NewsNgayogjazzWarta Jazz Festival

Ngayogjazz 2013, “Rukun Agawe Ngejazz”, Kebersamaan Dalam Jazz

Ngayogjazz 2013, Rukun Agawe Ngejazz
Ngayogjazz 2013, Rukun Agawe Ngejazz

 

Ngayogjazz, sebuah Festival yang memadukan musik Jazz dan juga bentuk-bentuk kesenian lainnya, tahun 2013 ini sudah menginjak penyelenggaraan yang ke tujuh kalinya. Bisa dibilang Ngayogjazz lebih merupakan sebuah peristiwa budaya karena melibatkan banyak unsur kebudayaan, tidak hanya bentuk kesenian yang dalam hal ini terwakili oleh musik Jazz, tapi juga spirit kebudayaan yang mewarnai kehidupan sosial dimana Ngayogjazz tersebut terselenggara, tidak hanya kreatifitas dalan bidang seni yang ditampilkan dalam Ngayogjazz tapi juga kreatifitas dalam memaknai dan mengisi kehidupan bersosial. Inilah keunikan tersendiri dari Ngayogjazz, pilihan tempat penyelenggaraan di sebuah perkampungan atau pedesaan yang tiap tahun berganti dan selalu melibatkan warga masyarakat dan elemen-elemen sosial dan budaya yang beragam menjadikan festival ini lebih “membumi” atau bisa dikatakan lebih merakyat. Ngayogjazz selalu melibatkan komunitas-komunitas dan para musisi-musisi muda, sehingga lebih terbukanya ruang ekspresi yang beragam dan luas, tidak sebatas pada mempresentasikan para musisi-musisi yang sudah mapan tetapi juga para musisi-musisi muda yang berpotensi dan kreatif.

Monita Tahalea
Monita Tahalea

Ngayogjazz dari pertama diadakan selalu mengusung tema yang berlainan setiap penyelenggaraannya, dan selalu berkesinambungan. Setelah di tahun 2011 kemarin mengusung tema “Nandoer Jazz ing Pakarti” dimana dari “plesetan” peribahasa jawa “nandur woh ing pakarti” yang berarti melalui musik jazz menanamkan nilai-nilai musik jazz itu sendiri yang diterapkan dalam kehidupan bermusik maupun sehari hari. Dan di tahun 2012 mengambil tema “Dengan Jazz Kita Tingkatkan Swasembada Jazz” yang diambil dari suatu jargon pembangunan, di mana diharapkan saat ini para musisi-musis jazz terutama generasi muda yang telah bersemai di Ngayogjazz bisa mandiri mengembangkan kehidupan bermusiknya, baik dalam kreatifitasnya maupun karir bermusik mereka. Tentunya dengan perkembangan musik jazz yang sudah sedemikian pesat di tanah air sehingga menimbulkan juga keberagaman kreatifitas mereka, dan dengan keberagaman inilah justru Ngayogjazz mengajak mereka untuk bersama-sama menuju keharmonisan seperti sebuah orchestra yang meskipun tiap alat musik mengeluarkan bunyi yang berbeda tetapi jika dimainkan bersama dengan harmonis akan menjadi indah dan menimbulkan suasana yang menyenangkan dan menentramkan. Inilah kerukunan dalam musik jazz di mana musik ini mengajarkan bahwa individu-individu adalah bagian dari sebuah komunitas yang lebih besar, bagaimana kita bisa individual tetapi sekaligus komunal. Inilah “RUKUN AGAWE NGEJAZZ”

Oele Pattisellano
Oele Pattisellano

Ngayogjazz 2013 kali ini diselenggarakan pada hari Sabtu Wage, tanggal 16 November 2013, dimulai dari jam 09.00 – 22.00 WIB , bertempat di Desa Wisata Sidoakur, Kelurahan Sidokarto, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Terdiri dari lima panggung yang diberi nama sesuai dengan tema Ngayogjazz kali ini, yaitu Panggung Sayuk Rukun, Panggung Srawung, Panggung Wawuh, Panggung Guyub dan satu panggung Kesenian Tradisional. Adapun pengisi Ngayogjazz kali ini selain para musisi-musisi jazz dari Indonesia juga beberapa artis jazz mancanegara ikut meramaikan cara ini. Para musisi yang akan tampil adalah Chaseiro, Monita Tahalea, Shadu Band, Idang Rasjidi Syndicate, Dony Koeswinarno Quintet, Oele Pattiselanno Trio, Nita Aartsen, Bintang Indrianto, Djalu Pratidina, Baraka (Jepang), D’aqua (Jepang), Erik Truffaz (Perancis), Brink Man Ship (Swiss), Peni Chandrarini, Jerry Pellegrino (Amerika Serikat), Kirana Bigband. Fombi (Forum Musik Tembi) feat. Ketzia, DAC Band, Everyday Band, AbsurdNation Quartet, Bagus and Friends, Keroncong Soesah Tidoer, Keroncong Irama Tongkol Teduh, Institut Seni Indonesia (NTMY Trio, Sunflow Quintet), Kesper (Kelompok Studi Perkusi), juga komunitas-komunitas jazz dari luar kota seperti Solo Jazz Soceity, Komunitas Jazz Jogja, Balikpapan Jazz Lovers, Gubug Jazz Pekanbaru, Jazz Ngisor Ringin Semarang, Jes Udu Purwokerto, Batik Jazz Replika Pekalongan.

Brink Man Ship
Brink Man Ship

 

Komunitas Jazz Jogja
Komunitas Jazz Jogja

Selain menikmati musik jazz di Ngayogjazz juga tergelar Pasar Jazz, dimana para pengunjung bisa menikmati kuliner-kuliner dari mulai yang tradisional sampai yang modern, juga berbagai macam hasil industri kreatif. Seni-seni tradisi juga selalu ikut menyemarakan Ngayogjazz, kali ini kesenian Jathilan, Gejog Lesung, Panembrama, Ledek Gogig, Hadrah, Wayang Milenium akan tampil mewarnai Nagyogjazz 2013. Dan tentunya seperti penyelenggaraan sebelumnya, untuk melihat dan ikut membaur di Ngayogjazz pengunjung tidak dipungut tiket masuk alias gratis.

Peta Nagyogjazz 2013

Ajie Wartono

Memimpin divisi Projects & Event Management. Pernah mengikuti Dutch Jazz Meeting di Amsterdam, Belanda. Selama dua tahun dipercaya menjadi Ketua Festival Kesenian Yogyakarta (2007, 2008) selain sebagai Program Director, Bali Jazz Festival dan Ngayogjazz

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker