FestivalJava Jazz FestivalNews

Menikmati Kiprah Para Musisi Indonesia di Java Jazz Festival 2013 (bagian 2)

Hari sabtu biasanya menjadi hari yang paling dipenuhi oleh  pengunjung Java Jazz Festival. Begitu juga pa yang terlihat di JI-Expo pada hari kedua edisi ke-9 penyelenggaraannya di tahun 2013 ini. Sejak sore hari terlihat banyak penonton yang sudah masuk ke area festival. Acara musik di beberapa stage memang dimulai sangat awal, yaitu sekitar pukul 16:15, namun banyak juga mereka yang masih berjalan-jalan di stand-stand pameran dan terutama both official merchandise. Disana dijual segala pernak-pernik yang berlogo Java Jazz Festival dari kaos, tas, mug, gantungan kunci, sampai CD musik artis yang tampil.

Melihat skedul yang dibuat untuk hari ini, sepertinya tontonan kita akan didominasi oleh proyek-proyek yang dikomandani oleh musisi wanita tanah air. Lihat saja, sore hari dibuka dengan sajian dari proyek musik Mery Kasiman, kemudian berturut-turut duo Irsa Destiwi dan Lea Simanjuntak dalam Bandanaira, penampilan penyanyi Netta – Monita – Jemima – Yassovi menghadirkan Tribute to Elfa Secioria, dan pianis Nita Aartsen dalam Flamenco Jazz project dengan Yeppy Romero. Diluar lingkaran itu seharusnya kita sempat menyaksikan aksi raising stars Indonesian Youth Regeneration dan Tulus, tapi sayang jadwal IYR bentrok dengan Mery Kasiman dan Tulus di-reschedule dengan Nino menjadi penutup di Kementerian Perdagangan Hall B2, dimana waktu ia bermain, pukul 23:215-00:15, menjadi bentrok dengan jadwal The Jongens Quartet. Kita lihat saja, apa nanti sempat mengintip sebentar penampilan mereka.

 

Mery Kasiman Feat. Aksan Sjuman dan Riza Arshad

Riza Arshad, pianis dan pendiri grup musik simakDialog, satu hari pernah memberikan komentar untuk sosok Mery Kasiman, disebutkan, ”Selain adalah seorang pianis yang baik, Mery Kasiman juga berbakat sebagai penata musik sekaligus pengarah musik yang akan besar namanya di masa datang. Kejelian Mery membuat musik terdengar beda adalah segi lain kemampuannya. Melalui instrumentasi dan tehnik aransemen yang ia terapkan terdengar bunyi dengan format yang berbeda yang juga dapat menonjolkan keindahan komposisi itu sendiri.”

Ini yang dibuktikan oleh Mery Kasiman di sore hari kedua Java Jazz Festival 2013. Hadir di Garuda Indonesia stage di Semeru Hall sekitar pukul 16:15 sore, peraih gelar master dari Institut Musik Daya Indonesia ini menampilkan eksplorasi pada musik jazz dan komposisi itu sendiri dengan format big band yang tidak umum. Bersama Doni Sundjoyo (doublebass), Aksan Sjuman (drums), barisan horn; Dony Koeswinarno (tenor saxophone)-Eugene Bounty (klarinet)-Brury Effendi (trumpet)-Enggar Widodo (trombon), serta ada Riza Arshad (akordeon), Gerald Situmorang (gitar), dan penyanyi Melita Kasiman di beberapa lagu, Mery mengaransemen ulang karya Thelonious Monk, John Coltrane dan beberapa karya ia sendiri serta satu lagu yang ditulis suaminya, pianis Julian Marantika.

”Fireflies” menjadi komposisi pembuka proyek musik gagasan Mery Kasiman ini. Kemudian pertunjuakn dilanjutkan dengan ”Monk’s Mood” dari Thelonious Monk yang diaransemen ulang untuk horn dan akordeon. Gitaris Gerald Sitomorang masuk di urutan lagu ketiga menjadi solois saat mereka membawakan ”Giant Step”. Mery mengaransemen lagu karya Julian Marantika berjudul ”Sing” untuk piano-gitar-bass-mengiringi lantunan vokal Melita dengan gaya musikal film-film Disney.

Kemudian berturut-turut karya Mery sendiri, ”Viewing Dali” yang terinspirasi sebuah lukisan Salvador Dali serta ”Time” dimana kembali dilantunkan Melita Kasiman. ”Lirik ”Time” diadaptasi dari Kitab Penghotbah yang bercerita tentang waktu, dimana segala sesuatu ada waktunya, jelas Mery sebelum memulai lagu itu. Sebagai penutup, Mery yang memimpin grupnya sembari memainkan piano menghadirkan interprestasi mereka pada karya John Coltrane, ”Moment Notice” dan ”When It’s Rains”.

Wanita kelahiran Jakarta 29 November 1982 ini memberikan keyakinan pada penonton bahwa ia memiliki visi atas karyanya. Apa yang telah dilakukan memberi nilai tambah dan warna di antara deretan penata dan pengarah musik negeri ini. Penampilan Mery Kasiman dan kawan-kawan membuat sore itu menjadi awal yang manis untuk mencicipi beragam sajian musik di Java Jazz 2013.

 

Bandaira: Karya musik untuk bangsa

Negara kita memiliki beragam lagu daerah. Selain itu di satu era di Indonesia banyak ditulis lagu-lagu untuk membangkitkan semangat perjuangan bangsa. Ini yang menjadi inspirasi dua sahabat, kedua-duanya wanita, dalam berkarya. Adalah penyanyi Lea Simanjuntak dan pianis Irsa Destiwi, dua sahabat itu yang membentuk kelompok Bandanaira dan menampilkan kekayaan bangsa dalam format musik akustik yang kental dengan rasa jazz.

Di hajatan Java Jazz Festival 2013 kali ini, Bandanaira yang juga didukung oleh musisi muda Dony Koeswinarno (saksofon dan flute), Doni Sudjoyo (kontrabass), dan perkusionis Syarif Wiradz tampil di hari kedua sekaligus menjadi pembuka panggung Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  Outdoor Stage 2.

”Cinta Indonesia” menjadi lagu pertama Bandaira yang tampil sekitar pukul 17:45. Terlihat penonton telah ramai memadati area depan panggung mereka. Setelah Lea memberikan introduksi atas tampilan mereka, Bandanaira melanjutkan pertunjukkan dengan medley lagu daerah, ”Burung Tantina” dari Maluku -”Lir Ilir” (Jawa Tengah) dan ”Cik Cik Periuk” (Kalimantan Barat)  yang kemudian disambung dengan ”Nyiur Hijau”.

Dua lagu karya Lea, ”Kembali Juara” dan ”Aku Indonesia” juga mereka mainkan diantara pilihan lagu lainnya yang juga menjadi repertoir di dua album Bandanaira (The Journey Of Indonesia, 2009 dan Aku Indonesia, 2011), seperti ”Sersan Mayorku”, ”Dibawah Sinar Bulan Purnama” dan ”Maju Tak Gentar” yang dimedley dengan ”Sorak Sorak”. Terlihat saat Lea lincah beraksi di panggung, Irsa lebih memilih tampil tenang di belakang piano akustiknya. Namun sayang, karena durasi waktu, setelah ”Di Timur Matahari” dan lagu karya Ismail Marzuki ”Payung Fantasi” Bandanaira harus mengakhiri pertunjukkan mereka. Padahal terlihat penonton masih setia tidak beranjak dari panggung mereka. Itulah konsekuensi tampil di sebuah festival dimana timeline dari satu penampil ke penampil berikutnya harus ketat dijaga pergerakannya.

Lepas dari itu, hari itu Bandanaira kembali membuktikan bahwa dengan karya musik mereka berhasil mengajak kita menumpahkan rasa cinta dan bangga sebagai bangsa Indonesia dengan kekayaan budaya yang sangat beragam. Melalui media itu juga Bandanaira mempertanyakan pada diri kita masing-masing, ”apa yang sudah kita berikan untuk Indonesia” serta mengajak kita bangkit dan tetap bersemangat meraih prestasi setinggi-tingginya… untuk Kembali Juara!

 

Tribute To Elfa Secioria: Abang akan selalu ada tetap ada di hati kita

”… Di dalam pesta, ada pita-pita/ Musik yang keras, juga derai canda/

Di dalam pesta ada gelak tawa/ Terasa malam semakin ceria/

Di dalam pesta, buanglah duka/ Biarkan saja, angan-angan lepas/

Di dalam pesta, mari berdansa/ Ambil langkah, ikuti irama…”

Begitulah lagu ”Pesta” karya Hentriesa dan Wieke Gur dilantunkan oleh Netta Kusuma Dewi, Monita Tahalea dan Jemima Iskandar mengakhiri sebuah konser Tribute untuk almarhum Elfa Secioria. Lagu yang dipopulerkan oleh Elfa bersama Elfa’s Singers itu memang tak kan lekang dimakan waktu dimana terlihat hampir semua penonton yang memenuhi Djarum Super Mild Lounge ikut bernyanyi bersama.

Pertunjukan dibuka oleh Jemima yang menyanyikan dua buah lagu, ”Bernyanyi Kita” dan sebuah lagu karya Elfa bersama Wieke Gur yang pernah dipopulerkan Harvey Malaiholo dan Lita Zen, ”Benang-Benang Asmara”. Penampilan Jemima, yang membawakan kedua lagu itu berbeda dari versi aslinya berhasil menghidupkan bara nostalgia pada karya-karya almarhum.

Kelompok musik TenT Music Project dibawah komando bassist Arnold Sadrach kemudian mengiringi Monita Tahalea yang me-cover lagu “Kata Hatiku”, karya Iwan Wiradz & Hermawan/lirik oleh Ferina, yang pernah dibawakan Elfa’s Girls di Festival Lagu Populer Indonesia (FLPI) tahun 1988 dan lagu “Selamat Datang Cinta”. Di lagu karya Elfa dan Wieke Gur itu dengan spontan Monita mengundang tiga orang personil Elfa’s Singers yang berdiri diantara penonton untuk ikut bernyanyi di atas panggung. Penonton pun bertepuk riuh ketika Yana Julio, Lita Zen dan Uci Nurul bergabung menyanyikan lagu yang dipopulerkan oleh Harvey Malaiholo di tahun 1985.

Tampil setelah Monita, nama baru di belantika musik Indonesia tidak terlihat kedodoran. Dengan percaya diri yang cukup baik, Yassovi Amalia membawakan lagu karya seniman multitalenta Bing Slamet, ”Belaian Sayang” yang dilanjutkan dengan sebuah lagu karya Abang, begitu kerap Elfa disapa, yang berjudul ”Kusadari”. Lagu yang juga ditulis bersama Wieke Gur Salameh sebagi penulis liriknya lagi-lagi dipopulerkan oleh macan festival milik bangsa, Harvey Malaiholo sekitar tahun 1987.

Menarik ketika Netta naik panggung setelah Yassovi, dimana penyanyi yang pernah merasakan bagaimana didikan seorang Elfa Secioria di EMS (Elfa Music School) Bandung itu membuktikan bahwa lagu-lagu karya Elfa dapat dinyanyikan siapa saja, baik anak-anak maupun yang sudah dewasa. Netta memilih lagu yang pada eranya dipopulerkan oleh anak-anak, yaitu Hit dari penyanyi cilik (pada saat itu) Sherina, ”Andai Aku Besar Nanti” yang ditulis Elfa bersama istrinya, Vera Sylvina. Satu lagu lagi dipilih

Netta adalah lagu berjudul ”Sahabat Tersayang” yang juga ditulis Abang – lirik oleh Vera Syl untuk penyanyi Alika dengan mengganti satu kata di bait terakhir, ”… sampai kunanti…” menjadi ”… sampai ku kini t’lah dewasa…”.

Elfa Secioria Hasbullah, begitu nama lengkap Abang, menghembuskan nafas terakhir pada 8 Januari 2011 di Jakarta. Pria kelahiran Garut, Jawa Barat, 20 Februari 1959 ini merupakan seorang maestro. Salah satu dokumentasi awal Elfa bermusik dapat kita simak di rekaman grup Sonata 47 dimana di album itu ia memainkan vibraphone, salah satu alat musik yang di Indonesia tidak banyak musisi yang mahir memainkannya. Hasil tangan dingin Elfa bisa dilihat dari sejumlah musisi Indonesia yang sudah dikenal luas. Sebut diantaranya nama Dwiki Dharmawan, Yovie Widianto, Irianti Erning Praja dan penyanyi-penyanyi yang masih/pernah singgah di Elfa’s Singers seperti Yana Julio, Agus Wisman, Lita Zein, Uci Nurul, Ferina, Iwan Wiradz yang kini lebih dikenal sebagai perkusioni,s sampai Andien dan Sherina.  Bersama Harvey Malaiholo dan penyanyi-penayanyi hasil didikannya, Elfa kerap menjadi kampiun di kompetisi choir tingkat nasional maupun dunia. Itu mebuat karya dan aransemennya sering diberi cap jawara festival. Elfa yang juga dijuluki sebagai Sergio Mendes-nya Indonesia  kerap membawakan lagu-lagu Jazz bergaya bossanova. Malam di hari kedua penyelenggaraan Java Jazz Festival 2013 itu, kembali terlihat bahwa banyak karya dari almarhum yang telah menjadi abadi. Itu adalah sumbangsih bagi (musik) negeri ini yang tak kan kami lupakan. Apa kabar Abang di sana?

 

Flamenco Jazz Yeppy Romero dan Nita Aartsen

Jauh dari keriuhan di area bawah JI-Expo, di lantai 6 Pusat Niaga Building masih menyisakan dua pertunjukan. Sekitar pukul 22:00 di Lawu Acoustic Hall hadir sebuah proyek musik yang mengusung musik jazz cross-over. Adalah pianis wanita Nita Aartsen bersama rekan-rekan bermusiknya, Adi Darmawan pada bass dan Sandy Winarta (drums) menghadirkan beberapa komposisi yang aransemennya merupakan koneksi antara musik klasik, jazz, bossanova, dan latin. Sebut saja, ”Naima” dari John Coltrane yang ia adaptasi menjadi lagu berjudul ”Romansa Nirwana”, ”Blue Rondo”, ”Good Times” sebuah adaptasi Nita atas karya Beethoven ”Fur Elise” serta ”Spain” yang mereka bawakan malam itu.

Pada “set kedua”, Nita berkolaborasi dengan gitaris Yeppy Romero. Bang Yeppy, begitu ia akrab disapa, adalah satu dari sedikit gitaris tanah air yang bermain di area musik flamenco. ”Speaking of the joyous sound of Flamenco, Yeppy Romero is always to play it”, begitu peran yang ia ambil. Namun meski latin/flamenco menjadi lahannya, Yeppy sebagai orang Batak tidak melupakan roots-nya. Ini sering ia tampilkan dalam proyek musik yang ia beri nama ”Batakustik” dimana Yeppy membawakan lagu-lagu batak populer dengan permainan gitar akustik yang bernuansa latin/flamenco. Namun sayang di Java Jazz Festival malam itu, konsep ini tidak ia tampilkan. Bersama Nita Aartsen, Yeppy membawakan lagu-lagu ”luar” seperti ”Besame Mucho/ Historia d’Amor” dan ”La Fiesta”. Sebagai penutup dimainkan Symphony 40 dari Mozart yang di album kedua Nita Aartsen diberi judul ”Dancing Soul” (sama dengan judul album itu sendiri). ”…. Dear passionate souls, let’s take a journey, in the rhythm and harmony..”  tulis Nita di sampul album yang ternyata menjadi pemacu semangat penampilannya malam itu.

 

The Jongens Quartet: Hadir dengan album perdana

Sebuah kuartet musik jazz kembali menjadi penutup pertunjukan malam kedua Java Jazz Festival 2013 di Lawu Acoustic Hall. Jika di hari pertama ada Krishna Balagita dengan proyek Sacred Geometry bersama drummer Aditya ”Bowie Gugun Blues Shelter/ Tohpati Bertiga” Wibowo, gitaris Aditya Bayu, dan bassist Adenanda Reno Revano yang tampil pukul 00:15, maka di minggu dini hari ada The Jongens Quartet.

The Jongens Quartet adalah kelompok jazz muda Indonesia yang mayoritas anggotanya bertemu dan belajar di sebuah konservatori musik yang sama di Negeri Tulip. Adalah Johanes Radianto (gitaris), Ramadhani Syah (pianis) dan Elfa Zulham (drummer) ketika selesai studi di konservatori dan kembali kembali ke Indonesia, bersama Doni Sundjoyo (memainkan doublebass), memutuskan untuk membentuk unit musikal ini pada bulan Januari 2011.  Kata ”Jongen” sendiri diangkat dari bahasa Belanda yang berarti ‘muda’.

Penampilan mereka kali ini sekaligus merupakan soft-launching rilis album perdana The Jongens Quartet yang berisi lima lagu hasil karya dan aransemen setiap anggotanya. Maka dari itu sayang bagi Anda yang melewati pentas mereka di Java Jazz Festival 2013.

Pertunjukan para anak muda ini dibuka dengan komposisi karya Thelonious Monk ”We See” dan dilanjutakan ”26-2” John Coltrane. Dua pembuka ini menjadi unjuk gigi gaya improvisasi The Jongens Quartet yang berlandaskan jazz sebagai sebuah seni tradisi dari Amerika dan dipengaruhi oleh perkembangan musikal personilnya.

”Moning Call”, sebuah karya Johanes Radianto diluar album, dimainkan oleh The Jongens di urutan ketiga. “Lagu ini related dengan Zulham yang tadi pagi baru menjadi bapak. Selamat ya!” kata Johanes yang menjadi juru bicara grup di panggung. Ya, mereka mendedikasikan ”Morning Call” untuk pasangan Elfa Zulham dan Dira Sugandi yang baru saja mendapat momongan.

”Busway Blues”, sebuah lagu dari album selftitle The Jongens Quartet yang juga karya Johanes ditampilkan setelahnya. Pentas kemudian dilanjutkan dengan ”Billie Bonce” dan ditutup dengan ”The New Rules”, sebuah komposisi yang ditulis Dhani Syah.

Sebagai generasi muda jazz, dan bagian dari komunitas jazz di Indonesia, The Jongen Quartet berhasil berbagi pengetahuan musik, membuat getaran baru yang dapat membawa lebih semangat dan energi positif kepada generasi muda, khususnya bagi Anda yang menyaksikan konser mereka di Java Jazz Festival 2013.  (Roullandi/WJ)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker