NewsProfile

Pianis muda nominator Grammy dari Indonesia – Joey Alexander

Joey Alexander dilahirkan pada 25 Juni 2003 di Denpasar di Pulau Dewata Bali. Sejak usia empat tahun, sang Ayah, Denny Sila kerap memperdengarkan musik yang dimainkan Louis Armstrong dan Harry Connick Jr yang CDnya diputar sang ayah setiap hari. . Ia mulai bermain musik di usia 6 tahun.

Joey Alexander, source flickr US Embassy Jakarta
Joey Alexander, source flickr US Embassy Jakarta

Dalam sebuah wawancara Joey menyebut sejumlah nama seperti Bonny, Erik Sondhy, Rio Sidik, Koko Harsoe – para musisi jazz yang bermukim di Bali – sebagai nama penting diawal karirnya. Simak video yang diupload Bonny di tahun 2011.

[youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=JycPSvwypqc” width=”560″ height=”315″]

Berdasarkan catatan kami, ketika Joey berusia delapan tahun keluarganya pindah ke Jakarta agar ia bisa mempelajari musik secara akademis formal. Setahun di Farabi di bawah bimbingan Nita Aartsen dan mengikuti kelas master dengan pianis dan komposer terkenal jazz Indra Lesmana, memberinya landasan dalam teori musik dan terbukti menjadi pengalaman yang berharga bagi Joey. Indra Lesmana mengatakan ia membimbing Joey selama dua tahun, seperti dimuat dalam sebuah artikel yang ditulis Kompas.

[youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=rWMskd_n3DI” width=”560″ height=”315″]

Saat Herbie Hancock yang saat itu sebagai UNESCO Goodwill Ambassador datang dalam sebuah talk-show yang merupakan kerjasama antara LIPI dan UNESCO dan digelar di @america bertema peran musik dalam membentuk kesadaran menghadapi bencana diantara anak muda Indonesia, Joey Alexander diberikan kesempatan tampil setelah band Navicula. Hancock berkata pada Joey bahwa ia percaya padanya, dan hari itu Joey langsung memutuskan mendedikasikan masa kecilnya untuk jazz.

[youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=n7WFIPJIHyA” width=”560″ height=”315″]
Joey Alexander dan Herbie Hancock
Joey Alexander dan Herbie Hancock

Di usia 9 tahun Joey memenangkan Grand Prix di acara Master-Jam Fest 2013, sebuah kompetisi musik jazz di Odessa, Ukraina, yang melibatkan 43 musisi dari 17 negara. Keberangkatan Joey ke Ukraina dikoordinasi para musisi jazz kawakan seperti Idang Rasjidi dan Tompi
dengan dukungan pengusaha Arifin Panigoro dan Yana Panigoro.

Dalam acara World Youth Jazz Festival yang digelar pada 7 hingga 8 September 2013 di Jungleland Sentul, Joey Alexander tercatat sebagai musisi jazz termuda Indonesia dan kala itu usia Joey masih berusia belia, 10 tahun – jika dibandingkan para penampil lain dari Indonesia maupun dari negara tetangga yang juga tampil dalam festival tersebut.

Dalam wawancara yang dilakukan Republika terungkap bahwa Musisi jazz kawakan sekaligus founder World Youh Jazz Festival, Idang Rasjidi mengisahkan awal pertemuannya dengan Joey. Kala itu, Joey tiba-tiba menawarkan diri bermain piano seusai Idang pentas di sebuah kafe jazz. Di situ Idang terpukau dengan kemampuan Joey.

“Joey naik panggung dan minta izin main musik. Awalnya saya berpikir, anak mana ini? Saat ia bermain, saya terdiam. Aura jazz Joey sudah terlihat saat itu. Saya sangat menghargai kerja keras dan pengorbanan orangtua Joey atas semua pencapaian putra mereka,” tutur Idang di Jungleland Sentul, Bogor, Kamis (5/9/2013).

Wajar jika orang tua Joey, Denny Sila dan Fara Leonora Urbach menganggap Idang Rasjidi adalah “orangtua” yang turut membesarkan nama Joey sebelum ia hijrah ke Amerika Serikat.

Saat usianya menginjak sepuluh tahun Joey telah tampil dengan musisi-musisi jazz papan atas seperti Ireng Maulana, Benny Likumahua, Idang Rasjidi, Indra Lesmana, Oele Pattiselanno, Indro Hardjodikoro, Barry Likumahua, Sandy Winarta, Tompi, Tohpati, Shadu Rasjidi, Monita Tahalea, pianis/komposer legendaris Boy Katindig dari Filipina, pemain perkusi terkenal Steve Thornton dan juga dengan beberapa musisi Jazz Eropa.

Joey pernah pula tampil di Ramadhan Jazz Festival kala itu bersama Barry Likumahuwa (bass), Sandy Winarta (drums) dan Bass G (sax).

[youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=SdTbywGk5CU” width=”560″ height=”315″]

Sebelum tampil di World Youth Jazz Festival, Joey hadir pula di acara rutin yang digagas oleh Riza Arshad yaitu Serambi Jazz Agustus 2013. Saat itu ia tampil bersama Donny Sundjoyo (Doublebass), Elfa Zulham Syah Warongan (Drums) dan Indra Dauna (Trompet).

[youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=L5QrTr9xPzw” width=”560″ height=”315″]

Joey juga pernah tampil di Locafore, sebuah festival jazz yang digelar dikawasan perumahan Kota Baru Parahyangan. Dan kami pernah menurunkan artikel tentang hal tersebut disini.

***

Youtube, bisa dikatakan sebagai salah satu media sosial yang cukup berjasa bagi karir musik Joey. Lewat Youtube, pemain terumpet jazz kenamaan, Wynton Marsalis, yang juga direktur artistik pertunjukan jazz di Lincoln Center, melihat penampilan Joey yang memainkan komposisi Coltrane, Monk dan Chick Corea, atas saran seorang temannya. Ia sangat terkesan atas penampilan Joey hingga menyebutnya “pahlawanku” pada status di akun Facebook-nya.

[youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=Y_fQrcEfXRU” width=”560″ height=”315″]

Namun titik tolak Youtube ini sebenarnya terletak pada Irsan Wallad bersama dengan Lucy Willar dan team di ICanstudioLive-nya. Merekalah yang merekam aksi Joey dan mengunggahnya ke Youtube – dan model ini yang kemudian berkembang juga untuk para musisi-musisi lainnya.

[youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=lNL8aJglYVw” width=”560″ height=”315″]

Marsalis lalu mengundang Joey untuk tampil pada gala organisasinya di bulan Mei 2014, saat Joey berusia 10 tahun. Saat itulah Joey memulai debutnya di Amerika Serikat. Penampilan Joey mendapat review positif hingga ia disebut-sebut sebagai prodigy. Jeanne Moutoussamy-Ashe, janda dari petenis Arthur Ashe, mengundang Joey untuk tampil di gala Arthur Ashe Learning Center, dimana ia bermain di depan banyak orang. Salah satunya adalah mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton. Moutoussamy-Ashe lalu mengenalkan Joey kepada Gordon Uehling III, pendiri Court Sense Tennis Training Center, yang pada akhirnya mengijinkan Joey dan keluarganya untuk tinggal di perumahannya di Alpine, New Jersey.

[youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=W2bUPjG-Vno” width=”560″ height=”315″]

Joey Alexander kemudian bermain di A Great Night di Harlem di Apollo Theater, sebuah penampilan untuk menghormati Herbie Hancock. Puncak penampilannya di Amerika Serikat adalah ketika penampilannya di Universitas Columbia menjadi viral di Internet, mencatatkan lebih 500,000joey-alexander-jiexpo penonton di Facebook.

Joey juga bermain di sebuah konser bersama dengan siswa dari Juilliard School, yang merupakan proses dari pendanaan untuk meneruskan tinggal di New York City. Konsernya mendapat perhatian dari media nasional yaitu NBC News, yang membuat Joey sukses mendapat visa O-1, visa dimana ia dijamin sebagai “individu dengan kemampuan luar biasa” sehingga ia dapat mengejar karir di kota Big Apple tersebut. Di Jakarta ia pun tampil di International Java Jazz Festival 2014 dan di Copenhagen Jazz Festival.

Joey pun di undang dalam acara TED Talks Maret 2015 dan mendapatkan apresiasi luar biasa. Anda bisa membaca mengenai acara tersebut di link berikut. http://www.ted.com/talks/joey_alexander_an_11_year_old_prodigy_performs_old_school_jazz

Bagi Joey Alexander, bermain musik jazz bukan hanya keahlian atau keterampilan yang diperoleh lewat mengingat dan latihan formal, tapi merupakan kecintaannya pada musik tersebut. Pada sebuah wawancara, Joey mengatakan bahwa, “Bagiku jazz adalah panggilan hati. Aku mencintai jazz karena ini adalah tentang kebebasan untuk mengekspresikan diriku dan spontan, penuh dengan ritme dan penuh dengan improvisasi.”

Di tahun 2015 tepatnya tanggal 12 Mei, saat usianya masih 11 tahun, Joey merilis debut albumnya yang berjudul “My Favorite Things”, di bawah label yang berpusat di Harlem yaitu Motéma Music dan diproduseri oleh pemenang Grammy Award, Jason Olaine. Joey mulai merekam album ini di bulan Oktober 2014. Ia mengaransemen semua lagu di dalam album tersebut termasuk rendisi “Round Midnight”, “Giant Steps” karya Coltrane dan “Lush Life” karya Billy Strayhorn.

Album ini juga berisi komposisi asli milik Joey yang diberi judul “Ma Blues”, yang terinspirasi dari “Moanin” karya Bobby Timmons “. Album ini juga menyajikan kerjasama Joey sebagai band dengan Russell Hall, Alphonso Horne dan Sammy Miller, serta penampilan tamu dari Larry Grenadier dan Ulysses Owens. Album debutnya ini cukup mendapat tanggapan positif dari penikmat musik jazz di Amerika Serikat. Album ini berhasil menempati posisi 174 pada akhir pekan tanggal 30 Mei 2015, dan ini menjadikan Joey sebagai orang Indonesia pertama yang masuk ke dalam chart Billboard 200.

Kabar menggembirakan pun muncul di akhir tahun 2015 ini, Joey mendapat 2 nominasi Grammy Award yaitu kategori Best Jazz Instrumental Album (album instrumental jazz terbaik) lewat album “My Favorite Things” dan kategori Best Improvised Jazz Solo (improvisasi jazz solo terbaik) lewat penampilannya yang berjudul “Giant Steps”. Nominasi Grammy yang didapat Joey di usia 12 tahun menjadikannya bergabung bersama Michael Jackson dan Zac “Hanson” yang juga berusia 12 tahun saat mendapat nominasi Grammy pertama mereka.

[youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=Au6-EK7jCGM” width=”560″ height=”315″]

Pasca nominasi Grammy, Joey diundang di berbagai festival jazz di seluruh dunia, diantaranya Montreal International Jazz Festival, New Port Jazz Festival, Apollo Theater.

[youtube url=”https://www.youtube.com/embed/TnU5sT6ZPC4″ width=”560″ height=”315″]

Pada 30 April lalu tepatnya dalam rangka Perayaan International Jazz Day, Joey Alexander diundang tampil dihadapan presiden Barack Obama. Ia tampil bersama saxophonis Wayne Shorter dan bassis Esperanza Spalding memainkan komposisi Footprints milik Shorter. Simak video berikut.

[youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=zrsRKb8__Z0″ width=”560″ height=”315″]

Mendahului rencana konser Joey 22 Mei 2016 tersebut, pada tanggal 19 Mei 2016, penyelenggara konser Joey Alexander di Jakarta juga menyiapkan acara “Jazz Gathering” di Soehanna Hall, yaitu sebuah mini festival yang menghadirkan kolaborasi sembilan pianis jazz muda Indonesia berbakat bersama beberapa musisi jazz senior. Konser ini diharapkan menjadi ajang silaturahmi sesama musisi jazz khususnya dan penikmat musik seluruh Indonesia pada umumnya.

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker