FestivalJava Jazz FestivalNews

George Benson dan Jakarta (Special Show AXIS Java Jazz Festival 2011)

I don’t overplay anymore. I used to play excessively, I think -I liked to hear a lot of notes-” (The George Benson Cookbook, 1966)

george-benson-official-site-gallery-photo.jpg

Menyebut “George Benson dan Jakarta” setidaknya mengingatkan akan, pertama: komentar usilnya tentang lalu lintas. Kedua: fanfare yang diimitasi gitar archtop-nya dari permainan bagpipe tradisional untuk membuka “Danny Boy”, alat musik maupun lagu yang lekat warna Irlandia, saat tampil di Jakarta. Benson memang sempat bertandang Desember 2006 dan hiburan meniru bagpipe di tengah interaksi dengan penggemarnya tadi, hanyalah satu di antara segudang karisma panggungnya. Animo tinggi untuk datang menonton saat itu tak lepas dari riwayat sukses komersial “Breezin’” (1976) yang membuat kita mengenal baik, luas di luar jazz, lantun syahdu “This Masquerade” dalam katalog musik abadi populer. Selera luas yang sama membawanya kembali ke Jakarta untuk tampil di Axis Java Jazz Festival 2011. Aksi hiburan sekaligus sarat kepiawaian Benson pantas menarik perhatian, gen inovasi Wes Montgomery, Grant Green, hingga pionir Charlie Christian, menjadikan R&B, funk, dan soul yang diusungnya punya semburat jazz. Satu lagi faktor ketagihan darinya, vokal bersensitivitas blues yang melengkapi sosok versatil Benson sebagai idola.

Lalu Jakarta boleh berharap kejutan apa? Tahun 2010, tamu spesial Earl Klugh muncul di panggung Playboy Jazz Festival, reuni tak resmi “Collaboration” (1987). Norman Brown, duelnya di “Nuthin’ But A Party” (Song and Stories, 2009) tidak ada dalam daftar tahun ini, maka peluangnya tinggal Chuck Loeb yang sekarakter, atau malah Santana. Yang jelas tanpa menduga-duga, dengan menilik jadwal kita tahu ada tribute Nat King Cole, inspirasi vokalnya, sebagai edisi sukses ulangan tur Amerika, festival di Istanbul atau North Sea Jazz 2009 yang memboyong string orchestra. Dalam tema Cole itu, bonus wajib milik sendiri seperti“On Broadway” dan “Give Me The Night” agaknya tetap ada. Materi segar 2009 dari interpretasinya atas nomer semisal sensualnya “Don’t Let Me Be Lonely Tonight” (James Taylor) atau duet dengan Lalah Hathaway dalam akar soul “A Telephone Call Away” (Bill Withers) juga layak mengimbangi seleksi wajib yang dikenal baik.

Untuk pentas kedua, malam “greatest of”, pilihan kelas berat “We All Remember Wes” (1977) atau derap funk neo-latin “Poquito Spanish, Poquito Funk” (1998) akan menarik jika menambah variasi menu.

Kembali bicara Jakarta, kita masih bisa berandai-andai. Coba ingat Mus Mujiono bawakan “Arti Kehidupan” bermotif ballada latin, condong pada titian minor-harmonik, bandingkan dengan “This Masquarade”, belum lagi ketika improvisasi scat mengalir unison dengan tonal bulat gitarnya. Generasi yang lebih muda dan hip menyadur ide-ide Benson adalah Ari (kini populerkan kelompok Gruvi), album solo “Funk Me!” jelas menyiratkan koneksi ke idolanya tersebut. Jadi, Jakarta sebenarnya punya dua pilihan setidaknya untuk duel gitar dengan Benson. Untuk duet vokal imbangi versi asli Lalah Hathaway, kita boleh berandai Dira Sugandhi untuk kualifikasi ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker