News

Percakapan musikal Dewa Budjana bersama Ade Irawan

Setelah cukup lama absen di Yogyakarta, Rabu 12/09/2012 Goethe Institut bekerja sama dengan Langgeng Art Foundation untuk ketiga kalinya menghadirkan Serambi Jazz di Yogyakarta dan malam hari itu giliran Dewa Budjana.

Bersama dengan Saat Borneo (suling), Shadu Rasjidi (bass) dan Sandy Winarta (drum), Dewa Budjana membuka penampilannya dengan ‘Lost Paradise’ sebuah lagu yang diambil dari album “Home”.  ‘Malacca Bay’ versi album “Dawai in Paradise” menjadi lagu kedua di malam hari itu. Ade Irawan yang tidak tampil di lagu pertama, membuka lagu dengan sebuah intro dan seolah mulai mencuri perhatian penonton malam itu. Ruang untuk solo benar-benar digunakan secara maksimal oleh Ade untuk memukau penonton malam itu. Selain itu lagu tersebut memang menonjol dengan permainan tutti yang cepat serta rumit termasuk dalam lagu ketiga ‘Kromatik Lagi’, ‘Lalu lintas’ dan ‘Masa Kecil’.

Suasana pertunjukan pun semakin memanas malam hari itu ketika sebuah loop mengawali lagu yang berjudul ‘Dancing Tears’ dan dalam lagu ini Ade Irawan benar benar mencuri perhatian penonton malam hari itu, kesempatan solo untuk Ade di lagu itu benar benar diisi secara maksimal. Pilihan nada yang rumit dan sound yang variatif membuat Ade tampil sangat menonjol dilagu ini. Dilanjutkan dengan ‘Temple Island’ dan kali giliran Sandy Winarta untuk bermain solo. Setelah lagu berjudul ‘Gangga’ dan ‘On The Way Home’ Dewa Budjana menutup penampilannya malam itu. 400 orang lebih penonton yang memadati Langgeng Art Foundation malam itu memberikan apresiasi yang luar biasa dan membuat Dewa Budjana memainkan sebuah lagu lagi, ‘Bunga Yang Hilang’ untuk menutup pertunjukan yang berlangsung sekitar 1 Jam 45 menit tanpa jeda.

Formasi kuintet ini merupakan formasi live pertama Budjana bersama Ade Irawan. Sebetulnya bukanlah hal baru bagi Budjana karena sebelumnya Ade juga pernah terlibat dalam sebuah lagu di album ‘Dawai In Paradise’. Pianis penyandang tunanetra itu tampil secara tak terduga malam itu. Semua kesempatan solonya benar-benar dimanfaatkannya secara maksimal, pilihan nada yang rumit namun terasa akrab ditelinga juga pemilihan sound yang seringkali tak terduga juga mampu menyerobot perhatian penonton malam itu.

Dalam akhir percakapan, Budjana berharap formasi ini mampu bertahan lama.

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker