FestivalJava Jazz FestivalNewsProfile

Charlie Haden, “Risk your Life for Every Note … “

source: vervemusicgroup

Sebuah tip untuk para musisi muda dari bassis jazz legendaris Charlie Haden, tentang bagaimana filosofi dalam bermain musik.  “Saya mendidik mereka untuk bermain dalam level kebebasan, keindahan, bermain seolah mempertaruhkan seluruh hidupnya dalam setiap nadanya.  Bagai tampil berada di depan. Saya selalu menanamkan mereka agar menjadi orang yang berhasil”, ungkapnya dalam sebuah wawancara bersama majalah Downbeat.

Charlie Haden, orang kelahiran Shenandoah 1937 ini sangat berperan dalam memperkaya peta jazz modern bersama saxophonis Ornette Coleman di era akhir dekade 1960an. Tidak itu saja, dia juga memberikan semangat baru dalam perkembangan dunia bass dalam musik jazz. Bagaimana dia menjadi timekeeper tulen. Dengan karakter suara bassnya yang beresonansi gelap dan warna yang membumi , dia mampu meliuk-liukan, membentangkan denyut dalam renik-renik suara nada-nada rendah yang akhirnya bisa memutarbalikkan sebuah kelaziman dan patokan menjadi relatif dan lentur. Dalam bahasa yang sering diucapkan para musisi, “mainnya sudah out”. Hebatnya lagi, dia tidak pernah lupa perannya sebagai seorang bassis.

Haden tumbuh di lingkungan keluarga pecinta musik sehingga dalam waktu yang masih sangat muda sudah mencoba untuk menjadi musisi profesional, meski sebagai penyanyi. Karena terkena folio yang menyerang tenggorokannya, kariernya sebagai penyanyi menjadi terhambat.  Haden melirik ke instrumen bass milik saudaranya dan mulai tertarik dengan musik jazz. Bicara tentang tradisi keluarga musikal ini tetap dipertahankan Haden sampai sekarang. Terbukti bersama putra-putrinya menggarap album “Family and Friends: Rambling Boy” (2008) dengan menggarap musik bluegrass dan Americana.  Album ini bahkan masuk nominasi Grammy Award.

Selepas tahun 1957, Haden pindah ke Los Angeles dan bergabung dengan pianis Elmo Hope, Hampton Hawes, Paul Bley dan saxophonis Art Pepper. Bagaikan terlempar dengan ketapel, karier Haden semakin melesat ketika bergabung dengan Ornette Coleman. Bersama quartet salah seorang pelopor style free jazz tersebut, peran Haden sebagai seorang bassis mampu menyesuiakan dengan konsep Harmolodic dari Coleman di mana dalam hal ini peran bass bisa tampil mandiri tanpa tergantung dengan instrumen lain. Sebuah kesempatan yang memang sebelumnya telah diimpikan oleh Haden sendiri.  “I know before I met Coleman, sometimes I would have a feeling when it came time for the bass solo not to play on the chord changes. Sometimes I want to play on the feeling on the piece”, ungkap Charlie Haden dalam booklet album milik Ornette Coleman “Beauty is A Rare Thing” (Atlantic, 1994). Sebuah album box set koleksi lengkap Ornette Coleman Quartet klasik 1959 – 1961. Kerja samanya bersama Ornette Coleman sampai sekarang juga masih tetap berlanjut.

source: sbccfilmreviews

Selepas dari Quartet tersebut, Charlie Haden banyak terlibat dalam beberapa proyek musik para eksponen free jazz di era 1960an seperti Don Cherry (sahabatnya sejak bersama Ornette Coleman), John Coltrane, Archie Shepp atau pun Roswell Rudd. Selain itu sejak tahun 1967, Haden bergabung dengan Keith Jarrett trio bersama drumer Paul Motian dan beberapa tahun berikutnya bertambah saxophonis Dewey Redman. Formasi ini dikenal sebagai “American Quartet”nya Keith Jarrett dan bertahan sampai tahun 1977. Tiga puluh tiga tahun berikutnya, keluar album duet reuni yang penuh kehangatan antara Jarrett dan Haden “Jasmine” (ECM, 2010).

Kesempatan solo karier bagi Haden sendiri muncul ketika membentuk orkestra bersama komposer/pianis Carla Bley, Liberation Music Orchestra pada tahun 1969 sekaligus mengeluarkan album dengan judul yang sama dengan nama orkestra tersebut.  Orkes yang luar biasa ini syarat dengan eksplorasi free jazz dalam bentuk big band serta menjadi ekspresi politis Haden melalui musik tentang kolonialisasi di era modern.  Dengan beberapa pergantian personil, LMO kembali hadir dalam album “The Ballad of the Fallen” (ECM, 1982), “Dream Keeper” (Blue Note, 1990), “The Montreal Tapes” (Verve, 1994) dan “Not in Our Name” (Verve, 2005). Album terakhir tersebut sebagai ungkapan protes Haden terhadap kebijakan luar negeri George W Bush dalam penyerangan ke Afganistan dan Irak.

Tahun 1976, Haden sempat bereuni  bersama sahabat-sahabat lamanya, Don Cherry, Dewey Redman dan Ed Blackwell dengan membentuk Old and New Dreams yang sempat mengeluarkan beberapa album juga. Selain itu, Charlie Haden tampil dalam ratusan album para tokoh jazz lainnya dari Joe Henderson, Chet Baker, Jan Garbarek, Pat Metheny, Michael Brecker, Elvis Costello, Ringo Starr dan masih banyak lagi. “I’m in Heaven … “, ucapan tersebut diulang-ulang Haden ketika mendapat kesempatan tampil bersama lagi dengan sahabat-sahabat lamanya ketika konsernya di Montreal Jazz Festival tahun 1989 selama beberapa malam. Kesempatan itu diabadikan dalam serial “The Montreal Tapes” oleh label Verve dan ECM

Ada satu formasi yang sampai saat ini terus bertahan dan mempunyai ciri khusus yaitu Charlie Haden Quartet West.  Haden bersama Ernie Watts (saxophone), Alan Broadbent (piano) dan Biily Higgins atau Larance Marable (drum) pada tahun 1986 sepakat untuk membentuk Quartet West yang memang didedikasikan dengan menampilakan koleksi-koleksi jazz standard dan pop di masa lalu. Mereka tampil dengan improvisasi melodi yang indah, lirikal dan mudah dinikmati dengan tetap menonjolkan daya improvisasi yang kuat. Dengan beberapa kali pergantian pemain namun tetap mempertahankan pemain inti bersama Watts, Quartet West sampai sekarang sudah menghasilkan sedikitnya 10 album. Terakhir, di awal 2011 ini keluar album “Sophisticated Ladies” dengan menghadirkan beberapa vokalis jazz terkenal Norah Jones, Melody Gardot, Diana Krall maupun Renee Fleming.

Sebuah totalitas dalam berkarya sudah dibuktikan Charlie Haden sejak lebih dari 50 tahun lalu tanpa diragukan lagi serta puluhan penghargaan pun sudah ada dikantongnya. Termasuk Grammy Award yang menunjuk album duet cantiknya bersama Pat Metheny “Beyond The Missouri Sky” (Verve, 1994) dan “Nocturne” (Verve, 2001).  Pastinya, kalau mengamati para pemain bass dalam kancah musik jazz, Charlie Haden mempunyai karakter yang mencolok, khas dan tiada duanya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker