FestivalNews

Jazzer muda unjuk kebolehan di World Youth Jazz Festival Bogor 2013

Liputan World Youth Jazz Festival Bogor 2013 hari pertama, 7 September
(Jungleland Adventure Theme Park, Sentul City, Bogor)

World Youth Jazz Festival 2013 Bogor
World Youth Jazz Festival 2013 Bogor

Untuk pertama kalinya Indonesia menyelenggarakan World Youth Jazz Festival (WYJF) selama dua hari, 7-8 September. Kota Bogor terpilih menjadi tuan rumah bagi acara yang menampilkan musisi-musisi muda berbakat lintas negara ini, setelah Kuala Lumpur pada awal Mei silam. Pertunjukan bertempat di Jungleland Adventure Theme Park, Sentul City sebagai pembuka rangkaian Jungleland Youth Festival di bulan September.

WYJF merupakan sebuah festival jazz berskala internasional murni gagasan Idang Rasjidi dan lahir dari pelataran ruang tamu rumahnya di Bogor. Sesuai namanya, WYJF mempromosikan talenta-talenta jazz muda di penjuru dunia. Untuk WYJF Bogor 2013, penampilnya berasal dari enam negara yaitu Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, Jepang dan Indonesia selaku tuan rumah.

Julukan kota hujan yang disandang Bogor bukan sekadar isapan jempol. Sabtu petang (7/9), hujan deras di sekitar venue berlangsung cukup lama dan membuat acara tertunda beberapa jam dari jadwal semestinya. Walaupun demikian, tak menyurutkan antusiasme pengunjung yang tetap berada di lokasi pertunjukan sambil menunggu redanya sang hujan.

Setelah hujan reda dan arena panggung dibuka, akhirnya acara dimulai dengan kata sambutan dari Idang Rasjidi, figur jazz kondang Indonesia pula selaku pimpinan WYJF Steering Committee. Idang mengaku sangat bangga dengan bakat-bakat muda yang secara aktif terlibat di WYJF.

Lana - WYJF2013

Penampil pertama ialah seorang penyanyi belia Lana Nitibaskara dengan grupnya Lana and the Jazz Fusion. Jam pertunjukan yang bergeser mundur akibat cuaca buruk menyebabkan waktu tampil para pengisi acara mau tidak mau harus mendapat korting. Aksi panggung Lana yang lincah dan energik mendapat sambutan meriah, tampak dirinya menyanyikan lagu dengan alami.

Melanjutkan Lana and the Jazz Fusion adalah kakak-kakaknya yang tergabung dalam Indonesia Youth Regeneration (IYR) digawangi juru vokal Albert Fakdawer, drummer Demas Narawangsa, pemain bas Ankadiov Subran, keyboardis Timothy Luntungan, Reno Castelo di posisi gitaris dan dua saksofonis Dennis Junio serta Tommy. Mereka hadirkan aransemen groovy atas “Salam Bagi Sahabat,” “Rumah Kita,” “Tanda Tanda” ditambah interaksi dengan penonton yang berjalan mulus, mengingat pengalaman manggung yang cukup tinggi.

IYR - WYJF2013

Bihzhu - WYJF2013

Bihzhu - WYJF2013_2

Berikutnya datang dari kota Penang, Malaysia, seorang chanteuse-songstress bernama Bihzhu. Ia memiliki vokal yang unik, dan memenangkan “Vox Pop Winner” dalam kategori lagu Cabaret pada 12th Annual Independent Music Awards lalu untuk tembang catchy “Palpitations” yang dipilih sebagai nomor pembuka malam itu. Diteruskan dengan beberapa trek dari album Nightingale Tales seperti “The Heart Way” dan selipan harmonika atas lirik mandarin “Xiao Bai Chuan.”

Joan J Quintet - WYJF2013

Joan J Quintet_2 - WYJF2013

Musisi asal Indonesia dan Malaysia bertemu dalam Joan J Quintet feat. Aiman Imran, di mana Joan Jeseltone (vokal) dan Aiman Imran (saksofon alto) yang keduanya dari Malaysia berkolaborasi dengan musisi jazz tanah air, Hairul Umam (saksofon alto), Zoltan Renaldi (bas) dan Dezka (drum). Berbeda dengan grup lainnya, mereka suguhkan nomor-nomor Brazilian jazz pula mainkan ritus trading fours yang biasa dijumpai pada laju straight-ahead.

Charlie Lim - WYJF2013

Charlie Lim - WYJF2013_2

Sebagai penutup ialah Charlie Lim mewakili Singapura. Gitaris, penyanyi merangkap penulis lagu yang telah tampil di berbagai negara tersebut bawakan lagu-lagu karangan sendiri. Di antaranya “Pedestal,” “There is No Love” dan “What Can I Do” yang relatif berkelir folk-rock serta soul berpadu olahan bunyi elektronik. Penampilan Charlie Lim mengakhiri putaran pertama WYJF Bogor 2013.

Konser malam itu berjalan cukup lancar, namun problem utama adalah sistem tata suara yang kurang memadai—di samping durasi acara yang mendapat diskon—sehingga mengurangi kenyamanan auditif. Bagaimanapun, WYJF patut diapresiasi atas upaya menyalurkan bakat-bakat jazz muda sekaligus mempererat tali persahabatan antar negara tanpa harus mengecek paspor.

Sorak!

Thomas Y. Anggoro

Lulusan ISI Yogyakarta. Telah meliput festival di berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker