Java Jazz FestivalNews

Tesla Manaf, mendongeng lewat gitarnya di Java Jazz Festival 2015

Apabila dianalogikan dalam bentuk cerita, maka Tesla Manaf ibarat seorang pendongeng. Ia menuturkan rangkaian narasi kompleks, aneh, menarik dan emosional lewat musiknya. Dan para penonton di Lawu Acoustic Stage JIExpo Kemayoran sore itu adalah pendengar setia yang penasaran menanti akhir kisahnya.

Berawal pukul 16.15 WIB, Tesla Manaf yang didampingi oleh Hul Hul di klarinet, basis Krishna Alda Radiansyah, dan Desal Sembada di posisi drummer, mulai bercerita. Setiap petik, tiupan dan ketukan bagai mengisahkan kembali sebuah hikayat tanah Sunda yang telah lama hilang. Hul Hul tidak hanya memegang klarinet, ia juga memainkan tarompet yang membuat penonton sore itu makin terdiam, menyimak dengan seksama nada-nada yang mereka mainkan.

Penampilan mereka diwarnai dengan komposisi “Moving Sights,” “Necrophilia,” dan “Tales from the Undeniable Thought” yang juga merupakan bagian dari album baru Tesla yang belum lama dirilis oleh sebuah label di New York, Amerika Serikat, MoonJune Records. Tesla Manaf tetap menjaga keintiman suasana yang diciptakan Lawu Acoustic Stage sore itu dengan berbincang soal musiknya pada hadirin.

Unik dan atraktif adalah kata-kata yang dapat menggambarkan penampilan Tesla Manaf dan kawan-kawan. Ethnic fusion jazz yang ditampilkan petang itu merupakan sebuah dongeng unik yang dapat membuat orang duduk termangu dan menunggu akhir kisahnya dengan penuh selidik. Sebagai penutup cerita, Tesla berikan nomor pamungkas berjudul “Where Are We Now?” (Hafendra Adam/WartaJazz)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker