News

Trumpeter Tomasz Stańko Meninggal dalam usia 76 tahun

Tomasz Stanko
Tomasz Stanko

 

Kanker paru-paru menyerang figur avant garde Eropa dan Amerika

Tomasz Stańko, seorang pemain trumpet jazz asal Polandia yang suara nya terkadang terdengar pecah-pecah dengan lekuk-lekuknya yang berjendul memposisikannya menjadi cahaya terdepan di bidang avant garde Polandia dan Eropa secara umum, meninggal pada Minggu, 29 Juli, di sebuah rumah sakit di Warsawa, Polandia akibat kanker radang paru-paru rumit. Kematiannya hanya berselang kurang dari tiga minggu setelah ulang tahunnya ke-76.

Kematiannya dikonfirmasi oleh beberapa outlet, termasuk Reuters dan Associated Press, serta oleh label rekamannya yang lama, ECM Records.

Meskipun (selalu) dikaitkan dengan free jazz dan avant-garde untuk hampir 60 tahun kariernya, Stańko tidak membuat musik yang keras dan garang. Sebaliknya, ia mengembangkan versi improvisasi bebas, meditatif, dan liris dari free improvisasi, salah satu yang menggunakan ruang dengan bebas dan menggunakan nada terompet yang sangat tipis untuk tujuan ekspresif. Pada saat yang bersamaan, musiknya memiliki ritme yang tak putus-putus.

Stańko banyak bekerja dan bermain bersama musisi di Amerika Serikat termasuk Chico Freeman dan Jack DeJohnette. Di tahun-tahun terakhirnya ia memimpin kuartet yang seluruhnya terdiri dari musisi muda yang berpikiran maju yang berbasis di New York. Namun demikian, kariernya terutama berpusat di Eropa, dan Polandia pada khususnya. Pianis Marcin Wasilewski, seorang anak didik dan rekanan lama Stańko, mengatakan kepada JazzTimes pada tahun 2002, “Dia adalah musisi jazz terbesar di negara kami.”

Tomasz Stańko lahir 11 Juli 1942 di kota Rzeszów di Polandia yang diduduki Nazi, dan dibesarkan di bawah hegemoni komunis Soviet. Namun, terlepas dari rantai rezim yang menindas itu, Stańko muda mampu menemukan jazz melalui siaran Voice of America dari advokat jazz Willis Conover. Pada tahun 1958, ketika menjadi mahasiswa di Chopin Conservatory of Music di Krakow, Stańko melihat konser jazz pertamanya, pertunjukan Dave Brubeck Quartet yang disponsori oleh Departemen Luar Negeri AS. “Pesannya adalah kebebasan,” katanya kepada New York Times. “Jazz adalah [a] sinonim dari budaya Barat, kebebasan, gaya hidup yang berbeda.”

Tak lama setelah itu, ia memulai debutnya di Krakow. Stańko ikut memimpin, bersama pianis Adam Makowicz, sebuah band bernama Jazz Darings yang mengambil inspirasi dari suara “bebas” baru dari Ornette Coleman Quartet. Stańko akan menampilkan pengaruh terompet quartet itu, Don Cherry, sepanjang kariernya. (Stańko bekerja dengan Cherry di sebuah festival jazz Jerman pada tahun 1971, yang hasilnya dapat didengar di album Cherry’s Actions.)

Pada sekitar tahun 1961, ia pindah ke Warsawa dan bergabung dengan kuintet yang dipimpin oleh pianis lain, Krzysztof Komeda – bekerjasama di sebagian besar tahun 60-an. Stanko adalah bagian dari rekaman Komeda tahun 1965, Astigmatic, sering disebut-sebut sebagai album paling penting dalam sejarah free jazz Eropa. Sang peniup terompet menunjukkan pengaruh Cherry dalam spontanitasnya, lyricism dan hubungan cepat dan longgar dengan nada suara; namun, ia juga membangkitkan Miles Davis, pahlawan pertama Stańko, dengan nada lembut dan penggunaan ruang dan atmosfir.

Ketika Stańko mulai merekam dengan namanya sendiri pada tahun 1970 untuk beberapa label kecil Eropa (Lebih sering dengan Muza Records yang berbasis di Warsawa), hubungan yang terjalin sejak tahun 1975 dengan ECM Records Jerman akan membuktikan hal paling produktif dan bermanfaat. Ini menyuplai jalan untuk berkolaborasi dengan musisi jazz Eropa lainnya, seperti pemain saksofon Inggris John Surman dan bassis Dave Holland, pianis Swedia Bobo Stenson, dan pemain saksofon Norwegia Jan Garbarek, serta dengan orang-orang Amerika seperti DeJohnette dan bassis Gary Peacock.

Meskipun ia bekerja dengan mantap sepanjang tahun 1980-an dan 1990-an, kesuksesan terbesar Stańko terjadi dalam 20 tahun terakhir, dimulai dengan keberhasilan mengejutkan dari album tahun 1997 ECM-nya Litania (sebuah penghargaan untuk Komeda, yang meninggal pada tahun 1969). Kesuksesannya berlanjut di abad baru ketika ia membentuk kemitraan abadi dengan trio Warso dari pianis Marcin Wasilewski, bassis Slawomir Kurkiewicz, dan drummer Michal Miskiewicz. Dia juga memantapkan New York sebagai tempat tinggal kedua di mana dia bekerja secara teratur di klub dengan musisi yang tinggal di kota dengan julukan Big Apple tersebut.

Pada tahun 2012 ia membentuk New York Quartet, menampilkan pianis David Virelles, drummer Gerald Cleaver dan bassist Thomas Morgan (digantikan oleh Reuben Rogers pada tahun 2016).

Pada April lalu, ia didiagnosa menderita kanker paru-paru yang berkembang lebih parah pada bulan Juni.

Kematian Stańko dipenuhi rada duka mendalam dari rekan-rekannya. Dave Holland menulis twit “Dia adalah seorang musisi yang unik dengan perasaan yang mendalam dan jiwa yang lembut,”.

“Sangat bersedih mendengar berita ini,” kata bassis Michael Formanek. “Dia adalah pria sekaligus musisi yang indah”

Stańko meninggalkan saudari perempuannya, Jaga Stańko Ekelund, dan putrinya, Anna Stańko.

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker