FestivalNews

Borneo Jazz 2011: Festival Jazz Warna-Warni!

Liputan dari Borneo Jazz 2011, 12-15 Mei, Miri, Malaysia.

Untuk keenam kalinya, salah satu festival jazz internasional terakbar di kawasan Asia Tenggara ini terlaksana. Pun, pertama kalinya acara ini digelar selama empat hari berturut-turut dengan berbagai program berbeda tiap harinya. Festival ini lebih dahulu dikenal sebagai Miri International Jazz Festival, dan mulai tahun ini namanya beralih Borneo Jazz. Seperti tahun-tahun lampau, lokasinya berada di kawasan ParkCity Everly Hotel di sebuah kota bernama Miri. Kota ini terletak di pesisir pantai, sebelah utara Pulau Kalimantan (negara bagian Sarawak) dan berdekatan dengan Brunei Darussalam. Menu utama Borneo Jazz adalah konser selama dua hari dan acara pembuka malam hari sebelumnya serta Sunday Matinee (pertunjukan siang hari) sebagai penutup. Pagelaran ini terselenggara oleh Sarawak Tourism Board. Bentuk kepedulian terhadap ibu pertiwi dinyatakan lewat penanaman 100 bibit pohon Meranti yang berlangsung di Curtin University sebagai bagian dari “Festival Greening Project.”

Pemanasan

Seperti tertulis pada jadwal acara, Borneo Jazz dibuka oleh pertunjukan dari gitaris eklektik Dhruv Ghanekar. Asalnya dari India, malam itu ia tampil beserta basis Sheldon d’Silva juga penggebuk drum Gino Banks. Musiknya beraroma jazz-rock-fusion, dengan sentuhan elemen musik India di dalamnya, kentara sekali waktu Gino merepet bergaya konnakol (seni vokal perkusif khas musik karnatik India) sembari bermain drum. Aksinya itu disambut betotan bas dahsyat oleh Sheldon yang memanaskan suasana Marina Bay Seafood Restaurant, tempat acara berlangsung. Penampil lainnya adalah band lokal CQuence yang menyajikan lagu-lagu berirama jazz latin dan Afro-Cuban.

Pada hari kedua, kira-kira dua jam sebelum konser pukul tujuh malam, panitia Borneo Jazz memanjakan pihak media dengan acara santai cocktail reception. Menggunakan bis, kami diantar menuju Miri Marriott Resort and Spa yang letaknya berdekatan dengan ParkCity Everly Hotel. Sesampainya di sana, sambutan hangat diberikan oleh sang General Manager, Marcel Hinderer. Suguhan berupa aneka makanan laut dan minuman segar boleh pula dinikmati, sembari merasakan indahnya mentari terbenam di pesisir pantai Laut Cina Selatan. Setelah berkenalan dan ramah-tamah, kami kembali menuju venue utama guna menyaksikan pertunjukan inti Borneo Jazz 2011.

Cocktail Reception sebelum konser
Cocktail Reception sebelum konser

Hari Kedua: Fusion Oriental, Irama Sensual Brasilia, Blues Akustik Murni, dan Jazz Gypsy Virtuosik

Selepas jam tujuh malam waktu setempat, konserpun dimulai. Penampil nomor wahid adalah grup asal Hong Kong, SIU 2 yang dimotori oleh Ng Cheuk-Yin (shēng, organ), Jason Lau (gǔzhēng), Cass Lam (sanxian), Peter Fan (piano), Liang Chun Wai (bas elektrik), dan Melchior Sarreal (drum). Enam musisi muda tersebut menyajikan musik yang merefleksikan geliat bunyi Hong Kong saat ini; barat-timur, tradisional-modern, elektrik-akustik, gaduh-sunyi, semua itu nampak pada olah sound khas SIU 2 lewat balutan jazz, rock progresif, klasik, hingga tradisional Cina. Respons audiens terlihat positif ketika nomor “Moonlight Sonata,” “Lazy Days,” “Kon-Fusion,” juga “Goodbye Waltz” dibawakan.

SIU 2 - Borneo Jazz 2011
SIU 2 - Borneo Jazz 2011
Ng Cheuk Yin (SIU 2) memainkan instrumen shēng
Ng Cheuk Yin (SIU 2) memainkan instrumen shēng

Jeda pergantian musisi yang tampil di panggung Borneo Jazz diisi dengan aksi seorang DJ berusia lebih dari setengah abad, Kate Welshman alias “Dr. Systa BB.” Ia dengan cekatan mengutak-utik piranti elektroniknya untuk menghibur penonton lewat beat-beat energik. Usia tak jadi soal buatnya, tercermin dari olahan musik yang sangat jauh dari kesan tua.

DJ Kate Welshman a.k.a Systa BB - Borneo Jazz 2011
DJ Kate Welshman a.k.a Systa BB - Borneo Jazz 2011
DJ Kate Welshman a.k.a Systa BB - Borneo Jazz 2011 (02)
DJ Kate Welshman a.k.a Systa BB - Borneo Jazz 2011 (02)

Lagu “Fim de semana em El Dorado” menggiring audiens kembali ke depan panggung, kali ini disajikan oleh Cunha & Piper, kehangatan khas Brasilia terasa lewat vokal Fernanda Cunha serta iringan gitar Ray Piper. Denyut bossa nova hingga samba mengalun dalam nomor-nomor “Girl From Ipanema,” “Triste,” serta lagu penutup “Chega de Saudade.”

Fernanda Cunha (Cunha e Piper) - Borneo Jazz 2011
Fernanda Cunha (Cunha e Piper) - Borneo Jazz 2011

Penampil berikutnya boleh disebut sebagai legenda blues masa kini; tampil seorang diri, John Hammond memukau dengan vokal, gitar, dan harmonika yang ia mainkan sekaligus! John adalah seorang bluesman veteran yang karismatik. Segala bunyi yang tersuar darinya adalah suara hati, jujur dan langsung mengena baik secara akal dan rasa. Malam itu ia menyanyikan “I Can’t Get Satisfied,” “Who Do You Love,” “Drop Down Mama,” serta “Rambling on My Mind” milik Robert Johnson. Ia memainkan seluruh lagu secara akustik dan menambah kesan vintage, namun sayang di beberapa titik nampak sistem tata suara yang bermasalah, terlalu kencang dan menusuk di telinga.

John Hammond - Borneo Jazz 2011
John Hammond - Borneo Jazz 2011
Ramai Penonton Borneo Jazz 2011
Ramai Penonton Borneo Jazz 2011

Dari bebunyian khas Amerika Serikat, selanjutnya adalah Perancis, grup bernama Les Doigts de l’Homme. Beranggotakan Olivier Kikteff (gitar, vokal), Yannick Alcocer (gitar), Benoît Convert (gitar), dan Tanguy Blum (kontrabas), kelompok ini mengolah apa yang disebut gypsy jazz dahulu menjadi trademark gitaris Django Reinhardt. Alih-alih menjadi copycat belaka, mereka membawa gypsy jazz ke tingkat yang berbeda dengan menyertakan humor, satir, juga versatilitas permainan yang mengagumkan. Tema unik terlihat dari judul komposisi yang dibawakan semisal “Indifférence,” “Appel Indirect,” “Zinedine Tzigane,” dan “Camping sauvage à Auschwitz.” Penampilan mereka menutup hari kedua Borneo Jazz.

Les Doigts De l'Homme - Borneo Jazz 2011
Les Doigts De l'Homme - Borneo Jazz 2011

Hari Ketiga: Afro-Cuban, Fusion Oktan Tinggi, Jazz Elektronika, dan (Lagi-lagi) Blues!

Memasuki epidsode ketiga Borneo Jazz 2011, program di hari itu terbilang padat; menjelang santap siang, tiba saat untuk sesi Tanya jawab dengan para musisi yang tampil malam sebelumnya. Konferensi pers digelar dan personil Les Doigts de l’Homme, John Hammond, Cunha & Piper, serta SIU 2 mengutarakan pemikiran musik mereka dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Acara berlanjut dengan “Musical Meeting” yang merupakan sebuah jam session pada pukul 12 siang dan 3 sore. Setelah itu, barulah konser utama kembali digelar di jam yang sama seperti malam lalu.

Sebagai pengawal pertunjukan adalah Victor Yong and The Electric Carnival Band yang berasal dari Malaysia dan Kanada. Sang gitaris dan leader grup ini, Victor Yong, adalah orang Miri yang bermukim di Kanada. Jadi seperti sebuah konser pulang kampung baginya. Tampil di kota tempat ia berasal, Victor mengusung musik berirama jazz latin dan Afro-Cuban, lengkap dengan set perkusi yang diperagakan secara atraktif oleh Nick Apivor. Penonton pun menyambut dengan bergoyang ikuti irama.

Victor Yong and The Electric Carnival Band - Borneo Jazz 2011
Victor Yong and The Electric Carnival Band - Borneo Jazz 2011

Meskipun baru saja tertimpa musibah gempa dan tsunami, namun Jepang tetap tegar, fokus kepada apa yang akan dilakukan selanjutnya tanpa harus terjebak di masa lalu. Sebuah semangat yang menginspirasi penghuni bumi lainnya untuk selalu tangguh dalam kondisi apapun. Semangat itu pula yang memberikan energi supaya bangkit dari keterpurukan, setidaknya itu yang tercermin dari performa empat musisi muda Jepang yang berpadu dalam Yuichiro Tokuda’s  Ralyzz Dig.

Yuichiro Tokuda's Ralyzz Dig - Borneo Jazz 2011
Yuichiro Tokuda's Ralyzz Dig - Borneo Jazz 2011

Band ini dibentuk oleh sang saksofonis alto, Yuichiro Tokuda yang telah merilis empat album. Mereka langsung menggebrak dengan deru fusion yang dimainkan cermat dan energik. Selain menyajikan komposisi orisinil seperti “Home,” “Imagination,” dan “Nothing There,” Yuichiro pun menyanyikan lagu berbahasa Jepang berjudul “Brunei” yang langsung disambut oleh teriakan audiens, terutama kaum hawa. Aksi solo sarat skill teknis turut disertakan Yuichiro dan berhasil membakar semangat hadirin untuk tetap di depan panggung hingga nomor terakhir.

Yuichiro Tokuda - Borneo Jazz 2011
Yuichiro Tokuda - Borneo Jazz 2011

Bagi para pecinta nu-jazz, aksi berikutnya pastilah sangat dinanti. Grup asal Belanda, State Of Monc, siap menjamu penggemarnya lewat sound jazz tradisional trumpet-saksofon yang melebur dengan perirana elektronika. Ansambel bentukan Arthur Flink (trumpet) dan Hielke Praagman (elektronik) ini berhasil membuat suasana makin meriah. Ditambah dukungan Ben van den Dungen (saksofon sopran), Robin Koerts (bas elektrik), juga Tuur Moens (drum), Kelimanya tampil solid serta menyalakan sensor gerak audiens sinkron dengan dentuman beat lewat komposisi “Non Stop Faster,” “Soyuz One,” “Urbi et Orbi,” dan “Clippertron.”

State Of Monc - Borneo Jazz 2011
State Of Monc - Borneo Jazz 2011

Penonton yang berjumlah 5000-an orang malam itu tampak larut dalam suasana kemeriahan Borneo Jazz, dan menginginkan kejutan lain. Akhirnya muncul juga penyanyi veteran Maria Muldaur, dikenal lewat tembang “Midnight at the Oasis” tahun 1974, yang pernah dibawakan kembali oleh band acid jazz Brand New Heavies (1994) serta Renee Olstead (2004). Maria tampil ekspresif menyanyikan lagu-lagu berirama swing, blues, gospel, r&b, dan boogie-woogie. Di antaranya “Fever,” “Please Send Me Someone to Love,” “Don’t You Feel My Leg,” dan pastinya “Midnight at the Oasis.” Bersama band yang pemain kontrabas dan saksofon tenornya adalah wanita, Maria Muldaur mengemas penampilannya lewat nomor “Wang Dang Doodle” milik Willie Dixon yang ditulisnya untuk Howlin’ Wolf. Rasanya seperti berada di festival blues ketimbang jazz.

Maria Muldaur - Borneo Jazz 2011
Maria Muldaur - Borneo Jazz 2011
Audiens - Borneo Jazz 2011
Audiens - Borneo Jazz 2011

Lagu tersebut sekaligus mengajak seluruh penampil Borneo Jazz untuk naik ke atas panggung. Tampak John Hammond bertandem dengan Maria dan para musisi turut ambil bagian dalam finale. Kemudian gitaris Dhruv Ghanekar mengambil alih serta drummer Gino Banks mulai melancarakan aksi konnakol dibantu basis Sheldon d’Silva. Panggung pun menjadi penuh, music terdengar bising dan terlihat kurang terkoordinasi. Berlangsung sekitar lima belas menit, akhirnya pertunjukan benar-benar usai, kini giliran DJ Kate Welshman memberikan sentuhan terakhirnya. Bagaimanapun, sepertinya semua pihak boleh lega dan bergembira karena acara berlangsung seru dan meriah.

Finale - Borneo Jazz 2011
Finale - Borneo Jazz 2011

Penutup: Denyut Bossa dan Samba oleh Cunha & Piper

Di hari terakhir, sebuah penampilan yang menandakan akhir pertunjukan Borneo Jazz diberikan oleh Cunha & Piper di Eastwood Valley Golf Club sekitar pukul satu siang. Mereka tampak lebih nyaman bermain pada suasana seperti itu dibandingkan dua malam sebelumnya yang terasa kurang greget. Dengan berakhirnya lagu dari Cunha & Piper, usai sudah rangkaian acara Borneo Jazz 2011. Semoga di tahun berikutnya festival ini akan lebih baik lagi dan aktif berperan memajukan geliat jazz khususnya di kawasan Asia Tenggara. Selamat buat panitia yang telah bekerja keras menyukseskan acara ini. Cheers!

Thomas Y. Anggoro

Lulusan ISI Yogyakarta. Telah meliput festival di berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia.

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker