News
Korelasi Jazz dengan Gerakan Black Lives Matter? (bagian kedelapan – tamat)
Korelasi Jazz dengan Gerakan Black Lives Matter?
Pesan-pesan yang disampaikan dalam musik jazz juga terinspirasi oleh nasib sekelompok kulit hitam yang mendapat perlakuan kejam selama berpuluh-puluh tahun.
“Strange Fruit” karya Abel Meeropol yang dibawakan oleh Billie Holiday pada tahun 1939, yang terinspirasi dari sebuah photo yang menampilkan eksekusi hukuman gantung dua orang kulit hitam di depan publik (lypching).
Praktek hukuman mati sering dilakukan di Amerika pada akhir abad ke-19 hingga abad ke-20. Selama kurun waktu tahun 1882-1968, tercatat sebanyak 4.743 hukuman mati dilakukan. Ironisnya 72,7 persen hukuman itu dijatuhkan kepada orang-orang dari kelompok kulit hitam.
Terlepas dari pergerakan hak sipil di era Martin Luther King Jr, musik jazz sejak awal telah menjadi suara masyarakat Afrika-Amerika. Sejak lahirnya, jazz menjadi bagian dari budaya kelompok ini. Oleh karena itu, secara langsung maupun tak langsung, jazz berperan penting dalam politik dan pembebasan kelompok kulit hitam.
Charles Hersch dalam jurnalnya yang berjudul “Let Freedom Ring!”, “Free Jazz and African-American Politics” menyebutkan, jazz sejak mula mengandung nada politik kelompok Afrika-Amerika. Suara politik itu terus berkembang seiring beragamnya subgenre jazz yang muncul.
Pada masa sebelum musik jazz lahir, bibit-bibit musik ini lebih banyak dilagukan para budak sebagai nyanyian spritual yang menceritakan perbudakan bangsa Israel di Mesir. Seiiring perkembangannya, tema politik semakin terasa. Ini terus berkembang ke isu-isu lain, seperti rasisme, protes sosial, dan kehidupan para “negro” di Amerika, yang turut disuarakan lewat musik jazz.
Karena itu jazz menjadi bagian penting dalam sejarah kesetaraan dan kebebasan kelompok kulit hitam di Amerika yang juga mengilhami gerakan serupa di belahan dunia lainnya. Sampai sekarang, jazz digaungkan menjadi musik yang dapat menyampaikan pesan-pesan sosial (message driven music).
Jazz menjadi inspirasi untuk perjuangan melawan diskriminasi dan rasisme di seluruh dunia. Maka, sudah sewajarnya musik jazz mendapatkan apresiasi tinggi. Tidak berlebihan jika setiap 30 April diperingati sebagai Hari Jazz Internasional.
Jazz bukan semata-mata karya musik yang hanya dinikmati untuk hiburan. Lebih dari itu, jazz menjadi nyanyian hidup atas penindasan, perjuangan, dan kebebasan kelompok masyarakat kulit hitam yang hingga kini masih terus diperjuangkan.
Nina Simone pernah berkata; “Jazz bukan hanya sebuah musik, ia adalah cara hidup, cara menjadi pribadi, serta cara berpikir”.
Semoga jazz terus menjadi suara pengakuan kesetaraan dari penghapusan diskriminasi melalui pesan dalam musiknya. Kiranya peran itu dapat menginspirasi cabang seni lainnya untuk memperjuangkan hal yang sama. (Tamat).
(Keterangan photo) Sebuah lukisan musisi jazz top yang sedang berkumpul.
