News

Percakapan dengan Kebisingan 2.0: Orkestra Retetet Ndona-Ndona

Percakapan dengan Kebisingan 2.0: Orkestra Retetet Ndona-Ndona
Percakapan dengan Kebisingan 2.0:
Orkestra Retetet Ndona-Ndona

Kebisingan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia yang tidak dapat dipungkiri dan tiada mampu dihindari. Perlu disadari dan diakui pula, bahwa kebisingan-kebisingan yang tidak diinginkan menjadi salah satu pemicu stres yang berakibat pada menurunnya kualitas hidup manusia yang terpapar kebisingan tersebut. Idealnya, manusia harus mengurangi paparan kebisingan atas dirinya untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Namun bagaimana jika keadaan ideal tersebut tidak mampu dicapai? Apa solusinya? Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan percakapan dengan kebisingan. Bukan untuk merayakan kebisingan, namun untuk merangkul masalah kebisingan dengan harapan kita dapat mengurangi kebisingan yang berdampak pada kualitas hidup manusia.

Pada Jogja Artweeks 2015 lalu, Percakapan dengan Kebisingan yang digagas oleh Jay Afrisando telah ditampilkan dalam bentuk karya audio visual yang mengangkat pengalaman bercakap-cakap dengan kebisingan di ruas-ruas jalan raya di Yogyakarta. Karya tersebut cukup berhasil memberikan gambaran bagaimana musik sebagai media percakapan mampu melakukan dialog dengan kebisingan jalan raya. Namun demikian, dalam karya tersebut audiens hanya menjadi pengamat terhadap percakapan dengan kebisingan yang dihadirkan. Pengalaman audiens dalam percakapan dengan kebisingan akan lebih kaya jika audiens juga ikut berpartisipasi dalam percakapan tersebut. Oleh sebab itu, karya Percakapan dengan Kebisingan 2.0: Orkestra Retetet Ndona-ndona yang akan ditampilkan kembali oleh Jay Afrisando ini diciptakan untuk memberikan ruang yang lebih luas kepada masyarakat untuk bercakapcakap dengan kebisingan.

Karya Percakapan dengan Kebisingan 2.0 : Orkestra Retetet Ndona-Ndona bertujuan mengajak kita semua untuk merangkul masalah kebisingan yang terjadi di sekitar kita. Dengan harapan, kita dapat berpikir ulang tentang ruang suara dan kontribusi masyarakat padanya serta dapat menempatkan bunyi pada konteks yang tepat (berdasarkan ruang dan waktu yang tepat) dengan kesadaran tanggung jawab akan bunyi itu pada diri sendiri dan masyarakat. Perwujudan percakapan dengan kebisingan tersebut akan disajikan dalam bentuk pertunjukan oleh 5 orang musisi dan bersifat partisipatoris. Artinya, penonton pertunjukan adalah bagian dari kolabolator dalam pertunjukan ini. Karya ini akan dipresentasikan sebagai kelanjutan Jogja Artweeks 2015 dan untuk menyongsong Jogja Artweeks 2016 yang akan diselenggarakan pada bulan Mei 2016 mendatang. Kebisingan akan ditampilkan dalam bentuk suara-suara kendaraan bermotor yang telah dibuat dalam bentuk dokumen audio dalam aplikasi telepon genggam (iOS & Android) yang bisa dengan bebas diunduh dan dimainkan oleh siapa saja. Aplikasi ini yang akan digunakan oleh penonton pertunjukan sebagai media partisipasi. Sehingga penonton diharapkan TELAH MENGUNDUH aplikasi tersebut sebelum memasuki ruang pertunjukan.

Pada akhirnya, karya ini adalah hasil kolaborasi antara musisi, perekam audio, programmer aplikasi, dan penonton pertunjukan. Pertunjukan Percakapan dengan Kebisingan 2.0: Orkestra Retetet Ndona-Ndona akan diselenggarakan pada hari Rabu, 27 Januari 2016 di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM. Pintu dibuka pada pukul 19:00 WIB dan pertunjukan akan dimulai pada pukul 19:30 WIB. Penonton dapat bergabung di acara ini hanya dengan memberikan kontribusi sebesar Rp 20.000. Pertunjukan ini dipersembahkan oleh Jogja Artweeks 2016 dan PKKH UGM serta didukung oleh Mangrove Printing, Viavia Restaurant Yogyakarta, Momento Café, American Corner UMY, Waroeng DeMID, Wartajazz, ArdiaFM, JogjaUpdate, PamitYang2an, dan ElangElangElang (WartaJazz)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker