Java Jazz FestivalNews

Tak melulu “romantis,” Chris Botti sukses guncang Java Jazz

Teriring alunan nada “The Very Thought of You,” ribuan penonton yang memadati arena D2 Main Stage pada Sabtu malam (7/3) dikejutkan oleh adegan turun panggung Chris Botti, trumpeter yang menjadi salah satu daftar teratas para pengunjung Java Jazz Festival kali ini. Aksi Chris tersebut terang saja menarik perhatian dan membuat seluruh pandangan tertuju pada dirinya, berikut kepungan tangkap-gambar lewat kamera ponsel para audiens.

Chris Botti_2_Thomas

Konser tersebut merupakan kali pertama Chris Botti tampil di gelaran Java Jazz Festival, pun dari antrian panjang sebelum acara dimulai menunjukkan bahwa penggemar Chris Botti di tanah air tidaklah sedikit. Walaupun musik garapannya kerap mendapat deskripsi “romantis” yang rancu, namun malam itu Chris hadirkan suasana yang cukup beragam, membuat definisi tunggal “romantis” atas keseluruhan acara itu terdengar konyol.

Chris Botti_3_Thomas

Terlepas dari kadar jazz Chris Botti yang mungkin tak sampai 24 karat, satu hal yang paling kentara darinya adalah kepekaan mengolah melodi dan nuansa, khususnya dalam kosakata ballad. Semisal pada sambutan awal “En Aranjuez con tu amor” yang elusif, pula menjalin percakapan halus dengan violinis Caroline Campbell. Demikian pula ketika berlanjut kepada “When I Fall in Love” dengan introduksi ad libitum, namun di tengahnya beralih irama rancak yang ingatkan pada garapan fusion Miles Davis, serta terdengar kutipan “Moanin’” milik Bobby Timmons.

Chris Botti_crowd_Ghitha

Tata suara di ruangan D2 Main Stage malam itu terbilang nyaman, hampir tidak terdengar dentuman bunyi “bocoran” dari ruang sebelah seperti yang kerap terjadi, begitu pula saat Chris membaur dengan audiens, bunyi trumpetnya terdengar jernih. Di bagian lain, pianis Taylor Eigisti juga suguhkan permainan cekatan dan rampak, saat iringi Sy Smith pada nomor “The Look of Love” terlampir prosa “Night in Tunisia” yang bergejolak.

Chris Botti_1_Thomas

Selepas balada “Italia” kemudian derap bolero Ravel yang meliputi “Con Te Partiro,” aksen pertunjukan kembali dinyatakan lewat pameran drum tunggal Lee Pearson. Melihat aksinya tersebut, penonton dikejutkan oleh kemahiran serta kesigapan Lee dalam bongkar-pasang irama, ibarat perpaduan antara sirkus akrobatik dan piroteknik kembang api di malam pergantian tahun. Tanpa dikomando, audiens pun langsung merespons dengan aplaus dan teriakan yang bergemuruh penuhi seisi ruangan.

Tags

Thomas Y. Anggoro

Lulusan ISI Yogyakarta. Telah meliput festival di berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker