Java Jazz FestivalNews

Tribute to Legendary Jazz, sebuah dedikasi untuk Jack Lesmana dan Bubi Chen

Minggu tengah malam, Hall Semeru masih dipadati oleh penonton yang seolah tak ingin menyia-nyiakan malam terakhir CLEAR Java Jazz Festival 2014. Di sisa waktu penyelenggaraan itu, Benny Likumahuwa tampil bersama musisi-musisi muda berbakat tanah air di antaranya Barry Likumahuwa dan Indra Aziz. Mereka membawakan tribute untuk dua legenda jazz Indonesia, Bubi Chen dan Jack Lesmana.

Foto oleh Griven/WartaJazz
Foto oleh Griven/WartaJazz

Setelah membuka sesi dengan lagu ciptaan Barry, Benny pun mulai bercerita tentang sejarah musik jazz dunia yang sempat hampir tenggelam setelah munculnya musik-musik popular di tahun 60-an. Hal serupa agaknya terjadi juga di Indonesia. Karenanya beberapa musisi jazz mencoba tetap menghidupkan genre ini dengan menggelar pertunjukan di Taman Ismail Marzuki. Musisi yang ikut ambil bagian dari sejarah itu diantaranya adalah Jack Lesmana dan Bubi Chen.

Foto oleh Griven/WartaJazz
Foto oleh Griven/WartaJazz

Dalam kesempatan itu, Beny yang juga teman bermain musik Jack membawakan tune lawas yang ia ciptakan puluhan tahun silam diberi judul “Like Father Like Son” karena terinspirasi dari Barry, anak lelakinya yang kini berkiprah juga sebagai basis. Mungkin duo bapak-anak Likumahuwa menjadi magnet tersendiri malam itu. Akan tetapi jangan lupa barisan musisi muda yang juga ikut ambil bagian dalam tribute itu. Sebut saja Indra Aziz yang bermain saxophone dan memamerkan kebolehannya berolah vokal bahkan adu beatbox dengan Beny. Tak lupa kehadiran Joey Alexander, si bocah ajaib yang mampu memainkan nomor milik Herbie Hancock dengan sangat apik. Joey sempat tampil dalam sebuah acara di televisi swasta dalam rangka mengenang Lokananta, tonggak sejarah musik yang mulai terlupakan.

Foto oleh Griven/WartaJazz
Foto oleh Griven/WartaJazz

Malam itu penikmat jazz diingatkan lagi tentang duo legenda yang memiliki peran penting dalam sejarah jazz di tanah air. Sebagai penutup, nomor dari Jack Lesmana berjudul “KL” pun dimainkan. Riuh rendah tepuk tangan terdengar di seantero hall. Sebuah tribute yang mengingatkan kita tidak hanya tentang legenda jazz dan perjuangannya, tapi juga agar kita tak pernah lupa bahwa jazz adalah musik yang universal. (Ari Kurniawati/WartaJazz)

Tags

Thomas Y. Anggoro

Lulusan ISI Yogyakarta. Telah meliput festival di berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker