Profile

WAWANCARA DENGAN ERMY KULIT

Team Warta Jazz mewawancarai ERMY KULIT penyanyi Jazz senior Indonesia. Pertemuan ini berlangsung sesaat penampilannya di acara Jazz Goes to Campus 23, di Halaman Parkir FEUI, Depok beberapa waktu lalu. Berikut ini kutipannya :

WartaJazz (WJ) : Mbak Ermy kan udah lama nggak muncul, sekarang terus membuat rekaman lagi dibawah label Swara Bumi, bisa diceritain nggak?

Ermy Kulit (EK) : Biasanya saya kan rekamannya sama mas Ireng Maulana. Dari dulu hingga sampai membuat beberapa album selalu dengan mas Ireng Maulana. Produser saya punya pemikiran gimana kalau kita bikin sesuatu yang agak berbeda. Dan kita pengen merangkul penggemar yang lebih muda. Makanya kita tertarik bekerja sama dengan Indra dengan teamnya dari Swarabumi. Jadi konsep dasarnya adalah merangkul anak-anak muda dan para penggemar saya yang notebene generasi yang lebih tua.

(WJ) : Dari sisi musikalitas, ada hal baru sifatnya fundamental?

(EK) : Tentu ada perbedaan. Karena Warna Ireng Maulana dan Indra Lesmana jelas berbeda. Dan di album terbaru ini, makin banyak personilnya. Mulai dari musisi yang muda-muda seperti Humania, sampai Embong Rahardjo, Benny Likumahua, Kevin. Selain itu untuk gitar mulai dari Dewa Budjana, Donny Suhendra hingga Oele Pattiselano. Jadi memang musisinya mulai dari yang muda hingga generasi tua, yang memang telah dipersiapkan dengan baik oleh Indra.

(WJ) : Bagaimana dengan target penjualan album dan pemasaran.

(EK) : Kalau nggak salah, menurut produser saya, kita sudah kontak hingga ke Malaysia dan Singapura. Tapi menurut saya pasar dalam negeri sebenarnya juga tidak kalah potensial koq.

(WJ) : Kenapa penyanyi jazz wanita di Indonesia sangat minim. Meski sekarang Andien dan Syaharani mulai tampil dan banyak dikenal. Bagaimana pendapat anda?

(EK) : Pertanyaan ini selalu muncul dari dulu, dan memang yang namanya penyanyi jazz wanita di tanah air itu memang minim. Saya termasuk yang beruntung bisa bekerja sama dengan mas Ireng Maulana yang punya group rekaman dan live jazz. Problemnya mungkin adalah penyanyi baru yang berkeinginan serius di Jazz tidak memiliki kelompok atau atau kesulitan mencari group yang mendukung. Selain juga dengan sulitnya produser yang mau mengajak rekaman jazz. Syaharani beruntung karena bertemu dengan musisi senior dalam dan luar negeri yang sudah bermain di jalur jazz. Begitu pula Andien yang bertemu Elfa Secoria. Nah penyanyi lain mungkin belum ketemu dengan musisi atau produser yang cocok.

(WJ) : Siapa yang memberikan influences pada musik yang anda bawakan?

(EK) : Saya selalu melihat kilas balik dari album-album saya. Semuanya saya jadikan sebagai guru. Selain juga saya banyak mendengarkan penyanyi lagu-lagu jazz standar. Otomatis kalau kita suka jazz harus punya kaset Sarah Vaughan atau Ella Fitzgerald. Dan kalau sudah mendengarkan mereka, ‘gila’rasanya saya jadi malu. Rasanya kita masih kelas ‘satu’ sementara mereka sudah ‘dosen’

(WJ) : Apa saran anda untuk penyanyi muda yang pengen konsen di Jazz?

(EK) : Yang pertama, beli kaset jazz dan dengar lagu-lagu jazz. Pada satu waktu kita ketemu dengan group atau musisi jazz, kita nggak akan bingung lagi. Jadi dengar dulu, dan suka dulu.

(WJ) : Jazz selalu identik dengan kaum intelek, begitu pendapat orang. Anda sendiri bagaimana?

(EK) : Sebenarnya kalau kita bicara musik, siapa saja berhak untuk mendengarkan. Tidak ada masalah apakah mereka punya duit atau nggak. Khusus untuk jazz, kita harus ‘nyimak’ benar-benar musiknya. Saya tidak bilang bahwa musik Pop atau Easy Listening itu gampang, tapi tingkat kesulitan jazz itu lebih banyak. Jadi kalau pembeli kaset jazz merasakan, koq musik yang ini sulit di kuping gue, itu artinya kepekaan mendengar. Dan itu tidak berarti kalau bisa menyimak harus jadi orang kaya. Dan sebenarnya semakin susah, makin gampang kita nerima dan semakin suka.

(WJ) : Apa rencana kedepan?

(EK) : Tetap rekaman dong! (sambil tertawa). Saya sebernarnya sudah dikontrak untuk membawakan lagu-lagu lama.

(WJ) : Apakah sama modelnya dengan Rien Djamain?.

(EK) : Ya kurang lebihlah barangkali. Jadi lagu-lagu lama yang populer saya bawakan kembali. Album saya sekarang kan agak berat, tahun depan ada rencana untuk membuat yang agak ‘ringan’. Semata-mata agar porsinya seimbang.

(WJ) : Bagaimana dengan rencana manggung didaerah?

(EK) : Kita punya kendala terutama di biaya. Seperti yang saya sudah utarakan diatas, kita punya kendala di transportasi yang cukup mahal. Bayangkan saja kalau saya mau manggung di daerah asal saya di Menado, biaya yang dikeluarkan cukup tinggi. Padahal saya harus membawa anggota band yang jumlahnya tidak sedikit. Tapi biasanya kalau manggung di Pulau Jawa masih bisa diatasi. Saya memang tidak banyak manggung di daerah-daerah. Tapi bukan berarti saya tidak berminat, tentu saja saya tertarik, tapi harus melihat juga nanti saya manggung dengan siapa.

Related Articles

2 Comments

  1. Saya paling senang dengar suaranya mba ermy kulit, harvey malaiholo, dan iga mawarni. kenapa org indonesia kurang suka pop jazz ya??? padahal kan asiknya kan gak abis2. salam 4 all jazzers in Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker