News

Korelasi Jazz dengan Gerakan Black Lives Matter? (Bagian keempat)

Korelasi Jazz dengan Gerakan Black Lives Matter?

Diskrimimasi di masa dengan istilah “Jim Crow” ini dapat terlihat disetiap ruang tunggu diterminal bus, stasiun kereta api, ruang istirahat dan ruang publik yang lain antara kulit putih dan kulit hitam dipisahkan dengan jelas.
Bahkan seperti beberapa taman kota ada yang tidak memperbolehkan orang kulit hitam untuk masuk kesana.
Tempat seperti bioskop, teater dan restoran pun disegregasi secara rasial. Istilah pada masa itu juga seringkali disebut “Black Codes” (Kode Hitam), di mana pemerintah negara maupun lokal mulai memperketat aturan mengenai orang-orang Afrika-Amerika sebagai mantan budak yang mulai dapat bekerja dan memperoleh konpensasi meskipun wujudnya tidak memadai. Tidak heran kalau Ku Klux Klan sebuah gerakan pemuja kulit putih (white supremacists) muncul untuk membatasi hak-hak sipil kulit hitam pada masa itu.
Namun, Gerald Horn juga tidak hanya menyinggung Ku Klux Klan sebagai gerakan sebagai gerakan sentimen ras kulit putih, melainkan kehadiran musik jazz ini menjadi suatu cara yang menarik bagi orang kulit hitam dalam memerangi sentimen ras dan pergolakan ekonomi politik yang ganas hingga akhirnya musik ini mudah dikenal di sepanjang klub-klub malam pada masa itu.
Musik jazz melalui paparan segelintir sejarah singkat di sini menunjukkan tidak hanya sebuah aliran musik yang secara tiba-tiba muncul begitu saja, melainkan jazz adalah representasi perjuangan ras kulit hitam dalam memerangi segregasi rasial yang terjadi di Amerika Serikat.
Bahkan musik jazz menjadi media bagi komunitas Afrika-Amerika untuk mengeluarkan aspirasi dan mengekspresikan diskriminasi yang menimpa mereka agar didengar oleh publik sebagai cara memperoleh hak-hak sipil mereka.
Bahkan improvisasi dalam setiap pemain band jazz bermakna menunjukkan bagaimana musik ini menjujung tinggi kebebasan bersuara dan setiap orang dengan bebas berekspresi sesuai dengan instrumen yang mereka mainkan.
Begitu pula keresahan yang dirasakan oleh ras kulit hitam pada saat masa regregasi rasial, bahwa mereka ingin diperlakukan sama bebasnya seperti yang dilakukan oleh kulit putih pada masa itu.
Kita juga mengetahui dari sini bahwa diskriminasi terhadap suatu ras adalah diskriminasi struktural yang telah berlangsung lama dan melekat dalam sejarah Amerika Serikat. (Bersambung).
(Keterangan photo) Buku: “Jazz and Justice” karya Gerald Horn.

Ahmad Jailani

Menyukai jazz sejak masih di SMP. Wiraswastawan yang mulai membentuk komunitas Balikpapan Jazz Lovers pada 2008 ini juga kerap menulis artikel jazz di koran-koran lokal di Balikpapan dan sejak 2009 rutin menulis tentang jazz di akun facebook.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker