News

Akrab dengan simakDialog @america

Jam tujuh malam tergolong masih sore untuk suatu konser di akhir pekan Jakarta. Artinya harus lumayan berjuang untuk menembus kemacetan hari Jumat, mungkin dengan ojek atau busway kalau mepet berangkatnya. Namun, demi mengakrabi musik-musik simakDialog rasanya semua itu terbayar. Terlebih, bagi yang telah lama ikuti perjalanan grup ini, mereka ada di tahap paling mapan dari evolusi mainkan jazz, yaitu punya suara sendiri di jalur kontemporer. Identitas unik yang sekarang lekat adalah kendang etnik (Sunda) dan kini Endang Ramdan tak sendiri; ada Erlan Suwardana (kendang Sunda) dan Cucu Kurnia (metal toys). Semakin hari, senyawa perkusi ini semakin rampak bermain secara bersama maupun dengan aksen pukulan yang rapat saling komplemen satu sama lain. Dalam perjalanannya sempat hadir pula kendang Makassar (dimainkan Emy Tata). Akan tetapi, kehadiran alat-alat tradisi tersebut adalah dalam lebur Timur dan Barat yang baru, secara melodi misalnya tidak ada nada pentatonik Pelog masuk ke dalamnya.

simakDialog dalam foto wajib khas penampilan di @america
simakDialog dalam foto wajib khas penampilan di @america

Bahwa tidak digunakannya, misal, tuning kibor mikrotonal untuk tangga nada Sunda ditegaskan Riza Arshad (Ija) yang pegang mik dalam sesi tanya jawab. Jazz @america memang khas dipentaskan dengan selingan diskusi dan malam itu (07/10/’11) giliran panel diisi grup yang namanya bisa disalahartikan sebagai judul acara seminar. Kelompok yang didirikan bersama pemain drum Arie Ayunir itu sekarang mencoba mengangkat kendang agar setara sohornya tabla, conga, atau bahkan drum itu sendiri, yang di Indonesia jaman dulu pun bukanlah drum, melainkan disebut beduk inggris, begitu Ija menerangkan setengah bercanda. Ada banyak kelompok musik lain yang mencoba mengangkat nama kendang, termasuk grup rock salah satu personil, Cucu, yang terlihat bersila dikelilingi kecrek, kethuk, ceng-ceng, dan kick drum. Suasana memang cair, hingga ketika disebut bahwa grup Cucu tersebut berhenti karena kehabisan duit, ironi itu tak berkesan menyinggung siapa-siapa.

Nomer signature sejak masa berformasi drum “One Has to Be” adalah salah satu kesempatan terbaik untuk menikmati evolusi simakDialog yang makin kaya menjelajah pengalaman batin berkat kalemnya intensitas kendang, minus terangnya pecah simbal yang berganti halus kecrek. Adhitya Pratama pun meletakkan telapat tangannya, menahan bunyi bass (muting) yang dipetik dengan jempol, menapaki klimaks dengan ulet saat “All in A Day” dibawakan dengan ruang yang cukup bagi improvisasi duet kendang.

simakDialog @america
simakDialog dalam pentas akrab @america

Ritme cak cuk, irama pasangan gitar kecil atau yang khas didengar dari selo yang dipetik (pizzicato) dalam musik keroncong, mengalir telaten dari duet kendang saat “Unfaded Hopes” yang didedikasikan untuk kakak Ija dimainkan. Agak haru ia memperkenalkan nomer ini sebagai pengingat harapan, bahwa bersama kakaknya, Luke, ia sempat membuat label rekaman hingga bangkrut saat di Amerika. Kalau kita ingat label independen itu adalah Ragadi Music yang ikut merilis album awal simakDialog, “Lukisan” dan “Baur”. Di akhir pertunjukkan Tohpati sedikit mempraktekkan ritme yang sama saat “Throwing Words” dimainkan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker