News

“Glimpses,” Kilasan Cerita Hidup Seorang Mery Kasiman

“Glimpses,” Kilasan Cerita Hidup Seorang Mery Kasiman

Laporan konser Mery Kasiman Project, Glimpses, Teater Salihara Jakarta

Sebuah konser bertajuk Mery Kasiman’s Project: Glimpses digelar Minggu malam lalu, 22 April 2012 tepat pukul delapan di Teater Salihara Jakarta. Bernuansa jazz eropa yang kental dengan gaya komposisi Amina Figarova, berformat trio akustik piano-kontrabas-drum, tidak ketinggalan lapis tambahan woodwind dengan instrumen flute, oboe, klarinet, dan bassoon turut memaniskan pagelaran malam itu.

Foto: Witjak W. Cahya-Salihara

“Glimpses,” salah satu nomor yang dimainkan merangkum keseluruhan proyek Mery kali ini, kata glimpses yang bermakna kilasan diartikan secara lebih spesifik oleh Mery sebagai “kilasan-kilasan tentang hidup sesederhana  hujan, kunang-kunang, momen penting, kemungkinan-kemungkinan, perasaan biru… segala sesuatu yang selalu terjadi dalam hidup setiap manusia,” sehingga menjelaskan mengapa audiens sangat familier dengan musiknya yang jauh dari penyederhanaan “easy listening” tersebut.

Pertunjukan dibuka oleh komposisi “Growth Spurt” lewat hentakan-hentakan fantastis, acuan jazz eropa dengan melodi dan ritme tertulis tetapi dihidupkan oleh imajinasi setiap pemain sehingga alur musiknya yang pasti memuat pelbagai kemungkinan akan improvisasi.

Sentuhan lembut dan tempo lambat pada piano mengawali “Something Blue” paduan bunyi barisan tiup kayu pun menyambut manis dengan oboe sebagai melodi utama, boleh dikata terasa Ellingtonian! Ketika suara-suara lain turut berpartisipasi saya telah sangat terbius dengan racun biru perasaan, satu nomor manis telah berlalu dan merasa enggan untuk beranjak.

Berikut adalah nomor “Possibilities” yang sneaky, cabikan kontrabas Indra Perkasa seperti langkah kaki mengendap – endap, begitulah kemungkinan, tidak terkira dan tak dapat dipastikan. “Fireflies” didedikasikan oleh Mery untuk sebuah persahabatan yang representatif dengan pola ritme hitungan enam, dimana piano memainkan pola akor dan ritme yang sama, terus menerus, secara ostinatik. Tentu saja pemain lain harus lebih lincah dalam memainkan melodi. Dony Koeswinarno (flute) dan Eugen Bounty (klarinet) gilang gemilang dalam pencapaian-pencapaian transendental. Komposisi ini berakhir dengan akor dan ritme yang tidak berubah, seperti persahabatan yang terus diwarnai perubahan pada luarnya tetapi di dalam tetaplah sama.

Gubahan “Nov.8th“  dan “When it Rains” menghantar hadirin pada akhir jumpa yang mengesankan, alunan melankolik “Nov.8th“ ditujukan untuk Emily, putri pertama Mery yang lahir pada tanggal tersebut tahun lalu. Sedangkan “When it Rains” yang  festive berirama Afro-Cuban lengkap dengan trading fours di mana semua musisi dapat unjuk kebolehan; rentak multiple paradiddle Elfa Zulham, lengkingan klarinet Eugen dan olahan melodi kontrabas yang cukup njelimet dari Indra. Nomor terakhir yang pamungkas – is the way to close performance! (Maria Sancti Tukan/WartaJazz)

Thomas Y. Anggoro

Lulusan ISI Yogyakarta. Telah meliput festival di berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker