News

Jazz Gunung 2014 Hari Kedua: Warna-warni jazz di ketinggian gunung

Masih dari panggung terbuka yang menjadi bagian dari Java Banana Bromo. Cuaca sore itu lebih cerah, namun hawa dingin sudah terasa bahkan beberapa sudah memakai pakaian hangat. Gelaran hari kedua Jazz Gunung  2014 dibuka dengan penampilan musisi-musisi muda asal Semarang. Mereka yang tergabung dalam Komunitas Jazz Ngisoringin itu memainkan nomor-nomor jazz standar.

Komunitas Jazz Ngisoringin (foto oleh Jazz Gunung)
Komunitas Jazz Ngisoringin (foto oleh Jazz Gunung)

Diawali dengan “Gambang Semarang,” sebuah lagu daerah yang dibawakan dalam goyangan yang groovy sekaligus membangkitkan memori audiens akan kenangan tempo dulu. Setelah itu, “I Got You Under My Skin” dibawakan dalam tempo sedang. Vokal berat Gatot cocok membawakan lagu Frank Sinatra ini dalam geliat swing, berikut aksi Baruch dengan saksofonnya yang memukau. Warming up sempurna ditutup dengan mengajak audiens menyanyikan “Good Times.”

Setelah suguhan manis dari kota Loenpia, Indro Hardjodikoro the Fingers  memberi warna kontras sore itu. Tampil bersama Fajar Adi Nugroho pada bas dan Yandi Andaputra pada drum, Indro bermain impresif. Kemunculan Soukma Egas menjadi kejutan petang itu, tentu saja dengan vokal yang kerap disebut “serak-serak basah.” Solo drum Yandi yang menggelegar menutup penampilan mereka yang disambut tepuk tangan meriah dari tribun penonton.

Indro Hardjodikoro The Fingers feat. Soukma Egas (foto oleh Jazz Gunung)
Indro Hardjodikoro The Fingers feat. Soukma Egas (foto oleh Jazz Gunung)

Djaduk Ferianto dan kawan-kawan kembali naik panggung. Masih berkolaborasi dengan Nicole Johänntgen, Ring of Fire Project sama sekali tak kehilangan roh etniknya. Sekali lagi penikmat jazz yang memadati amfiteater Java Banana Bromo larut dalam harmoni musik dan alam. Tak ketinggalan Djaduk yang identik dengan komposisi etniknya mengajak semua yang hadir di venue untuk menyanyikan anthem karya Ibu Soed “Tanah Airku” sebagai bentuk rasa cinta dan penghormatan pada tanah air.

Kejutan di Jazz Gunung masih berlanjut dengan tampilnya sang pianis kenamaan Nita Aartsen. Malam itu ia berkongsi dengan Jalu pada perkusi dan Yandi Andaputra pada drum yang kembali naik ke atas panggung. Masih dengan warna latin dan klasik ala Nita, aransemen “Für Elise” dan “Senor Mouse” dimainkan dengan apik. Ditambah sentuhan gitar flamenco Yeppy Romero menambah kemeriahan malam itu.

Suasana Jazz Gunung 2014 (foto oleh Jazz Gunung)
Suasana Jazz Gunung 2014 (foto oleh Jazz Gunung)
Syaharani (foto oleh Cholid Sulistyawan)
Syaharani (foto oleh Cholid Sulistyawan)

Setelah dibuai latin-jazz, suguhan musik energik kembali disajikan oleh Syaharani and the Queenfireworks (ESQI:EF). Dimulai dengan syahdunya “Di Bawah Sinar Bulan Purnama” kemudian berlanjut dengan hit “Selalu Ada Cinta” yang beraroma pop. Vokal powerful Syaharani dan iringan band Donny Suhendra menyemarakkan sesi terakhir gelaran Jazz Gunung 2014. Tak ketinggalan Nicole yang kembali muncul dari balik panggung dan ikut menyemarakkan sesi permainan blues dengan tiupan saksofonnya.

ESQI:EF menutup gelaran Jazz Gunung 2014 dengan aksi panggung yang mampu membuat audiens bersorak. Harmoni musik dan alam benar-benar menyatu dan terdengar hingga ke penjuru terjauh. Semoga gelaran serupa tak hanya menampilkan bebunyian di atas ketinggian, namun kearifan untuk bumi senantiasa dijaga. (Ari Kurniawati/WartaJazz)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker