News

Dizzy Gillespie

Kembalinya jadi diri dan ekspresi jazz-era bebop tahun 1940. Di akhir tahun 30-an, swing telah menjadi sebuah bisnis musik dan hiburan yang paling besar serta paling bagus pada saat itu. Sampai swing dijuluki dengan “greatest music of all the time”.

Kata “swing” telah menjadi sebuah daya tarik yang sangat bagus untuk dijual dan dihubungkan dengan berbagai jenis produk-produk penjualan mulai dari pakaian wanita dan rokok. Terlebih lagi jika musik tersebut sudah disesuaikan dengan permintaan komersial, sering menjadi sebuah permasalahan klise yang tidak ada habisnya dalam musik tersebut. Diantaranya idealisme komersial dan musikal.

Dalam sebuah lagu jazz sangat sering jika sebuah cara bermain dan gayanya menjadi komersial. Malahan perkembangannya akan berbalik arah karena hadirnya beberapa musisi ataupun yang ingin membuat dan menemukan sesuatu yang baru dalam musik tersebut. Hal inilah yang sering terjadi pada zaman tersebut dan merupakan sebuah aksi perlawanan dari mode gaya “swing” yang saat itu telah merebak.

Pertama kali yang mendorong perkembangan musik ini adalah musisi yang berasal dari Kansas City. Sebagian besar musisi tersebut lebih memilih untuk berdiam diri di Harlem, terutama di sebuah tempat yang bernama Minton’s Playhouse dan sekali lagi telah dimulainya perkembangan era baru musik jazz.

Memang pada zaman itu, musik ini tidak terlalu berkembang dan tidak menemukan sebuah kreasi yang baru dalam grup-grup band yang bermain. Penyebabnya adalah karena pencipta gaya lamanya hanya menulis dan membuat lagu-lagu musik “swing” yang komersial saja.

Gaya barunya hanya diciptakan oleh para pemainnya secara perorangan yang penuh dengan kesadaran untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Akan tetapi itupun hal yang berlaku dalam permainan instrumen individu mereka dan sama sekali belum mempengaruhi secara keseluruhan gaya musik grup band-nya.

Akan tetapi ditempat Minton’s Playhouse ini, setiap musisi yang berkumpul selalu saja menciptakan sebuah gaya musik yang baru dan mereka menamakannya sebagai “modern jazz” di zaman itu. Pada akhirnya tempat yang bernama Minton’s Playhouse ini menjadi sumber titik sentral yang sangat penting dalam berkembangnya gaya baru tersebut seperti New Orleans yang ada di era sebelumnya.

Gaya bermusik yang baru ini diberi nama “bebop”. Ternyata nama itu untuk menggambarkan atau mencerminkan sebuah suara atau bunyi dari interval musik tersebut yaitu Flates Fifth. Istilah seperti ini pernah sekali diterangkan oleh pemain trompet Dizzy Gillespie yang salah satunya juga merupakan eksponen yang penting dalam zaman bebop saat itu.

Bebop yang juga mencerminkan sesuatu tentang musikalitas ekspresi jazz itu dan sudah dikatakan bahwa orang memainkan bebop pada zaman itu dan secara spontanitas para musisi atau pemainnya memainkan sebuah loncatan melodi (melodic leaps).

Flatted Fifth telah menjadi sebuah interval yang penting dalam bebop atau ada juga yang menyebutnya hanya dengan bop.

Di masa era swing ini, Flatted Fifth dianggap sesuatu hal yang salah. Walaupun “hal” tersebut digunakan di passing chord untuk menciptakan efek harmoni tertentu.

Hal seperti ini dilakukan oleh: Willie “The Lion” Smith dan Duke Ellington pada sekitar tahun 1920-an.
Hasil karya musik bebop pada awalnya sangat buruk diterima oleh masyarakat, baik kaum kulit putih maupun kulit hitam. Itu karena tentu saja musik ini dianggap “aneh” dan tidak sesuai dengan norma yang sesuai dengan standarisasi pada saat itu. Ditambah lagi dengan kurangnya kondusif di bagian suasana “entertainment”.

Ahmad Jailani

Menyukai jazz sejak masih di SMP. Wiraswastawan yang mulai membentuk komunitas Balikpapan Jazz Lovers pada 2008 ini juga kerap menulis artikel jazz di koran-koran lokal di Balikpapan dan sejak 2009 rutin menulis tentang jazz di akun facebook.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker