FestivalNews

Pelesir Musik di Jimbaran Bay Jazz Festival 2012

jimbaran-bay-jazz-festival-2012-venue-field-crowd.jpg

Apa yang bisa dibayangkan dari sebuah festival musik di tepi semenanjung Bali? Eskapisme dari jenuhnya rutin itu datang tepati janjinya bahwa sebagai tamu dalam atmosfer pantai, penonton festival bisa nikmati musik apik, suasana Bali, dan tidak pakai capek. Di atas luas taman Intercontinental Bali Resort, penonton yang umumnya wisatawan asing lesehan di atas rumput, bawa kursi atau berdiri sesuai kegemarannya berdansa. Jimbaran Bay Jazz Festival 2012 yang digelar 1 Juli lalu memang cukup dinikmati utuh dalam kira-kira delapan jam saja. Tanpa stamina khusus, kegiatan menonton atau beli makan-minum dapat dilakukan berbarengan di satu area panggung saja. Tak cukup dimanja dengan itu saja, jenis musiknya pun lumayan luas spektrumnya.

Pembuka Koko Harsoe memulai dari sudut inklinasi terendah yang dekat dengan bumi jazz namun memilih karya orisinal beralur progresif “Singhasari Suita” dalam permainan gitar nilon yang diumpankannya juga ke synthesizer. Indonesia Rhythm Inc. naik pentas berikutnya saat matahari terbenam di latar panggung yang langsung menghadap ke garis panjang horizon. Lagu-lagu daerah jadi kendaraan bagi kelompok ini untuk menghadirkan etalase kecil nusantara seperti “Lembe Lembe” (Maluku), “Ole Olang” (Madura) atau “Yamko Rambe Ramko” (Papua) dalam olahan kontemporer. Ditilik dari personil-personilnya, gitaris Yuri Mahatma pernah bergabung dengan Cepi Kusmiadi (kendang), Astrid Sulaiman (keys), dan Kachir (gitar) dalam BAIO (Bali Intertribal Organization) minus penyanyi Murni Soerbakti.

KSP-brass-section.jpg
Seksi tiup kombo KSP Band: tenor sax, terompet, dan trombon (Bonny, Brury, Diana, Ivan)

Belum tuntas pendar merah senja bertukar gelap, KSP Band main dengan empat vokalis dan empat anggota seksi tiup yang memberi warna unik band kombo. Seleksi lagu-lagu pop yang sudah akrab di telinga mengalir dalam medley beraransemen senada dari mulai “Zamrud Khatulistiwa”, “Dia”, hingga “Ob-La-Di, Ob-La-Da“. “Klasik Disko” milik sendiri dari album terbaru “Hasrat dan Cinta” pun tak kalah glamor. Tropical Transit yang menampilkan gitaris Ketut Riwin pun masih menahan tensi didukung Rieka Roslan yang interaktif pada “I Love You” ataupun main-mainkan tempo ekor “Si Pantun” sampai sulit diikuti penonton.

Jangan salah dengan Rio Sidik yang dipasang berikutnya jelang akhir pertunjukan. Musik yang aksesibel digabung dengan showmanship segera dicirikan pembukaan kosmik yang menampilkan Rio meniup terompet dengan efek gaung, berjalan dari belakang penonton, ke tengah, lalu naik ke panggung. Rap kompak bareng Ito Kurdhi (bas) dalam turunan “Cantaloop (Flip Fantasia)” (reka ulang US3 untuk groove Herbie Hancock) pun mantap dimodifikasi dalam versi sendiri selain latin “Barcellona”. Tak hanya meniup terompet, Rio menyanyikan balladBoth Sides, Now” milik Joni Mitchell.

jimbaran-bay-jazz-festival-2012-sandhy-sondoro-penonton-merapat-01.jpg
Penonton semakin merapat saat Sandhy Sondoro tampil

Panggung dengan tata cahaya ramah kamera itu pun berakhir dengan aksi Sandhy Sondoro yang menonjolkan lolongan gitar Andre Dinuth yang tangannya acap kali tak lepas dari tuas ekspresi. Di belakangnya, Yudhistira Arianto tampak menyertakan organ vintage Hammond. Nomer jazzy dalam eksekusi serius menjadikan “Malam Biru”, “People“, dan “Anak Jalanan” bernas. Sayangnya Sandhy dijatahi terlalu banyak lagu jika mengingat proporsi festival yang singkat. Kalau semua pihak puas tahun ini, kita tinggal menunggu apakah tahun depan Jimbaran Jazz Festival bisa ada lagi dalam warna jazz yang lebih kaya tanpa hilang suasana uniknya.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker