News

Jelajah gitaristik Francesco Buzzurro

Liputan konser “L’Esploratore” Francesco Buzzurro di Usmar Ismail Hall, Jakarta, 24 September

Francesco Buzzurro_PPHUI_03Masyarakat Jakarta, khususnya pecinta musik untuk gitar, pantas bersykur dengan kehadiran Francesco Buzzurro malam itu (24/9). Francesco adalah gitaris asal Sisilia yang telah banyak menyelenggarakan konser di berbagai negara. Ia tidak bisa lepas dari tiga pengaruh dasar yang selama ini ikut mewarnai corak permainan gitarnya, yaitu bossa nova, etnik, dan latin jazz.

“Tetapi ini pertama-kalinya saya datang ke Asia, dan ini momen yang sangat penting dalam karir saya,” ungkapnya. “Dalam konser ini silakan bertepuk-tangan kapan saja. Itu juga menambah semangat saya. Ingat, ini bukan konser klasik,” tegasnya dengan disusul tepuk tangan dan tawa penonton. Konser kemudian berlanjut lebih meriah.

Program konser kerjasama Italia-Indonesia dan merupakan gagasan dari Istituto Italiano di Cultura Jakarta ini bertajuk “The Explorer” atau Sang Penjelajah. Francesco membawakan sedikitnya 11 karya, yang memang terdiri dari gubahan musik dalam banyak gaya dari berbagai negara, yaitu Italia, Spanyol, Argentina, Brasil, Meksiko, Amerika Serikat, Rusia, China dan Yunani.

Artistik panggung pun menyesuaikan tema yang dibawakan. Pun, setiap lagu dilatarbelakangi slide gambar yang berbeda-beda, dan itu selalu muncul bergantian dari layar besar, menuntun imajinasi kita untuk menghubungkan musik dalam konteks geografis dan budaya masing-masing.

Lagu “All of Me” digubahnya dengan gaya yang lebih tedas dan menghentak, dengan balutan sound yang tajam. Francesco piawai pula memainkan berbagai grafik dinamik lagu, sehingga permainannya tidak monoton. Ia sangat paham, bagian mana yang harus diberi penekanan (bahkan cenderung emosional), serta bagian mana yang harus lembut. Semua itu demi memikat hati sekitar 400 pentonton yang memadati Usmar Ismail Hall, Jakarta.

Francesco Buzzurro_PPHUI_01

Francesco Buzzurro mulai bermain gitar di usia kanak-kanak, tepatnya umur 6 tahun. Ayahnya memberi hadiah berupa gitar dan mengajarinya untuk pertama-kali. Kecintaannya pada gitar semakin dalam, ia lantas melanjutkan pendidikan di Conservatorio Bellini di Palermo, dan kemudian melanjutkan studinya lebih serius lagi kepada Aldo Minella dan Oscar Ghiglia. Dalam karir selanjutnya ia pun banyak berkolaborasi dalam berbagai konser besar yang bersama David Russel, Alberto Ponce, Hopkinson Smith, dan John Duarte.

Ia memang piawai, baik secara skill, aransemen, maupun penampilan—dan yang lebih istimewa lagi adalah energinya yang stabil ketika tampil di atas panggung, mempertahankan grafik emosi dengan penuh semangat. Hingga tak sadar ternyata konser telah usai. Penonton pun meminta tambahan (encore). Francesco pun langsung menyanggupi, salah satunya dengan memainkan “Bengawan Solo” teriring nyanyian audiens atas melodi indah dari nomor ciptaan Gesang tersebut. (Erie Setiawan/WartaJazz)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker