NewsReview

Tineke Postma – The Dawn of Light

Album: The Dawn of Light
Label: Challenge Records, 2011

01. Canção de Amor (Suite I Na Floresta Do Amazonas)
02. Falling Scales
03. Before the Snow
04. Leave Me a Place Underground
05. The Observer
06. Off Minor
07. Newland
08. The Man Who Stared at Coats
09. Beyond Category
10. Tell It Like It Is

Tineke Postma - The Dawn of Light
Tineke Postma - The Dawn of Light

Dalam kancah jazz negeri Belanda, saksofonis/komposer Tineke Postma merupakan salah satu musisi terdepan. Di antara segelintir instrumentalis jazz wanita, Tineke mencuat dengan permainan saksofon idiosinkratik, pula kelihaian olah komposisi sarat kekinian namun tetap dapat diakses oleh pendengarnya. Di album The Dawn of Light ini, ia menceritakan pengalaman hidup lewat sejumlah gubahan orisinil yang penuh makna.

Tentang garapan mutakhir tersebut, Tineke berujar, “Saya kerap berupaya menulis musik yang memberi segala ruang untuk kami berempat berekspresi. Gubahan saya lebih kepada sketsa ketimbang lagu, sebagai penanda sebuah awal perjalanan musikal setiap kami mulai bermain. Di dalamnya begitu majemuk, sebab saya menyukai gaya apapun,” tandasnya.

Dahsyatnya hembusan saksofon alto dan sopran Tineke didukung oleh rekan musisi Marc van Roon, Frans van der Hoeven, serta Martijn Vink. Awal perjumpaan adalah “Canção de Amor” kepunyaan Heitor Villa-Lobos, komponis Brasil pujaan Tineke. Melodi indahnya seakan melayang-layang, dimainkan secara ad libitum. Goresan sketsa khas Tineke tertuang dalam pendaran komposisi “Falling Scales” dan “The Observer” yang virtuosik.

Serunya album ini makin terasa berkat penampilan spesial Esperanza Spalding, simak vokalnya yang merdu bersinergi dengan iringan Tineke dan kawan-kawan dalam “Leave Me a Place Underground,” sebuah tafsiran hardbop impresionistik atas puisi Pablo Neruda. Untuk pertama kalinya, Tineke merekam cover atas karya Thelonious Monk dalam sebuah album. Upaya itu boleh disimak pada “Off Minor” yang sangat khas Thelonious; harmoni disonan, ritme bersiku tajam, pun goyangan bebop sebagai bingkainya. Dibawakan secara duet piano-saksofon, interaksi keduanya sangat komprehensif.

Di trek lain, “The Man Who Stared at Coats,” sentuhannya lebih kepada tradisi swing, makin cantik dengan selipan synthesizer Marc, sedangkan “Newland” menampilkan kesan elusif, seolah berada di negeri antah berantah. Birama ganjil (odd meter) fluktuatif meliputi nomor “Beyond Category” yang sarat bebunyian elektronik, silakan untuk menyebutnya avant-funk.

Tiupan liris dapat disimak ketika memutar “Before the Snow” dalam sejuknya nuansa ballad. Terasa pula di trek penutup “Tell It Like It Is,” nikmati untaian nada-nada indahnya yang personal dan begitu membekas dari srikandi jazz modern ini.

Musisi

Tineke Postma: saksofon alto & sopran
Marc van Roon: piano, synthesizer, Fender Rhodes
Frans van der Hoeven: kontrabas
Martijn Vink: drum

Esperanza Spalding: vokal (trek 4)

Tags

Thomas Y. Anggoro

Lulusan ISI Yogyakarta. Telah meliput festival di berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker