News

Korelasi Jazz dengan Gerakan Black Lives Matter? (Bagian ketiga)

Korelasi Jazz dengan Gerakan Black Lives Matter?

Lantas adakah korelasinya musik jazz dengan gerakan Black Lives Matter, secara langsung mungkin tidak, tetapi secara psikologis jelas ada persamaan dengan gerakan itu dengan jazz.
Coba kita kembali menengok sejarah jazz yang begitu kelam dan menyedihkan, karena jazz yang berakar dari blues pada saat musik ini mulai tumbuh dan berkembang di saat Amerika masih memberlakukan sistem perbudakan kepada masyarakat Afrika-Amerika.
Musik jazz menjadi sarana untuk mengekspresikan kebebasan bagi mereka yang tertindas atau mendapatkan perlakuan yang tidak adil.
Ada sebuah buku yang berfokus pada studi sejarah masyarakat Afrika-Amerika berjudul “Jazz and Justice: Rasicm and the Political Economy of the Music” (2019) yang ditulis oleh Gerald Horne. Buku ini menyajikan narasi sejarah komprehensif kemunculan genre jazz di Amerika Serikat.
Jazz mulai muncul pada akhir abad ke-20, di New Orleans, tradisi musikal orang Afrika yang terbebas dari sistem perbudakan (sistem segregasi rasial). Dasar musik jazz yang berakar dari musik blues. Blues memiliki ciri khas ekspresi lagu yang menunjukkan penderitaan, rasa sakit, dan harapan masyarakat kulit hitam yang lumat karena aturan-aturan segregasi rasial.
Sejarah kemunculan segregasi rasial ini dapat ditelusuri jejaknya pada periode sebelum dan masa Perang Saudara (Civil War) yang sedang terjadi di Amerika Serikat.
Pada saat itu, terdapat seorang aktor yang bernama Thomas Dartmounth Rice kelahiran New York. Dia dikenal sebagai bapak penyair, mengembangkan karakter yang bernama Jim Crow di tahun 1830. Rice mengamati cara menari dengan gerakan cepat yang biasa dilakukan oleh ras kulit hitam, dan menciptakan lagu-lagu dan tari-tarian rasial yang pada akhirnya menjadi pertunjukkan dan hiburan utama bagi orang Amerika bagian utara dan selatan, yang mana sebuah pertunjukkan ini biasa disebut “Blackface Minstrel Shows” (Pertunjukkan Penyair Muka Hitam).
Biasanya dalam pertunjukkan tersebut, orang kulit putih akan menghitamkan kulitnya dengan menggunakan semir sepatu, cat minyak, atau gubus yang dibakar dan mulai menggelapkan kulitnya di sekujur mulut dan beberapa bagian badannya.
Para penampil kulit putih tersebut akan memulai memainkan karakter yang terus menerus mengangkat stereotip negatif mengenai komunitas Afrika-Amerika yang dianggap sebagai masyarakat yang malas, dungu, suka dengan takhyul, kriminal, dan lain sebagainya.
Pada tahun 1877 hingga pertengahan abad 20-an, kita sering menemui istilah Jim Crow yang telah dipopulerkan oleh Rice sebelumnya, sebuah sistem kasta yang diterapkan diperbatasan selatan Amerika Serikat pada umumnya, sebuah rangkaian aturan-aturan anti ras kulit hitam. Jim Crow ini menempatkan status ras kulit hitam pada posisi nomor dua sebagai penduduk Amerika Serikat.
Akar mulainya istilah Jim Crow muncul pada tahun 1865 di mana pemerintah mulai mengesahkan atau menguatkan Amandemen ke-13 setelah terjadi Perang Saudara di Amerika Serikat dan juga penumpasan perbudakan selama masa Perang Saudara.
Namun dengan memberlakukan Amandemen tersebut rupanya memunculkan adanya sentimen ras kulit putih dan menimbulkan pergolakan ekonomi-politik yang saat itu terjadi di Amerika Serikat. (Bersambung).
(Keterangan photo) Ulysses S. Grant adalah Presiden Amerika Serikat yang ke-18 (1869-1877).
Ia merupakan Jenderal perang yang sangat sukses pada Perang Saudara.
Sebagai Jenderal perang ia berhasil memimpin Union Army mengalahkan militer Konfedarasi.
Sebagai Presiden dia memimpin Partai Republik Radikal dalam upaya mereka untuk menghilangkan semua sisa-sisa nasionalisme Konfederasi dan perbudakan. Ia tidak menyukai kekerasan dan sangat menentang gerakan Ku Klux Klan dan selalu berusaha untuk melindungi hak-hak kaum kulit berwarna Afrika-Amerika.
Presiden Grant efektif menghancurkan Ku Klux Klan pada tahun 1871.

Ahmad Jailani

Menyukai jazz sejak masih di SMP. Wiraswastawan yang mulai membentuk komunitas Balikpapan Jazz Lovers pada 2008 ini juga kerap menulis artikel jazz di koran-koran lokal di Balikpapan dan sejak 2009 rutin menulis tentang jazz di akun facebook.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
WhatsApp Perlu bantuan?

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker