News

Cool Jazz = Jazz “Dingin”

Suasana Jazz Gunung 2011, Karmat Percussion & Tohpati Ethnomission (photo by Ajie Wartono)

Mendengarkan musik di mobil?, selalu kita lakukan setiap hari ketika berangkat ke kantor, mendengarkan musik di kamar sambil belajar? adalah kebiasaan kita ketika masih menjadi pelajar – mahasiswa, bahkan akhir-akhir ini tidak jarang kita berolah-raga: lari, bersepada juga dilakukan dengan mendengarkan musik lewat bantuan ear-phone, tapi jika kita mendengarkan musik apalagi jazz di atas ketinggian 2000 dpl (diatas permukaan laut) dan dengan suhu rata-rata 10 – 8 derajat celcius adalah sesuatu yang “nyeleneh”.

Gunung Bromo Probolinggo Jawa Timur yang terpilih untuk menemani kita mendengarkan permainan musik jazz: Tohpati Ethnomission, Glen Fredly, Kua Etnika bersama  Trie Utami dan Maya Hasan. Urutan acara demi acara menjadi lebih hidup ketika dipandu dengan kocak oleh pembawa acara bersaudara: Butet Kartaradjasa dan Jaduk Ferianto, suatu hal yang tidak biasa dalam pertunjukan musik Jazz.

Pagi sampai siang hari dan seperti juga pagi dan siang-siang hari sebelumnya yang terdengar sampai gendang telinga di Java Banana Lodge, desa Wonotoro, Sukapura Probolinggo adalah suara desiran angin yang bersentuhan dengan pucuk-pucuk pepohonan, tapi lewat siang hari itu – Sabtu 9 Juli 2011 ketika acara dimulai, bercampurlah suasana pegunungan yang sehari-hari tenang dengan gempitanya Reog Jathilan. Terbukti sudah bahwa irama dan alunan alat musik apapun bisa tercipta di mana saja bahkan sampai di sebuah pegunungan dan menghasilkan komposisi – indah.

Dilanjutkan dengan tampilan Kolaborasi Gamelan Perkusi yang berasal dari masyarakat Osing – Probolinggo. Kuatnya alat musik tabuh (kendang) dan gamelan menjadikan siang yang mulai dingin menjadi hangat.

Sajian musik etnik dilanjutkan dengan penampilan teman2 dari madura yang bergabung dengan nama Perkusi Kramat Madura. Berbaju seragam putih dengan selendang batik madura serta “udeng” (penutup kepala) menyala warna merah dan tentu saja berbahasa madura. Tidak disangka dengan alat yang sederhana (mengingatkan kita waktu kecil di kala bulan puasa, rame-rame membangunkan sahur dengan istilah “patrol”) bisa membuat terkagum-kagum sekitar 500-an penonton.

Suasana berubah dari nuansa sehari-hari budaya Tengger yang tradisional etnik menjadi pop etnik dengan hadirnya (Kolaborasi  Gamelan Perkusi dan Perkusi Kramat Madura) ke modern etnik dalam arti universal ketika Tohpati Ethnomission naik ke panggung. Tetap di selingi semilir angin dan dingin gunung, serta bebauan khas alam terbuka, komposisi yang dimainkan juga tercipta – indah.

Suhu udara semakin menurun dalam hitungan derajat Celcius-nya, dibuktikan dengan sudah tidak bisa lagi suhu tubuh berkompromi dengan suhu alam luar tanpa bantuan baju hangat. Sehangat hentakan irama musik jazz yang dimainkan Tohpati. Seakan suhu udara sudah tidak bisa mengusik dingin tubuh ini. Suara petikan sang gitaris seakan menjadi satu dengan udara yang naik ke atas dan mengarah ke segala arah membelah angkasa seperti asap rokok yang dihisap oleh sebagian besar penduduk desa Wonotoro baik laki-laki, perempuan, dewasa dan anak-anak yang malam itu menonton di balik pagar.

Menonton Tohpati di JICC Jakarta atau di gedung pertunjukan manapun secara teknis permainan gitar ya akan sama saja, karena memang dia mempunyai keahlian yang prima. Tetapi hari itu kita menonton di gunung Bromo bukan di gedung yang kaku oleh beton, tidak ada uraian kata yang cukup untuk menggambarkannya. Meskipun kita tau suhu udara yang dingin tentu mempengaruhi kelenturan tangan tetapi Tohpati dan teman-teman (Indro Hardjodikoro – bass, Echa Soemantri –  drum, Diki Suwarjiki – seruling dan Endang Ramdhan – kendang) tetap bermain maksimal tanpa ada cacat yang berarti. Lagu ‘Janger’ dan beberapa lagu dari album “Save the Planet”: ‘Let the bird Sing’, ‘Perang Tanding’ dan sebagai lagu penutup ‘Bedaya Ketawang’ cukup memberikan rasa puas penonton yang penulis yakin sudah mulai kedinginan.

Kua Etnika menjadi penampil selanjutnya dengan penyanyi Trie Utama yang malam itu membuka pertunjukannya dengan lagu lama ‘Sinden’. Tanpa canggung  Trie Utami bernyanyi sambil menari mengikuti alunan nada yang di keluarkan oleh “kesebelasan” pemain Kua Etnika. Kemudian berturut-turut 5 lagu dibawakan grup musik pimpinan Djaduk Ferianto. Pada komposisi ‘Rising Sun’ tampil bintang tamu yang sangat istimewa (karena alat musik dan permainannya) Maya Hasan, yang bersusah-susah mengangkat Harpa berwarna merah. Ditimpali dengan cahaya obor menjadikan malam itu benar-benar menakjubkan baik dari segi musikalitas maupun seni pertunjukannya.

Memasuki malam hari dengan suhu rata-rata 8 derajat celcius baju hangat dan penutup kepala seakan-akan tidak mampu menahan udara dingin yang ingin bersentuhan dengan seluruh permukaan tubuh kita, tampillah seorang penyanyi jazz idaman wanita: Glen Fredly. Saat itulah suasana menikmati irama musik jazz di tengah-tengah udara dingin gunung Bromo benar-benar bisa dinikmati. Sebagai lagu pembuka yang dipilih Glen adalah ‘Kala Cinta Menggoda’ yang pernah di populerkan (alm) Chrisye. Untuk mengingatkan penonton pada Ambon yang baru saja di guncang gempa, rupanya Glen ingin mempersembahkan lagu dari daerah asalnya: ‘Ale Rasa Beta Rasa’ dan ‘Rasa Sayange’. Sebagai lagu penutup Kisah Romantis dan ‘You are my Everything’ cukup membuat pertunjukan malam itu menjadi romantis sekali. Di tengah – tengah pertunjukkannya, tidak lupa Glenn mengajak penonton berdoa bersama kesembuhan penyanyi jazzy kondang Indonesia Utha Likumahuwa yang saat ini sedang terkena serangan stroke, termasuk dengan menyanyikan lagi hits Utha yang terkenal, ‘Esok Kan Masih Ada’.

Satu hal yang menjadi catatan penulis bahwa ditengah maraknya industri musik yang takluk pada selera pasar dengan kualitas musikalitas yang “seadanya” masih ada seorang bapak Sigit Pramono yang berani membuat pagelaran nyeleneh tersebut, yang tahun ini memasuki tahun yang ketiga. Para penonton-pun termasuk orang-orang yang “nyeleneh” juga, karena harus jauh-jauh datang menuju gunung Bromo (dari Surabaya 130 km, dari Malang 120 km, dari Probolinggo 35 km, bahkan ada beberapa yang dari Jogjakarta, Bandung, Jakarta) ditambah pula dengan udara dingin yang menusuk kulit. Tetapi seperti tertulis diawal, bahwa mendengarkan musik jazz di atas gunung adalah suatu pengalaman yang “nyeleneh” dan akan menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan hidup ini.

Selamat datang lagi di Jazz Gunung 2012, insyaAllah.

 

 

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker