News

Korelasi Jazz dengan Gerakan Black Lives Matter? (Bagian kedua)

Korelasi Jazz dengan Gerakan Black Lives Matter?

Kasus rasisme di Amerika memang sudah tak mengherankan lagi. Bahkan kasus rasisme di negara asal muasal musik jazz itu masih menjadi momok utama.
Awal Juli 2016, AS digunjang oleh kejadian yang memilukan. Dua pria kulit hitam meninggal dunia akibat tertembus peluru dari pistol yang diletuskan oleh petugas kepolisian setempat. Padahal kedua pria itu bukanlah seorang kriminal jalanan. Kedua kasus tersebut kemudian menjadi viral dan menjadi isu nasional sebab petugas yang menembak itu polisi berkulit putih.
Pria yang pertama adalah Philando Castile. Ia ditembak oleh polisi pada 6 Juli 2016 ketika merogoh kantongnya untuk mengambil SIM serta tanda pengenalnya saat mobilnya diberhentikan oleh pemeriksaan polisi di negara bagian Minnesota.
Korban kedua adalah Alton Sterling, seorang penjaja compact disc (CD) di Lousiana.
Keduanya memang membawa pistol ketika itu. Namun, berdasarkan keterangan saksi mata dan video rekaman akan peristiwa tersebut, mereka tidak berada dalam posisi menggunakan pistol tersebut untuk mengancam polisi.
Pada 13 Maret 2020, Breonna Taylor seorang pekerja medis wanita kulit hitam berusia 26 tahun ditembak dan dibunuh di apartemennya di Louisville, Kentucky, oleh Departemen Polisi Louisville Metro. Pacar Breonna Taylor yang bernama Kenneth Walker lalu terlibat baku tembak dengan polisi, karena ia percaya bahwa polisi yang memaksa masuk adalah tamu tak diundang. Dalam baku tembak tersebut, polisi menembak 20 kali, Breonna Taylor tertembak 8 kali sampai akhirnya meninggal.
Pihak polisi mengatakan bahwa mereka sedang menginvestigasi penjualan obat terlarang. Salah satu tersangkanya memiliki hubungan dengan Taylor. Surat penggeledahan mencakup apartemen Taylor karena ia termasuk yang dicurigai. Namun tidak ada obat-obatan terlarang yang ditemukan diapartemennya.
Kenneth memiliki izin untuk membawa pistol dan menembak duluan, melukai seorang polisi, kemudian polisi balas menembak ke dalam apartemen dengan lebih dari 20 tembakan. Pihak keluarga menuntut departemen kepolisian yang memasuki apartemen tanpa permisi ataupun mengumumkan izin penggeledahan, dan mulai menembak tanpa mempedulikan nilai nyawa manusia.
Puncaknya adalah kasus George Flyod 46 tahun warga kulit hitam di Minneapolis, dengan tuduhan membeli rokok dengan uang palsu $20 di toko Cup Foods. Flyod ditangkap oleh polisi bernama Derek Chauvin dan ketiga rekannya: Thomas Lane, Tou Thao, dan J Alexander Kueng yang turut menyaksikan ketika Chauvin mengunci leher Flyod dengan lututnya hingga tak berdaya dan hanya dapat memohon pertolongan dengan kata-kata; “Please, I can’t breath (tolong, saya tidak bisa bernafas)” dan berakhir dengan meregang nyawa.
Kasus tersebut mengundang kegeraman banyak pihak dan isu rasisme di Amerika Serikat antara kelompok kulit putih dan kelompok kulit hitam. Banyak warga Amerika yang melakukan protes hingga berujung pada kericuhan, mereka menyuarakan kemarahan atas kematian George Flyod akibat sikap polisi Minneapolis yang dinilai rasis dan tidak manusiawi.
Kasus ini menjadi perhatian dunia dan slogan Black Live Matter ramai disuarakan kembali oleh banyak orang, termasuk para politisi, publik pigur, dan aktivis yang satu suara, mengecam tindakan tersebut.
Kematian George Flyod pada 25 Mei 2020 menunjukkan bagaimana orang kulit hitam menjadi sasaran kekerasan yang berlebihan. Kematian pria dan wanita kulit hitam yang tak terhitung jumlahnya adalah bentuk “genosida” dan menurut seorang pengacara Benjamin Crump pembunuhan George Flyod adalah pola yang sama dari rasisme sistematis.
Pada 18 Desember 1865 merupakan pasak waktu yang sangat bersejarah bagi Amerika Serikat. Pada hari itu, AS menyatakan diri bebas dari perbudakan orang kulit hitam melalui pengesahan Amandemen ke-13 sebagai bagian dari konstitusi Negara Adi Daya itu.
Lebih dari 150 tahun berselang, AS ternyata belum pernah benar-benar bebas dari rasisme. Bentrokan demi bentrokan atas nama warna kulit masih terjadi di negeri itu.
Disaat seperti itulah musik jazz dilahirkan di Amerika Serikat.

Ahmad Jailani

Menyukai jazz sejak masih di SMP. Wiraswastawan yang mulai membentuk komunitas Balikpapan Jazz Lovers pada 2008 ini juga kerap menulis artikel jazz di koran-koran lokal di Balikpapan dan sejak 2009 rutin menulis tentang jazz di akun facebook.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker