News

Narasi bunyi Kekko Fornarelli Trio di Gedung Kesenian Jakarta

Liputan konser Kekko Fornarelli Trio, Jakarta Anniversary Festival XI-2013, Gedung Kesenian Jakarta

Genapi janji yang pernah diberikan tahun lalu, saat menggelar konser piano tunggal sekaligus penampilan perdana di Jakarta, pianis-komposer Italia Kekko Fornarelli hadir kembali namun kali ini dalam formasi trio. Acara yang berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) Senin malam (17/6) tersebut menjadi salah satu fitur program tahunan Jakarta Anniversary Festival (JAF) XI-2013 yang kerap mengundang musisi jazz mancanegara.

Tentunya ada ekspektasi tinggi penonton yang sempat menyaksikan presentasi Monologue di Istituto Italiano di Cultura Jakarta Desember silam. Harapannya adalah sajian berbeda dan Kekko akhirnya membawa serta kedua rekan, pemain kontrabas Giorgio Vendola dan Dario Congedo di posisi drummer tergabung menjadi Kekko Fornarelli Trio. Indonesia merupakan negara terakhir yang disinggahi Kekko dalam turnya kali ini, setelah Australia, China (Hong Kong)  dan Malaysia.

Kekko Fornarelli Trio_GKJ_2013_1

Daftar repertoar malam itu sebagian besar terambil dari rilis mutakhir bertajuk Room of Mirrors (Auand Records, 2011) namun dimainkan pula beberapa nomor dari album sebelumnya maupun gubahan baru. Trio ini membuka lewat komposisi “The Big Bang Theory” sebagai permulaan, tampil energik dengan preferensi bunyi Radiohead juga pola ritmik ireguler yang mungkin menjadi estetika entropi menurut sudut pandang kosmologi.

Kekko Fornarelli Trio_GKJ_2013_2

Kekko Fornarelli Trio_GKJ_2013_3

Selepas teori ledakan dahsyat tadi, pertunjukan berlanjut dengan introduksi piano “Room of Mirrors” yang menjadi signature style ballad Kekko. Kemudian waktu pun terasa mengalir pelan dalam lantunan “Time Goes On” yang membuai. Tampak pula musikalitas prima Giorgio yang sangat fasih berdemonstrasi arco, berikut sentuhan frase-frase mediterania secara presisi.

Walaupun Dario terlihat lebih kalem ketimbang kedua rekannya, tetapi dirinya berperan besar pada direksi beat “The Flavour of Clouds” yang memberi ruang lebar bagi Kekko untuk angkat bicara lewat jalinan melodi yang teramat manis. Bergerak menuju “Dream and Compromise” dan “Daily Jungle,” kentara sekali acuan kepada Esbjörn Svensson Trio (e.s.t.) dalam hal konstruk dan tekstur komposisinya, dan pastinya ditambah aspek narasi personal Kekko sebagai tema utama.

Acara berakhir dengan dua penutup yaitu “Children’s Eyes” yang dominan akustik berlapis samar-samar bunyi sintetik, melaju balada straight-ahead namun dalam hitungan tiga dan tuntas oleh lekuk groovy “Coffee & Cigarettes” yang memicu saraf gerak. Di nomor tersebut, ketiga pemain hadirkan interaksi trading fours secara bergiliran hingga mencapai birama final.

 

Thomas Y. Anggoro

Lulusan ISI Yogyakarta. Telah meliput festival di berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker