FestivalJazzTrafficNews

Solo Jazz Traffic Festival: Lalu Lintas Padat Jazz Bulan November

Jika festival jazz yang begitu menjamur punya nama bak geotag dari lokasinya (Java, Borneo, Jakarta, dll.), maka Jazz Traffic Festival (JTF) adalah salah satu yang tidak. Tanpa mengasosiasikan diri dengan lokal tertentu, setidaknya JTF tak perlu berebut nama domain (yang sepertinya sepele) untuk situs webnya misal, atau malah justru embel-embel traffic membawa citra distingtif baru, bahwa ini adalah lalu-lintas penampil jazz. Pada dua tahun penyelenggaraan lalu, lalu-lintas itu adalah Semarang-Surabaya yang bergantian menjadi tuan rumah Djarum Super Mild Jazz Traffic Festival. Kini giliran Djarum Super Mild Solo Jazz Traffic Festival 2013 (02/11) yang jadi setopan berikutnya sebelum kembali ke Surabaya lagi.

Solo Jazz Traffic - Sierra Soetedjo - Sandy Winarta Quartet.jpg
Sierra Soetedjo tampil bareng kuartet Sandy Winarta (Foto: Solo Jazz Traffic/@jazztrafficsolo)

Format akustik post-bop Sandy Winarta yang pernah tampil 2011 masih ada di daftar, kali ini kuartet dengan organ Hammond Adra Karim, mengapit alun empuk Sierra Soetedjo. Blues tradisional “At Last” milik Etta James jadi lebih nendang. Nomer orisinil Sierra “The Only One” pun beroleh aransemen ballad segar dengan tempo yang berkontraksi bebas, gaya moderen yang kita temui pada pianis kontemporer Robert Glasper.

Yang doyan akrobat bas dipuaskan Indro Hardjodikoro The Fingers yang menampilkan dua striker yang membabat lini depan laga bas elektrik. Ya, proyek ini memang tak menyembunyikan virtuositas, nyaris kebalikan dari peran pemain sesi yang membendung atraksi personal. Adalah Fajar Adi Nugroho yang jadi tandem seimbang. Imajinasi musikalnya untuk The Fingers didemonstrasikan “Raga Deva” (Dewa Raga), karya yang mengacu pada rāga dalam disiplin musik India klasik dan belum ada di album. Andy Gomes, sesuai judul itu, mengeset kibor pada bunyi sitar sintetis sementara liuk serupa cengkok penyanyi Karnatik meluncur dari suling Sunda Diki Suwarjiki, seolah alat tiupnya itu tak pernah bersaudara jauh dari bansuri.

Lama tak melihat Indra Lesmana menyandang keytar, Solo malah jadi saksi pertama kemunculan kembali instrumen hibrida berdekorasi mini gambar magnolia yang sekaligus jadi panggilannya itu pada aksi LLw (double L double U). “Stretch N Pause” yang mengabsen legenda jazz Indonesia jadi ruang total Indra yang larut memadukan solo Moog dengan vocoder pada deret tertinggi hingga setengah memekik. Eva Celia menurunkan tensi lewat detak trip hop “Alternation” yang sayangnya tak bisa menghadirkan tiupan laid-back terompet Maurice Brown yang sempat tampil live bareng selain direkam album “Loose Loud Whiz“. Klimaks trans “Freedom Jazz Dance” seolah menyuarakan pergulatan Miles Davis, tokoh yang siluetnya tercetak lebar pada kaos pembetot bas Barry Likumahuwa malam itu.

Solo Jazz Traffic - Keytar Indra Lesmana.jpg
Indra Lesmana larut dalam solo rock keytar (Foto: Solo Jazz Traffic/c/@jazztrafficsolo)

Barry Likumahuwa Project (BLP) pun memanaskan panggung JTF yang flip flop antara dua sisi Grand Ballroom The Sunan Hotel Solo. Bisa-bisanya saja, setelah berhasil membujuk penonton beranjak ke posisi berdiri lewat “Lebih Tinggi” (Angry Birds Cover), swing yang memunculkan Benny Likumahuwa diluncurkan tetap dalam suasana seru. Tompi yang menggandeng Tjut Nyak Deviana Daudsjah pada The Doctor & The Professor tak ketinggalan membungkus improvisasi jazz dalam interaksi menghibur.

***

Tak dipungkiri term “artis ibukota” masih menemukan konteksnya pada penyelenggaraan pertunjukan musik di “daerah”, Solo tak terkecuali. Eddie Gomez, kontrabasis yang pernah bergabung dengan mendiang Bill Evans menyebut bahwa jazz adalah tentang apprentice, tentang bagaimana lingkar pergaulan dengan para suhu generasi lama yang membentuk poros-poros baru penggiat jazz dari generasi berikutnya. Ini sudah satu faktor dari sisi suplai, bahwa potensi jazz lokal nyaris sukar tumbuh tanpa migrasi. Dari sisi permintaan penonton, walaupun “ibukota” jazz di Indonesia tak berarti Jakarta saja, warga Solo lebih tertarik pada nama-nama ibukota ketimbang Sruti Respati, ikon Solo yang jadi tamu panggung The Fingers, yang kendati telah dikenal secara nasional, tapi sudah saban kali ditonton warganya pada berbagai kesempatan lokal.

Bicara lalu-lintas musisi jazz, penyelenggaraan di bulan November sebenarnya menyimpan keunggulan kompetitif dari festival-festival yang berdekatan waktunya, yaitu bisa undang musisi internasional. Dalam manajemen tur musisi asing, menggilir si musisi ke berbagai festival yang berlangsung dalam waktu yang berdekatan di suatu wilayah adalah praktek lazim. Dengan lalu-lintas macet seperti ini, lama kelamaan bulan berakhiran “-ber” yang dulu identik dengan musim penghujan adalah juga musim jazz.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker