News

Jazz Aula Barat #8 hadirkan Ardhito Pramono, Oele Pattiselanno, Tiyo Alibasjah, Imelda Rosalin dkk

Inovasi Jazz Lintas Generasi di Bandung

Apa yang terjadi jika sekumpulan musisi jazz dari Institut Teknologi Bandung, salah satu kampus ternama di Indonesia berada dalam satu panggung bersama legenda jazz Oele Pattiselanno dan Ardhito Pramono, seorang musisi muda, penyanyi dan penulis lagu Indonesia yang namanya sedang naik daun? Pastinya sebuah sajian musik yang penuh dialog hangat, keterbukaan serta kolaborasi dinamis dari para insan lintas generasi. Musik jazz akan kita nikmati dalam suasana magis Aula Barat yang unik dan selalu memiliki kesan tersendiri bagi para musisi yang pernah bermain di sana.

Imelda Rosalin, kurator Jazz Aula Barat, seorang akademisi dan praktisi perencanaan wilayah cum musisi jazz menjelaskan, “Inovasi jazz yang dimaksud dalam Jazz Aula Barat #8 ini tidak se-radikal musik ‘avant-garde’ yang sanggup mengerutkan kening para pendengar, tapi lebih menekankan pada gagasan baru dalam proses berkarya, bukan semata-mata berorientasi pada musik sebagai produk”.

Tak kurang dari 20-an lagu akan disuguhkan kepada penonton dalam berbagai karakter yang unik. Di awal konser, para mahasiswa yang tergabung dalam unit ITBJazz, Apres dan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) akan mewakili semangat muda Gen Z dalam bermusik, dilanjutkan dengan ‘ITB Jazzification’, sebuah grup vokal bentukan alumni PSM ITB dibawah asuhan Toni P. Sianipar, alumnus Teknik Arsitektur angkatan 80 yang pernah tergabung dalam kelompok vokal Elfa’s Singers. Mereka akan membawakan beberapa aransemen lagu populer dan Brazilian jazz dengan sentuhan ‘khas ITB’.

ITB dan musik jazz adalah sebuah fenomena yang menarik. Perguruan tinggi teknik yang tahun ini memasuki usia ke-105 sepanjang sejarahnya telah melahirkan sejumlah tokoh musik tanah air dan menjadi ‘rumah’ yang menampung berbagai gagasan dan pemikiran dalam bidang musik. Ditengah dinamika intelektualitas dan kehidupan akademis, musik menjadi salah satu pilihan bagi para alumni dan mahasiswa ITB untuk mencari keseimbangan antara olah pikir dan olah rasa.

***

Sejak tahun 2019 Jazz Aula Barat mulai melebarkan apresiasi musik melalui penganugerahan Jazz Aula Barat Award, sebuah penghargaan yang diberikan oleh ITB kepada para seniman musik jazz, tokoh musik penggerak jazz maupun tokoh publik yang telah berjasa dalam pengembangan kemajuan musik jazz di tanah air. Tahun 2025 ini, Jazz Aula BaratAward akan diberikan kepada MS Hidayat sebagai salah satu filantropi jazz dan Oele Pattiselanno, gitaris jazz senior yang telah turut mewarnai sejarah musik jazz di Indonesia.

Oele Pattiselano akan tampil berduet dengan sang murid, Tiyo Alibasjah diiringi trio Imelda Rosalin pada piano, Ezra Manuhutu dan Augustinus berturut-turut pada contrabass dan drum. Segmen ini turut menampilkan pula vokalis tuna netra, Nenden Shintawati yang telah sukses meniti karir di jalur musik jazz berkat dukungan MS Hidayat.

Ardhito Pramono dikenal dengan gaya musiknya yang unik, memadukan elemen swing jazz, bossa nova, pop dan nuansa indie dengan melodi-melodi yang mengalir santai, memberi kesan retro namun tetap kekinian. Karya-karyanya mencerminkan kecintaan yang mendalam pada musik jazz klasik dengan sentuhan modern yang relevan bagi pendengar dari kalangan generasi muda.

Lagu-lagu Ardhito kerap mengeksplorasi tema cinta, hubungan dan refleksi diri. Lirik-liriknya serba puitis dan diwarnai kepekaan emosional yang seringkali membahas perasaan romantis dengan cara yang halus dan penuh makna. Aransemen musik yang kaya disertai harmoni jazz yang kompleks tetap bisa dinikmati dengan mudah oleh pendengar.

Beberapa lagu populernya seperti “Bitterlove” dan “Fine Today” menunjukkan kemampuan Ardhito dalam menciptakan suasana intim dan hangat bernuansa nostalgia pada era jazz klasik. Secara keseluruhan, gaya musik Ardhito Pramono merupakan perpaduan yang elegan antara vintage jazz dengan sentuhan kontemporer, menciptakan atmosfer nostalgia dengan pendekatan yang segar.

***

Jazz Aula Barat (JAB) adalah sebuah perhelatan jazz nasional yang diawali pada tahun 2013. Gagasan program ini pertama kali diangkat oleh alm. Riza Arshad (Ija), seorang alumnus Seni Rupa ITB angkatan 81 sekaligus musisi jazz papan atas Indonesia. Sejalan dengan keberadaan ITB sebagai pusat kajian ilmu pengetahuan, teknologi dan seni budaya, JAB ingin menempatkan Aula Barat ITB sebagai ‘rumah’ bagi gagasan-gagasan musik yang kreatif, berorientasi maju, tidak sekedar menghibur namun juga membawa pencerahan intelektualitas. JAB pada akhirnya diterima menjadi milik ITB dibawah binaan Direktorat Humas ITB dan dikelola sebagai program bersama dengan para stakeholders antara lain Riza Arshad selaku penggagas, sejumlah pemusik jazz alumni ITB, unit mahasiswa ITB Jazz dan unsur komunitas pecinta musik jazz di kota Bandung dan Jakarta serta dukungan sektor swasta. Kerjasama tersebut hampir setiap tahun telah membuahkan serangkaian produksi pertunjukan musik jazz hingga 2019. Tahun 2020 pelaksanaan harus berhenti akibat pandemi Covid-19.

Di tahun-tahun awal, alm. Ija menyajikan ke tengah masyarakat pertunjukan musik jazz yang “adiluhung” sebagaimana layaknya fine arts dengan misi menjadikan musik jazz sebagai bentuk pengembangan kebudayaan; hal ini terlihat dari banyaknya kolaborasi jazz dengan unsur musik tradisi.
Setelah Ija berpulang di tahun 2017, penyelenggaraan JAB terus berlanjut dibawah kepemimpinan Imelda Rosalin, alumna Arsitektur ITB angkatan 89 dan sejumlah pemusik jazz alumni ITB yang turut membesarkan JAB sejak awal berdiri. Pada masa ini visi utama JAB tetap dipertahankan, namun orientasi programnya lebih diperhalus dengan tujuan untuk lebih mempopulerkan jazz kepada masyarakat awam.

***

Rektorat ITB akan turut menggelar soft launching “Pasar Seni ITB” dalam kesempatan ini sebagai penanda dimulainya kembali pergerakan peristiwa seni budaya yang diprakarsai oleh para mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Peresmian ini dilakukan guna memenuhi kerinduan publik akan romantisme sebuah pasar seni akbar yang dirintis sejak 1972 dan telah menjadi ikon kota Bandung.

Jazz Aula Barat #8 merupakan program bersama antara Rektorat ITB, Unit Mahasiswa ITBJazz, Indonesia Jazz and Blues Club dan terselenggara atas dukungan Medco Energi dan Radio KLCBS.

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker