Profile

Pianis Danilo Pèrez asal Panama

Pianis dan komposer Danilo Pèrez telah membangun jalan yang lebar untuk dirinya dan musiknya sepanjang kariernya hingga saat ini.

Musiknya adalah perpaduan akar Panama dengan unsur-unsur musik rakyat Amerika Latin, jazz, impresionisme Eropa, Afrika, dan warisan musik lainnya yang mempromosikan musik sebagai jembatan multidimensi antar manusia.

Pèrez telah merilis 11 album sebagai leader, dan muncul di banyak rekaman sebagai sideman, yang membuatnya mendapat pujian kritis, berbagai penghargaan, kemenangan dan nominasi Grammy Awards. Dia juga penerima United States Artists Fellowship, dan Smithsonian Legacy Award 2009.

Lahir 29 Desember 1965, di Panama, ia mulai studi musiknya pada usia tiga tahun bersama ayahnya, Danilo Enrico Pèrez Urriola, seorang pendidik di sekolah dasar dan menengah, dia juga penyanyi yang terkenal di Panama.

Pada usia 10 tahun Pèrez mempelajari repertoar piano klasik Eropa di National Conservatory di Panama. Pada tahun 1985, dia dianugerahi beasiswa Fulbright USA untuk belajar di Amerika Serikat. Setelah awalnya mendaftar di Indiana University of Pennsylvania, Pèrez dengan cepat dipindahkan ke Berklee College of Music setelah dianugerahi beasiswa Quincy Jones.

Saat masih menjadi mahasiswa, ia tampil bersama John Hendricks, Terence Blanchard, Slide Hampton, Claudio Roditi, dan Paquito D’Rivera. Pèrez menerima gelar dalam komposisi jazz dan setelah lulus ia mulai tur dan rekaman dengan artis seperti: Jack DeJohnette; Steve Lacy, Lee Konitz, Charlie Haden, Mochael Bracker, Joe Lavano, Tito Puente, Wynton Marsalis, Tom Harrel, Gary Burton, dan Roy Haynes.

Pada tahun 1989, dua peristiwa terjadi yang terbukti memiliki pengaruh yang langgeng baik pada praktek kreatif Pèrez maupun pemikiranjya tentang musik sebagai alat untuk perubahan sosial. Tahun itu Pèrez menjadi anggota termuda yang ditunjuk untuk Dizzy Gillispie United Nation Orchestra. Dia tetap menjadi anggota di grup sampai Gillispie meninggal pada tahun 1992.

Pada Desember 1989, ia kembali ke negara asalnya Panama untuk tampil pertama kalinya dengan ansambelnya sendiri yang terdiri dari musisi dari Amerika Serikat dan Spanyol. Sayangnya konser itu dibatalkan karena dua hari setelah band tiba, AS menginvasi Panama. Seluruh negeri ketakutan atas intervensi militer dan masa depan yang tidak pasti. Tapi Pèrez dan kawan-kawan semua memutuskan untuk berimprovisasi dan menghadapi yang tidak diketahui, seperti yang terjadi dalam jazz dan melanjutkan konser di tengah invasi AS. Dengan perisai musik dia yakin tidak ada peluru yang memasuki jiwa, dia dan kawan-kawan. Klub itu penuh dengan orang-orang yang mendukung dan menentang invasi yang berkumpul dan merayakan hidup, tertawa, berpelukan, dan menangis.

Menurut Perez musik adalah alat paling efektif untuk mengarahkan umat manusia dalam pencarian perdamaian.

Ahmad Jailani

Menyukai jazz sejak masih di SMP. Wiraswastawan yang mulai membentuk komunitas Balikpapan Jazz Lovers pada 2008 ini juga kerap menulis artikel jazz di koran-koran lokal di Balikpapan dan sejak 2009 rutin menulis tentang jazz di akun facebook.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker