walagri FM, Ethnik Radio, Radio One, Ramako, CNJ Jakarta, Sky FM Bandung hingga Ardhia FM Yogyakarta serta KLCBS – radio jazz tersohor dari kota kembang Bandung untuk bekerjasama, menyediakan berbagai informasi plus keping audio agar musik Jazz yang kita gemari ini dapat dinikmati lebih banyak orang – menemani waktu dan kesibukan kita semua beraktifitas – baik yang di perkantoran, kampus hingga perjalanan menuju dari dan ketempat beraktifitas. Hingga hari ini kami bekerjasama lebih dari 70 stasiun radio mulai dari Aceh sampai Biak.

Ditahun kedua kami bekerjasama dalam penggarapan konser Zip Zap dari Spanyol di Kedai Kebun Yogyakarta. Menjadi media partner Konser Kemerdekaan RI, Workshop Gitar (Jazz and Modern) bersama Guenter Weiss dan Jak@rt 2001. Mengagas Jazz Gayeng di Yogyakarta, membantu Workshop Mike del Ferro. Dan untuk mewujudkan dukungan pada musisi jazz Indonesia, kami mulai membantu penjualan album-album jazz sehingga memudahkan musisi berinteraksi lewat karya mereka dengan para penikmat dan penggemar musik jazz khususnya kolektor album.

Fase berikutnya adalah mulai mendukung berbagai pusat kebudayaan di Jakarta, mulai dari Erasmus Huis, CCF, Instituto Italiano di Cultura, Goethe Institut plus banyak Kedutaan Besar mulai dari Swiss, Portugal, Finland, Austria, Belgia hingga Perancis dan Italia.

Anda mungkin masih ingat proyek Swiss Jazz Meets Gamelan (2003) yang mengkolaborasikan Podjama dari Swiss dengan I Gusti Kompyang Raka bersama Saraswati dari Bali mewakili Indonesia dan menghasilkan CD Podjama-Saraswati yang dirilis oleh perusahaan rekaman di Swiss.

Atau Pata Java (2004), dimana Pata Masters dari Koln Jerman berkolaborasi dengan Kua Etnika dari Yogyakarta. Proyek tersebut berlangsung kurang lebih satu bulan dimulai dengan workshop di Bantul yang dilanjutkan dengan konser di tiga kota yakni Yogyakarta, Bandung dan Jakarta. Ini juga kali pertama kami terjun langsung menangani rekaman live tanpa overdub dari kedua grup di studio Pendulum Jakarta.

Di tahun yang sama kami menangani tour de java untuk kelompok Fusion yang digawangi Rio Moreno, Harry Toledo dkk bernama Cherokee. Kami menemani grup dengan ciri khas ‘montuno’-nya menyambangi berbagai radio di Bandung, Yogyakarta, Solo hingga Semarang yang dilanjutkan dengan konser disetiap kota yang disinggahi.

Ajang besar Bali Jazz Festival (2005) merupakan hasil gawe team WartaJazz bersama Matamera dan Idekami. Mengundang ratusan musisi dari berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Malang dan Bali juga  melibatkan puluhan musisi internasional seperti , dll. Acara ini digelar tepat sebulan setelah bom bali kedua – sebuah tantangan pada upaya perjuangan agar Jazz Festival tak hanya digelar di Jakarta semata. Sejumlah musisi yang terlibat kala itu, Ron Davis & Daniela Nardi (Kanada), Rudresh Mahanthappa (Amerika-India), Urs Ramseyer Trio (Swiss), Eero Koivistoinen (Finland), Jack Lee (Korea), YAA Orchestra, Piece of Cake (Jepang), Lewis Pragasam (Malaysia), Jan de Haas (Belgia), Bruno de Flanc (Perancis), Indra Lesmana, Bubi Chen, Krakatau, Benny Likumahuwa, Gilang Ramadhan, Donny Suhendra, Dwiki Dharmawan, Koko Harsoe, Yuri Mahatma dll.

Kami mendapat tantangan untuk terlibat menggarap film Magic Music at the Temples yang belakangan dirubah judulnya menjadi Teak Leaves at the Temples (2006). Produser dari Swiss dan New Zealand meminta kami mengontak sutradara Garin Nugroho untuk bekerjasama bersama Komunitas Lima Gunung – membawa kurang lebih 500-an seniman – dengan setting tiga candi kenamaan, Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko plus musisi jazz Guerino Mazzola, Heinz Geisser, Norris Jones aka Sirone dan Sono Seni Ensemble. Film ini mendapatkan World Premiere di Rotterdam International Film Festival dan telah dipertunjukan di kurang lebih 25 International Film Festival.

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker