Opini Jazz

MENGEKSPLORASI HUBUNGAN TRADISI MUSIK KLASIK INDIA BAGIAN UTARA DAN IRAN

Perusahaan rekaman terkenal dari Munchen Jerman ECM, pada akhir bulan ini berniat untuk mengeluarkan album debutan dari Ghazal yang berjudul “The Rain”. Ghazal merupakan sebuah ensemble yang personilnya terdiri dari orang-orang Iran dan India. Selama enam tahun ini, Ghazal telah memukau para penonton di seluruh dunia dengan komitmennya, musik yang menggairahkan.

Mereka terdiri dari Kayhan Kalhor (kamancheh), Shujaat Husain Khan (sitar & vokal) dan Sandeep Das (tabla). Kelompok ini dibentuk oleh Shujaat Husain Khan dan Kayhar Kalhor untuk mengeksplor kesaling-berhubungan antara tradisi musik klasik dari India bagian utara dan Iran.

Barangkali para pendengar di barat sejak tahun 1960an telah akrab dengan musik dari India, namun tradisi dari Persia jarang dikenal yang tidak lain adalah larangan dari rezim penguasa baik setelah dan sebelum Revolusi Islam. Pada tahun-tahun ini, larangan-larangan tersebut telah diperlonggar sedikit demi sedikit dan pengaruhnya dunia mulai mendengar beberapa musisi hebat dari Iran. Kayhar Kalhor adalah pemain terkemuka kamancheh ( semacam alat musik gesek dari Iran) yang mengembangkan tradisi musik di Iran. Proyek antarbudaya ini dimulai oleh Kalhor dan Shujaat Khan, putera dari pemain sitar yang inovatif Ustad Vilayat Khan.

Kelompok yang dengan sengaja untuk membangun atau lebih tepatnya membangun kembali jembatan antar kebudayaan mereka. Ada banyak kesamaan di antara keduanya. Antara lain tangga nada, gaya, penyetelan bunyi, irama dan pendekatan improvisasi dalam tradisi musik Hindustani dan Iran.

Para musikologis menapaki jejak persamaan-persamaan ini sampai periode dinasti Mogul di India bagian utara di mana meninggalkan banyak artefak dalam bidang seni. Pengaruh para sufi dan puisinya termasuk juga nuasa musikal dari bahasa dan kebudayaan Persi. Jika tradisi ini telah menghilang sejak selama 5 abad lalu ketika perbedaan cara hidup mereka muncul ternyata masih ada akar yang kuat sekarang ini. Karena itu Kayhan Kalhor dan Shujaat Khan dapat menegosiasikan ulang improvisasi yang bersumber dari repertoar tradisional India dan Persi mereka dengan lancar.

***

Berhubung beberapa musisi yang terlibat dalam proyek ini masih relatif belum dikenal oleh publik jazz internasional, tidak ada salahnya jika kita menyinggung secara singkat latar belakang mereka. Kalhor lahir di Teheran pada tahun 1963.

Dia belajar musik di bawah bimbingan Ahmad Mohajer. Sejak usia dini dia sudah bermain kamancheh dan bahkan dalam usia 13 tahun dia sudah tampil bersama Iranian National Radio dan Television Orchestra di mana di kelompok itu dia bergabung selama 5 tahun.

Ketika berusia 17 tahun dia bekerja di Shayda Ensemble dari Chavosh Cultural Centre, sebuah organisasi seni paling prestisius di Iran pada waktu itu. Sementara masih bergabung dengan ensemble tersebut dia melanjutkan untuk belajar lebih jauh lagi tentang repertoir klasik Iran (radif) bersama para ahlinya. Ketika sedang tour di Iran dia tidak menyianyiakan waktunya untuk mempelajari berbagai kesenian dan gaya lokal termasuk tradisi Khorasan di bagian timur laut dan Kurdi di bagian barat.

Belajar musik klasik barat dilakukannya di Roma dan Carleton University Kanada di mana dia memperoleh gelar akademis dalam bidang musik. Kalhor pernah membuat komposisi untuk vokalis paling terkemuka di Iran Mohammad Reza Shajarian dan Shahram Nazeri.

Selain itu, juga pernah tampil bersama para tokoh musik Iran seperti Faramarz Payvar dan Hossein Alizadeh. Di tahun 1991 dia menjadi salah satu pendiri dari sebuah ensemble terkenal Dastan. Setelah itu pun banyak penghargaan berhasil diraihnya. Seperti penghargaan dari AFIM dalam kategori Best Traditional World Music Recording ketika bersama M R Shajarian dalam “Night, Silence, Desert” dan pada tahun ini dia menjadi salah satu nominator BBC Radio 3 Awards untuk kategori World Music.

***

Sementara itu, Shujaat Husain Khan dilahirkan di tahun 1960 yang menjadi keturunan ketujuh secara langsung dari sebuah keluarga yang menghasilkan banyak tokoh musik yang berpengaruh. Kalau diurut-urut dari ayahnya sampai nenek moyangnya adalah Ustad Vilayat Khan, Ustad Inayat Khan Ustad Imdad Khan dan Ustad Sahebdad Khan. Dia masuk ke model pendidikan Imdad Khan di mana dia mempelajari gaya permainan tertentu yang disebut gayaki ang, yaitu sebuah imitasi yang elok dari suara manusia.

Dalam usia 3 tahun dia sudah bermain sitar kecil dan 3 tahun kemudian dai sudah tampil di publik. Sejak itu dia bermain di berbagai festival besar di India dan seluruh dunia. Karena sudah terekspos sedemikian rupa akan kekayaan warisan musikal, hal tersebut memungkinkannya untuk belajar secara langsung kepada para tokoh seniman musik klasik India yang yang jauh lebih senior.

Pengalaman-pengalaman tersebut semakin membuatnya ahli dengan ratusan pengetahuan dari jenis musik raga yang jarang dikenal dengan unik. Ditambah juga dengan gayanya yang menggunakan suara manusia dia juga mempunyai sebah repertoir puisi hebat yang ditampilkannya secara spontan ketika dia bermain.

Shujaat sampai sekarang ini lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengajar musik baik di India dan luar negeri. Antara lain menjadi visiting professor di departemen seninya University of California Los Angeles.

Pada tahun 2001 yang lalu dia sempat memperoleh penghargaan Rashtriya Kumar Gandharva Sammaan, sebuah penghargaan tertinggi untuk para musisi klasik India di bawah usia 45 tahun. Sandeep Das adalah musisi termuda di antara mereka berdua yang dilahirkan pada tahun 1970. Dia adalah salah satu pemain tabla pendatang baru yang menjanjikan di masa depan. Bermain tabla ketika masih 8 tahun dan manjadi salah satu murid dari Pandit Kishan Maharaj. Meskipun demikian, dia pernah tampil bersama dengan para musisi terkemuka dari India maupun internasional.

Tercatat juga dia ikut ambil bagian dalam proyek cellist musik klasik terkemuka Yo Yo Ma, Silk Road Project. Hal tersebut memang sudah menjadi salah satu perhatian dari ECM untuk memproduksi karya-karya lintas budaya yang sukses. Selama ini beberapa di antaranya yang masuk dalam katalognya adalah L Shankar “Song For Everyone”, Zakir Hussain “Making Music”, Jan Garbarek “Ragas and Sagas”, Anouar Brahem “Thimar” dan masih banyak lagi. Menariknya album Ghazal yang berjudul “The Rain” ini bukannya Barat ketemu Timur saja, namun lebih ke Timur ketemu Timur

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker