News

Pablo Ziegler, interkoneksi tango antar Jakarta-Tokyo-Buenos Aires

Liputan konser Pablo Ziegler with Tokyo Jazz Tango Ensemble, Aula Simfonia Jakarta, 18 Maret 2013

Nama Pablo Ziegler mungkin tak setenar Lionel Messi, Cristina Fernández de Kirchner atau Paus Fransiskus walaupun berasal sama dari tanah Argentina. Namun bagi pemerhati jazz dan tango, atau keduanya, Pablo merupakan pianis juga komposer terdepan mewakili subgenre Tango Nuevo, melanjutkan apa yang telah ia mulai bersama Astor Piazzolla, pembaharu tango yang disebutnya sebagai “musical father.”

Pablo Ziegler_4

Senin malam (18/3) pianis dari Buenos Aires ini menggelar konser di Jakarta beserta tiga pemusik muda Tokyo yang menamakan diri Tokyo Jazz Tango Ensemble, digawangi Natsuki Kido (gitar), Toru Nishijima (kontrabas) dan bandoneónista Satoshi Kitamura. Bertempat di Aula Simfonia Jakarta, Kemayoran, acara tersebut sebagai finale Jakarta International Tango Festival 2013 yang menampilkan tarian, kuliner dan musik khas Argentina.

Terdapat kesan tersendiri malam itu, saat mendapati pertunjukan jazz dengan venue yang lazimnya digunakan untuk acara musik klasik—semisal orkes simfoni atau oratorio—lengkap dengan bentangan pipa organ, arsitektur bergaya era klasik maupun furnitur kayu yang terlihat mewah. Selain itu, penjagaan ketat mulai dari pemeriksaan tiket berlapis sampai pengawasan selama konser berlangsung pula diberlakukan. Bagaimanapun, bagi penonton reguler musik klasik, protokol itu lumrah adanya.

Pablo Ziegler_2

Lepas pukul delapan Pablo dan ketiga tangueros Tokyo awali perjumpaan lewat ayunan berenergi “Michelangelo ’70” lalu “Alreador del Chochlo” yang berkelir tango tradisional dan nuansa jenaka atraktif pada “La Rayuela.” Ketiga nomor tersebut dimainkan lancar, semulus versi live pada Tango & All That Jazz (Kind of Blue Records, 2007).

Sekurangnya 300 pasang mata, baik lokal maupun ekspatriat saksikan konser malam itu, pun selanjutnya Pablo, Satoshi, Natsuki dan Toru bawakan komposisi Astor Piazzolla dari era 1960-an “Introducción al Angel” yang mengalun lirih, berawal ostinato kontrabas dengan tema minor. Perlahan secara accelerando menjadi cepat, tampilkan sinkopasi denyut 3+3+2 per birama menuju call-and-response “El Empedrado.” Sempat terpikir betapa anggunnya jika saat itu dimainkan bersama Orpheus Chamber Orchestra seperti pada Tango Romance (RCA, 1998) yang akan sangat ideal dengan tata ruang Aula Simfonia Jakarta.

Pertunjukan berlanjut kepada “La Fundición” yang terambil dari Bajo Cero (Zoho Music, 2005), album milik Pablo Ziegler dan gitaris Quique Sinesi serta Walter Castro (bandoneón) yang menangkan 6th Latin Grammy Award kategori “Best Tango Album.” Kemudian beralih menuju “Once Again… Milonga” juga “Desde Otros Tiempos” yang suguhkan aksi versatil Pablo dan bunyi perkusif ketiga rekannya. Konser berakhir dengan balada tango “Muchacha de Boedo” dan salah satu komposisi Astor Piazzola terpopuler yang berjudul “Libertango.”

Pablo Ziegler_1

Kehadiran Pablo Ziegler ke Jakarta atas inisiasi Ade C. Kadir, dari Casa del Tango yang mengagas Jakarta International Tango Festival 2013. Penikmat Keith Jarret ini menyatakan bahwa kegiatan ini akan dijadikan agenda tahunan dan rencananya tahun depan spektrum acara akan lebih melebar lagi melibatkan budaya dari negara-negara Amerika Selatan lainnya. Kita tunggu saja gebrakannya tahun depan!.

 

Tags

Thomas Y. Anggoro

Lulusan ISI Yogyakarta. Telah meliput festival di berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker