Mode[a]rnKehidupan modern yang diliputi dengan kecanggihan teknologi ini membawa dampak positif sekaligus negatif pada kemampuan manusia memaknai kehidupan. Teknologi yang ada di zaman modern ini membuat orang semakin mengabaikan esensi atas dirinya dan kehidupan yang dijalaninya. Hal ini disebabkan karena teknologi bersifat menyingkat realitas. Sebagai respon atas kenyataan tersebut, Mode[a]rn yang berasal dari kata modern, earn, dan learn dimunculkan sebagai pertunjukan seni musik untuk menyingkap realitas tersebut dan sebagai pengingat bahwa manusia seharusnya mendapatkan sesuatu (earn) dan belajar (learn) dari kehidupan modern ini dan bukan hanya menjadi konsumen atau bahkan menjadi korban atas kemajuan teknologi di era modern ini. Pertunjukan Mode[a]rn akan dihadirkan dalam bentuk karya akustik-elektronik yang melibatkan musisi dan programmer dan sekaligus bersifat partisipatoris yang melibatkan penonton dalam penciptaan karya. Pertunjukan musik Mode[a]rn akan melibatkan musisi dan programmer, serta penonton, yang akan menggunakan instrumen akustik sampai elektronik serta instrumen konvensional sampai aplikasi teknologi informasi yang dapat dimainkan dengan mudah oleh para penonton. Selain itu, pertunjukan ini pun akan menggunakan media sosial (Twitter) sebagai salah satu medium dalam penciptaannya. Repertoar dalam pertunjukan Mode[a]rn menggunakan pendekatan composed-improvisation di mana penonton akan menjadi salah satu peran yang utama dalam penciptaan musiknya.
Pertunjukan ini dilakukan selama dua hari, Senin & Selasa (25 & 26 April 2016) di Auditorium IFI/LIP Yogyakarta, Jl. Sagan No.3 Yogyakarta, pukul 19:00 WIB (open gate)
Pertunjukan ini akan melibatkan 5 musisi dengan instrumentasi sebagai berikut: vokal (Bawien Panggalih); drums & perkusi (Okvan Pramudya); bass (Ignatius Made); komposer, penata pertunjukan, & wind instruments (Jay Afrisando); dan keyboard/piano (dimainkan jarak jauh oleh Leilani Hermiasih dari Berlin, Jerman). (wartaJazz)