Profile

Phillippe Saisse

Keyboardis jazz kontemporer dan produser Phillippe Saisse lahir 4 Februari 1957, di Merseiles dan dibesarkan di Paris. Putra seorang staf produser di CBS/Sony Prancis, ia belajar piano, teori musik, dan komposisi di Paris National Conservatory, memenangkan beasiswa Paul Winter dari Berklee College of Music yang bergengsi di Boston, setelah lulus pada tahun 1975 di Berklee, Saisse menjadi anak didik dari vibraphonis Gary Burton yang memimpin bermain dibelakang Narada Michael Walden.
Ia membuat rekaman debutnya pada upaya Al Di Meola 1979 lewat album, “Hotel Splendido”. Dan disamping jazz, Seisse juga bekerja dengan: Nile Rogers dan Felicia Collins di album, “Outloud” dan menulis untuk David Sanborn. Dia juga bermain untuk genre rock alternatif, jazz fusion untuk David Bowie, Chaka Khan, Al Jarreau, Gato Barbieri, Paul King, dan The Rolling Stones.
Album solo Seisse, “At World Edge” (2008) dinominasikan untuk Grammy Award untuk Album Jazz Kontemporer Terbaik.
Meskipun tidak mencapai kesuksesan komersial yang biasanya diharapkan dari sebuah album yang menampilkan para musisi yang berperingkat tinggi, itu mempertemukan kembali Seisse dengan dua teman lama: bassis Pino Palladino, dan drummer Simon Phillips.
Ketiga penampil bergabung bersama ansambel instrumental rock/jazz fusion trio ansambel, “PSP Live” di lebel Care Music Group (Munich) dan label Forest Records yang telah didukung oleh tur kecil di Eropa dari 2009 hingga Februari 2010, menyoroti bakat masing-masing penampil dalam lagu yang dipilih untuk daftar mereka.
Trio ini menyelesaikan tur mereka di Jepang pada akhir Maret 2010, setelah memberikan waktu kepada Palladino pada Februari untuk menghormati tanggung jawabnya sebagai bassis tur dengan The Who, dipertunjukkan Super Bowl XLIV di Amerika Serikat.
Pada tahun 2014, dia bekerja dengan drummer Jepang Senri Kawaguchi di album keduanya, “Buena Vista” (2016), bekerja dengannya lagi, membuat banyak lagu untuk dan bermain di albumnya, “Cider-Hard and Sweet” (2016).
Pada tahun 2017, mereka tampil bersama dengan Armand Sabel-Lecco di Tokyo Jazz Festival 2017, sebelum melakukan tur ke sejumlah lokasi di Jepang termasuk di Motion Blue di Tokyo yang memenangkan Nissan Jazz Japan Award 2017, untuk Best Live Performance.

Ahmad Jailani

Menyukai jazz sejak masih di SMP. Wiraswastawan yang mulai membentuk komunitas Balikpapan Jazz Lovers pada 2008 ini juga kerap menulis artikel jazz di koran-koran lokal di Balikpapan dan sejak 2009 rutin menulis tentang jazz di akun facebook.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker