New ReleaseNews

Metamorfosa, album terbaru milik Andien dirilis

Menandai 17 tahun berkarir di belantika musik Indonesia, penyanyi Andien Aisyah kembali mengeluarkan album terbarunya bertajuk Metamorfosa yang diluncurkan pada Rabu (4/10) di Auditorium Galeri Indonesia Kaya. Album ini menjadi obat kerinduan para penggemar akan lantunan suara indah dari penyanyi yang telah sukses dengan 6 album sebelumnya.

Album ketujuh yang dikeluarkan Andien ini terasa begitu personalbagi penyanyi berusia 32 tahun ini. Senada dengan judulnya, album Metamorfosa ini menggambarkan perubahan kehidupan Andien mulai dari awal karir hingga kini juga menyandang peran sebagai seorang istri dan ibu. Selain itu, album ini juga digarap secara indie yang membuat Andien dan tim managemennya harus
belajar mengerjakan semuanya secara sendiri. Ini bukan kali pertama Andien mengeluarkan album yang tidak bergantung pada label musik mayor. Sebelumnya Andien pernah mengeluarkan album indie berjudul ‘Bisikan Hati’ yang rilis pada tahun 2000.

Rekaman album yang diproduseri oleh Nikita Dompas ini dimulai ketika Andien 4 bulan mengandung anak pertamanya, Anaku Askara Biru. Proses pembuatan album ini memakan waktu hampir kurang lebih satu tahun mulai dari persiapan materi album hingga mastering dan telah didistribusikan dalam bentuk CD album dan digital mulai Oktober tahun ini.

“Album ini membawa saya kembali ke warna musik saya di awal-awal karier, tentu saja dengan segala pendewasaan atas proses yang sudah saya jalani selama ini, baik di musik maupun di luar
musik. Juga menjadi bentuk rasa syukur atas perjalanan hidup dan karir yang telah saya lalui sampai sekarang ini. Saya banyak mengeksplorasi dan bereksperimen dengan musik yang membuat album ini terasa berbeda dengan album sebelumnya. Selain berkolaborasi dengan banyak musisi, album ini juga kolaborasi saya dengan Kawa yang sudah menemani sejak masih dalam kandungan,” ujar Andien.

Sejak awal debutnya, Andien telah tumbuh dan berkembang dengan kehadiran penonton, mentor, dan para kritikus. Ketekunan, kerja keras, dan semangatnya membuahkan banyak penghargaan
sekaligus reputasi sebagai salah satu penyanyi papan atas Indonesia.

Mendengarkan album Metamorfosa serasa mendengarkan Andien di awal karirnya, namun dengan versi yang lebih dewasa. Single Belahan Jantungku dan Indahnya Dunia merupakan dua lagu yang ditemukan di album ini. Belahan Jantungku bercerita tentang kebahagiaan Andien sebagai seorang ibu dari sang buah hati. Lagu yang dibuat oleh Tulus ini dirilis ketika Andien hamil 8 bulan.

Sedangkan lagu Indahnya Dunia merupakan single kedua yang mengajarkan tentang rasa syukur untuk menikmati keindahan yang tak hanya ditangkap oleh mata, namun juga perasaan. Video klip yang bekerja sama dengan Bakti Budaya Djarum Foundation ini mengambil lokasi di Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara dan dikemas dengan visual yang menunjukkan keindahan alam
Indonesia, aneka pertunjukan kesenian tradisional, hingga senyum ramah khas masyarakat Maluku.

Sebanyak 11 lagu yang ada dalam album ini kental nuansa jazz dan lebih soulful. Selain Belahan Jantungku dan Indahnya Dunia, penikmat musik tanah air juga dapat mendengarkan lantunan suara
indah Andien pada lagu Warna, Biru, Askara, Metamorfosa, Halo Sayangku, Pelita. Untuk album ini, Andien menggandeng beberapa musisi seperti Tohpati, Abenk Alter, Lale Ilman Nino bahka Tulus juga turut serta memberikan warna pada album ini.

“Selama hampir 15 tahun bekerja sama dengan Andien, gue melihat Metamorfosa ini adalah album yang paling menggambarkan Andien, musik dan kehidupannya. Mulai dari pemilihan materi, musik, sampai musisi yang berkolaborasi di album ini, semuanya di sesuaikan dengan style Andien yang sekarang ini, termasuk kebutuhan lagunya. Maka dari itu beragam musisi dan pencipta lagu juga arranger terlibat di album ini. Album ini juga menjadi jawaban bagi para penggemar Andien yang merindukan warna musik Andien di 3 album awal,” ujar Nikita Dompas yang juga merupakan pentolan kelompok jazz Tomorrow People Ensemble.

***

Dukungan PT Djarum dalam bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dilaksanakan oleh Djarum Foundation yang didirikan sejak 30 April 1986, dengan misi untuk memajukan Indonesia menjadi negara digdaya yang seutuhnya melalui 5 bakti, antara lain Bakti Sosial, Bakti Olahraga, Bakti Lingkungan, Bakti Pendidikan, dan Bakti Budaya. Semua program dari Djarum Foundation adalah bentuk konsistensi Bakti Pada Negeri, demi terwujudnya kualitas hidup Indonesia di masa depan yang lebih baik dan bermartabat.

Dalam hal Bakti Budaya Djarum Foundation, sejak tahun 1992 konsisten menjaga kelestarian dan kekayaan budaya dengan melakukan pemberdayaan, dan mendukung insan budaya di lebih dari
2.500 kegiatan budaya. Beberapa tahun terakhir ini, Bakti Budaya Djarum Foundation melakukan inovasi melalui media digital, memberikan informasi mengenai kekayaan dan keragaman budaya
Indonesia melalui sebuah situs interaktif yang dapat diakses oleh masyarakat luas melalui www.indonesiakaya.com. Kemudian membangun dan meluncurkan “Galeri Indonesia Kaya” di
Grand Indonesia, Jakarta. Ini adalah ruang publik pertama dan satu-satunya di Indonesia yang memadukan konsep edukasi dan multimedia digital untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia
agar seluruh masyarakat bisa lebih mudah memperoleh akses mendapatkan informasi dan referensi mengenai kebudayaan Indonesia dengan cara yang menyenangkan dan tanpa dipungut biaya.

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
WhatsApp Perlu bantuan?