Mengambil nama dan inspirasi sonik dari white bellbird, burung dengan salah satu panggilan paling nyaring dan khas di dunia hewan, kuartet asal Montréal Bellbird menjadikan keterhubungan sebagai inti musik mereka.
Album kedua mereka sekaligus debut untuk label Constellation Records, The Call, menggali relasi antara musisi, lintas genre, dan alam, dengan suara burung bellbird yang dianalisis dan ditenun langsung ke dalam komposisi utama album yang eksplosif dan memikat.
Bellbird beranggotakan Claire Devlin, Allison Burik, Eli Davidovici, dan Mili Hong, yang mulai bermain bersama lewat sesi jam di taman kota selama masa pandemi. Lingkar jazz dan free improvisation yang tumbuh di sekitar Café Résonance menjadi lahan subur awal pertemuan mereka. Namun identitas Bellbird benar-benar mengkristal setelah undangan tampil di Ottawa Jazz Festival 2021. Sejak saat itu, lewat tur dan pertunjukan berkelanjutan, keempatnya membangun keintiman musikal dan bahasa kolektif yang semakin matang.
Melanjutkan debut mandiri mereka Root in Tandem (2023), Bellbird melangkah lebih jauh dengan pendekatan komposisi yang sepenuhnya kolaboratif. Jika sebelumnya pembagian peran komposisi masih terpisah, delapan lagu dalam The Call lahir dari workshop isyarat musikal, permainan improvisasi, serta puisi dan percakapan yang mereka bagi selama residensi di luar kota. Hasilnya adalah pernyataan musikal yang solid, memadukan instrumen berakar jazz dengan pengaruh rock, fusion, dan folk, merentang dari semangat Charles Mingus, Eric Dolphy, Ornette Coleman era Prime Time, hingga nuansa indie rock.
Salah satu ciri paling kuat Bellbird adalah cara mereka membalik peran instrumen. Horn justru mengambil fungsi ritmis dan tekstural, sementara bass akustik dan drum menentukan bentuk musik. Pendekatan ini mencerminkan etos egaliter mereka sebagai kolektif sejati, di mana tidak ada hierarki tunggal tanpa menghilangkan identitas personal masing-masing. Album ini bergerak lincah antara komposisi bertenaga seperti “The Call” dan momen-momen hening yang merayakan kesederhanaan tema, seperti pada “Soft Animal” dan “Phthalo Green”.
Berbeda dari album debut yang dikembangkan di kota namun direkam di pedesaan, The Call direkam di studio legendaris Montréal Hotel2Tango oleh engineer Sylvaine Arnaud, yang berhasil menangkap energi mentah performa live Bellbird. Produksinya menjauh dari estetika jazz konvensional, menonjolkan drum yang kuat serta olahan analog kreatif yang mempertegas dampak visceral musik mereka. Bellbird juga tak ragu merangkul bunyi “kasar”, dari multiphonics, gesekan bow pada bass, hingga tekstur metalik, membangun palet suara yang alami sekaligus menghantui.
Lebih dari sekadar eksplorasi musikal, The Call adalah pernyataan sosial dan politik. Album ini menyalurkan kegelisahan Bellbird terhadap krisis iklim dan solidaritas global, dengan lagu sentral “Blowing on Embers” secara eksplisit didedikasikan untuk Palestina merdeka. The Call menegaskan bahwa kekuatan terbesar Bellbird justru lahir dari empati, mendengar satu sama lain, dan mencipta sebagai satu tubuh kolektif. Album ini dijadwalkan rilis pada 6 Februari 2026 melalui Constellation Records.
Lebih lanjut:

