JazzTrafficNews

Bagian dari Geliat Post-Bop di Negeri Kita: Sandy Winarta Quartet

Secara umum, jazz dirasa semakin populer di sebagian masyarakat kita semenjak 30 tahun lalu dengan hadirnya berbagai kelompok atau pun event jazz baik yang berskala lokal, nasional dan internasional. Bukannya mencari masalah polemik mana yang bisa disebut jazz atau bukan, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa mayoritas group, sekaligus kuantitas pendengarnya, adalah style fusion dan segala derivasinya di era kekinian.Sementara sejak 30 tahun lalu pula, ada semacam gelombang revitalisasi swing, bebop dan hardbop dengan kemasan yang lebih modern. Para kawula mudalah yang memainkan peran menonjol dari trend ini.

Di Indonesia sendiri, baru akhir-akhir ini sedikit demi sedikit bermunculan beberapa group yang perhatian terhadap style post-bop. Beberapa pengamat lain menyebut neo-bop dan neo-klasik. Para wiyogo-nya juga kebanyakan anak-anak muda. Paling tidak penulis mengingat ada beberapa nama atau group dengan style ini seperti Nial Djuliarso, LLW, W/H/A/T, Bandanaira, Taokombo, Shadow Puppet atau Sarimanouk dan mungkin masih ada banyak kelompok yang lain.

Paling tidak, dalam kesempatan Jazz Traffic di Grand City Surabaya (27/11) penulis sempat menikmati Sandy Winarta Quartet. Group yang sedang berkeinginan untuk membuat album sendiri ini didukung oleh para pemain andalan saat ini, seperti Sandy Winarta (drum),  Andy Gomez Setiawan (piano), Donny Sundjoyo (kontra bass) dan Robert Mulyarahardja (gitar).

Ide dasarnya adalah menampilkan beberapa komposisi yang tercantum dalam kitab realbook. Seperti karya Herbie Hancock ‘Maiden Voyage’, ‘I Love You’, ‘Blues in F’, dan ‘Have You Met Miss Jones’.  Dalam kesempatan tersebut, mereka bereksplorasi dengan bahasa variasi ritmik standard, kombinasi time signaturenya dan polyrhythm hampir dalam setiap lininya.

Di samping masing-masing pemain diberi kesempatan untuk bersolo improvisasi, justru Sandy tidak secara eksplisit mengambil jatah waktu sekian bar untuk bersolo drum. Meski demikian, sebenarnya dalam setiap saat kalau diperhatikan Sandy memperlihatkan kemampuannya dalam memberikan aksen ritmik yang komplek. Justru mungkin lebih sulit jika dibandingkan dengan solo drum. Dalam interviewnya Sandy mengungkapkan, “Saya bukan tipe drummer solois, seolah saya lebih senang menari dan bernyanyi dalam waktu yang bersamaan”. Jadi teringat kata Wayne Shorter tentang Weather Report, “Kami tidak pernah solo (improvisasi), sebaliknya kami selalu bersolo”.

Tentu hal ini menjadi barangkali sudah menjadi kesepakatan mereka untuk tampil modern seperti itu. Artinya masing-masing personil sudah mempunyai bekal yang mencukupi untuk “berbicara” dalam bahasa yang sama. Katakanlah Donny juga mempunyai suatu solusi tersendiri dalam mendampingi drummernya yang memainkan ritme berlapis itu.  Mungkin karena Donny sendiri sudah terbiasa mendengarkan Charles Mingus sebagai bassis idolanya sehingga tidak terkaget-kaget dengan berbagai kelenturan ritmis yang dimainkan Sandy.  Bahkan tidak jarang tampil dengan lebih melodius seolah bersaing dengan posisi gitar.

Robert tampil dengan efisien. Dia adalah salah satu gitaris laris dari Jakarta yang juga gandrung terhadap style musik jazz dengan akar swing dan kombinasi dengan variasi lick-lick modern.  Demikian juga dengan Andy yang malah mengaku sebagai fans berat dari Oscar Peterson dan Eldar Djangirov.

Bagi penulis sendiri sangat senang dengan kehadiran kelompok-kelompok seperti ini. Mengingat bisa menjadi pelengkap dan memperkaya pilihan para pecinta musik jazz di Indonesia yang memang semakin beragam. Mereka semua adalah generasi penerus apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu. Semoga saja om Jack Lesmana atau om Maryono bisa tersenyum lega di alam barzah sana.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker