News

Loenpia Jazz 2014: Suguhan jazz di Pecinan Semarang

Hajat besar Komunitas Jazz Ngisoringin baru saja selesai. Gelaran bertajuk Loenpia Jazz 2014 yang digelar di kawasan Pecinan Semarang hari Minggu lalu meninggalkan kesan tersendiri bagi pengunjungnya. Tak lupa aksi panggung artis-artis jazz yang mengisi festival tahunan ketiga yang menyita perhatian publik di kawasan tersebut.

Pemilihan nama Loenpia Jazz sendiri rasanya pas dengan venue yang dipilih penyelenggara. Ide yang menarik, menampilkan jazz di kawasan Pecinan. Keberanian menjadikan klenteng, tempat ibadah etnis Tionghoa, sebagai panggung pertunjukan jazz patut mendapat apresiasi. Rupanya roh jazz yang egaliter menjadi dasar penyelenggaran kali ini. Kesenian khas Tionghoa ditampilkan sebagai bagian dari kultur masyarakat sekitar, sebut saja Barongsai Rajawali Sakti dan Wayang Potehi Teg Gie Hien yang menarik atensi pengunjung.

Nuansa khas Pecinan baru benar-benar terasa saat hari mulai petang; tampak lampion-lampion merah menyala, cahaya yang muncul dari klenteng dan aroma dupa yang menguar. Atmosfer ini sebenarnya kontras dengan penampilan Adriyan Adioetomo, sang gitaris blues yang bermain solo di panggung Gang Besen. Ia tampil tenang membius pengunjung dengan tune energik.

Adrian Adioetomo (foto oleh Ari/WartaJazz)
Adrian Adioetomo (foto oleh Ari/WartaJazz)

Jangan lupakan panggung yang terletak di klenteng Rasa Dharma. Sempat dijejali penonton yang ingin menyaksikan Adhitia Sofyan, panggung indoor ini tak luput dari perhatian. Solo Jazz Society tampil membawakan smooth jazz  dan swing yang sukses mengundang applause penonton. Kemeriahan di Rasa Dharma dilanjutkan dengan penampilan Etawa Jazz Community dan Gondo Trio.

Solo Jazz Society (foto oleh Ari/WartaJazz)
Solo Jazz Society (foto oleh Ari/WartaJazz)
Endah N Rhesa (foto oleh Ari/WartaJazz)
Endah N Rhesa (foto oleh Ari/WartaJazz)

Magnet gelaran ini lebih terasa di panggung Tay Kek Sie. Duo popular Endah n Rhesa seperti biasanya mampu membuat penonton berjejalan di sekitar  panggung. Setelahnya, Nita Aartsen naik pentas dan menutup gelaran Loenpia Jazz 2014. Pianis kawakan ini ditemani oleh basis Bintang Indrianto yang sebelumnya bermain di panggung See Hok Kiong.

Bintang Indrianto (foto oleh Ari/WartaJazz)
Bintang Indrianto (foto oleh Ari/WartaJazz)
Nita Aartsen (foto oleh Ari/WartaJazz)
Nita Aartsen (foto oleh Ari/WartaJazz)

Satu lagi kontras yang menarik dalam gelaran ini. Latin jazz dimainkan Nita di depan klenteng Tay Kek Sie, membuat pengunjung semakin “Jazz Pol Rem Blong” menikmati suguhan terakhir malam itu. Aransemen “Für Elise” kembali dimainkan, kali ini ditambah betotan bas Bintang yang memberi warna sendiri dalam permainan jazz latin ala Nita.

Penglepasan lampion menutup Loenpia Jazz 2014 (foto oleh Ari/WartaJazz)
Penglepasan lampion menutup Loenpia Jazz 2014 (foto oleh Ari/WartaJazz)

Tak hanya menyelenggarakan festival, Komunitas Jazz Ngisoringin juga merilis album kompilasi. Bersamaan dengan seremoni penutupan berupa penglepasan lampion, Walikota Semarang pun meresmikan rilis tersebut. Para pengisi album bertajuk Jazz Ngisoringin #1 | #Exist ini di antaranya adalah Coffee Freeze, Aljabar, DD Kids, Buzztard, D’Almond, Baruch Jethroobe, Tiga dan Sepatu Kaca. (Ari Kurniawati/WartaJazz)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
WhatsApp Perlu bantuan?