FestivalJava Jazz FestivalNews

Java Jazz on the Move: Hendrik Meurkens – Maurice Brown – Tony Monaco

Black Cat Jazz Supper Club Jakarta, 28 Februari 2011

AXIS Jakarta International Java Jazz Festival 2011 akan dimulai dalam hitungan hari. Sebagai “pemanasan” menuju acara puncak tanggal 4 – 6 Maret, panitia mengadakan Java Jazz on the Move (JJOTM) menampilkan musisi lokal dan internasional yang akan berlaga pada festival jazz terakbar di tanah air untuk kali ketujuh. Lain dari biasanya, Senin malam lalu (28/2) klub jazz terkemuka Jakarta di kawasan  Senayan, Black Cat terlihat lebih dinamis dengan atribut Java Jazz Festival (JJF) dan tentu saja, pertunjukan oleh tiga artis internasional yang memukau dengan gaya masing-masing.

Pukul sembilan, acara dimulai oleh band reguler yang menyajikan nomor-nomor standar semisal “My Romance,” “Triste,” “My Funny Valentine,” dan “Georgia on My Mind.” Peniup trumpet Maurice Brown ikut nimbrung dalam balada “Misty” secara spontan.

Satu jam berlalu, tiba saat penghembus harmonika Hendrik Meurkens naik ke atas panggung yang terbilang sesak. Bayangkan saja, ukuran sekitar 4 X 5 meter dipenuhi oleh satu instrumen baby grand piano, dua set drum, satu vibrafon, dan sebuah organ Hammond. Belum lagi perangkat amplifikasi yang cukup menyita tempat. Bersama grup The Samba Jazz Quartet, tanpa basa-basi Hendrik langsung memainkan instrumen kecilnya itu. Selepas nomor pertama yang berirama Brasilia, Hendrik menyapa pengunjung sembari berkelakar, “kalau kami ditanya dari mana asalnya, agak susah jawabnya, saya blasteran Jerman-Belanda, lahir di Jerman dan sekarang tinggal di New York. Istri saya orang Brasil, pianis dari Rusia, pemain bas dari Brasil, dan drummer dari Belanda,” ujarnya.

Hendrik Meurkens
Hendrik Meurkens

Pemain harmonika yang tahun lalu pernah manggung di JJF ini memang jempolan. Memainkan frase-frase sulit dengan lancar waktu membawakan “I Can’t Get Started” dalam aransemen bossa, denyut samba “In a Sentimental Mood,” maupun ballad “My Foolish Heart” yang ditampilkan duet dengan piano. Selain harmonika yang dipelajari otodidak, Hendrik pun sangat lihai bermain vibrafon, alat musik yang lebih dulu ia kuasai. Bilah-bilah logam berdenting pada “Someday My Prince Will Come.” Nomor terakhir adalah “Bluesette” milik Toots Thielemans.

Hendrik Meurkens
Hendrik Meurkens
Tony Monaco
Tony Monaco

Malam kian larut, alunan musik semakin kencang, Tony Monaco adalah penampil terakhir yang kontan menggebrak dengan hentakan irama funk lewat organ Hammond berkarakter sound vintage. Ia tidak sendiri, pasukannya terdiri atas Oele Pattiselano (gitar), Cendy Luntungan (drum), Jeffrey Tahalele (bas), Iwan Wiradz (perkusi), dan Glenn Dauna (piano). Keenamnya tampil energik dan greget, terlebih sang organis yang begitu semangat berakrobat dengan sepuluh jari dan kedua kakinya. Tahun ini adalah untuk kelima kalinya Tony bertandang dan tampil di JJF. Mereka juga bawakan komposisi berdenyut swing dan bebop, serta menarik Sri Hanuraga (Aga) yang malam itu kebetulan hadir. Tanpa perlu latihan, ia langsung beraksi di atas tuts piano dan berimprovisasi dengan lugas.

Maurice Brown
Maurice Brown
Maurice Brown
Maurice Brown

Sedangkan Maurice naik-turun panggung sesuka hati, namun ketika ia mulai meniupkan trumpet seluruh perhatian seolah berpusat padanya. Dengan musikalitas dan skill di atas rata-rata, nada-nada yang ia bunyikan menjadi penuh makna, saat cepat maupun lambat. Salah satu nomor yang dibawakan adalah komposisi Tony berjudul “I’ll Remember Jimmy” yang kentara ia dedikasikan untuk mendiang Jimmy Smith. Menjelang akhir pertunjukan, Maurice kembali berulah dengan merepet ala hip hop, sembari bermain trumpet pula. Lewat Maurice, jazz dan hip hop menjadi paduan yang asyik. Dilanjutkan dengan Tony yang kini bernyanyi juga pada nomor balada gubahannya, “Cold Love,” melodi serta progresi harmoninya mirip lagu “Misty.” Penutup konser adalah komposisi funk berdurasi panjang dan tiap pemain bergiliran unjuk performa lewat sesi trading fours hingga beat terakhir. Waktu menunjukkan pukul satu malam.

Tags

Thomas Y. Anggoro

Lulusan ISI Yogyakarta. Telah meliput festival di berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker