News

Lintas Generasi Seru DjakSphere: Endah N Rhesa – Margie Segers

Sengat instan yang tak mungkin kita lolos darinya! Blok pendek milik advokat funk kulit putih Red Hot Chili Peppers (RHCP), “Around The World“, ternyata cukup pedas dibunyikan gitar dan bass belaka. Sepotong pun memadai karena bagian itu adalah tribute sisipan untuk “I Don’t Remember” nomer hip milik mereka sendiri. Endah Widiastuti memang suka John Frusciante, sementara Rhesa Aditya menggemari Flea-nya RHCP. Acuan luas menjadikan duet Endah N Rhesa punya spektrum penggemar yang lebar yang ingin penyegaran atas selera monoton yang ditawarkan industri. Dengan pondasi lagu folk (utamanya Amerika), suara-suara yang dipopulerkan Norah Jones kini atau generasi Joni Mitchel dan Elvis Costello jadi punya ruh jazz berkat profil kedua pasangan suami-istri ini. Pasutri ini pernah didapuk Java Jazz Festival dalam tema “Husbands and Wifes” berbagi panggung dengan Otti Jamalus dan Yance Manusama. Bicara pasangan jazz lagi, di garis waktu ada Carla Bley dan Steve Swallow (piano-bass) yang interplay-nya di atas panggung menyiratkan romansa suami-istri.

Endah N Rhesa berkonnakol
Endah N Rhesa ber-konnakol kompak di intro lagu

Lagu-lagu duet yang cocok jadi soundtrack kehidupan berlanjut dengan kejutan intro kompak keduanya ber-konnakol dalam silabel-silabel perkusif pukulan tabla India yang ternyata membuka “Tuimbe (Let’s Sing)“. Kentalnya pola permainan kalimba (kotak berbilah-bilah simetris yang dimainkan dengan jempol; piano jempol Sahara yang kini juga jadi suvenir Malioboro) yang ditransfer jadi lagu bergitar bawa warna-warni Afrika, semakin hidup dengan selipan “Yamko Rambe Yamko“, memanggil dari Papua.

Margie Segers dan Nanda untuk imbangi duet
Margie Segers dan Nanda untuk imbangi duet

“Membagi pengalaman bisa lewat kuliah, bertukar catatan. Musisi caranya dengan main bareng. Musik bisa jadi sarana komunikasi untuk ungkapkan kemarahan, cinta,” Endah lalu memanggil Margie Segers setelah sebelumnya gitaris Achmad Ananda (Nanda) muncul dari sisi kanan panggung. Inilah sesi bagi pengalaman lintas generasi yang konsisten jadi paten Djakarta Artmosphere (DjakSphere). Terpaut jauh dari sisi usia, Margie tak kalah hidup lewat “Enggo Lari“, segera saja cerah pantai Maluku muncul di benak (atau malah Trinidad di Karibia?). Nanda beratraksi dalam kilat flamenco yang mengundang interaksi penonton.

Lintas generasi seru DjakSphere 2011

Margie lalu mengingat mendiang Jack Lesmana dengan meluncurkan “Semua Bisa Bilang”, nomer band kombo yang malam itu (22/10/’11) dipentaskan dalam format kompak. Tampil akustik tak lengkap tanpa saling-menimpali solo, pasnya adalah delta blues “Give Me One Reason“, dan Margie adalah penutur cerita yang paling tepat untuk itu.

***

DjakSphere 2011 adalah suksesi dari dua tahun penyelenggaraan sebelumnya. Kini terdapat panggung outdoor, konsep berjudul Joyland, yang menjadikan suasana festival lebih terasa. Layaknya festival, durasi penuh tiap-tiap penampil untuk dapat membawakan setlist lengkap, membangun cerita lewat repertoar, layak jadi tujuan datang. Khusus tahun ini beberapa legenda unik naik di panggung kolaborasi, yaitu Keenan Nasution (dengan Sarasvati), Yockie Suryo Prayogo (dengan Pure Saturday), dan Koes Plus (dengan The Brandals).

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker