Profile

Gitaris acid jazz Ronny Jordan

Salah satu gitaris gerakan acid jazz yang menonjol, Ronny Jordan yang lahir di London secara luas dikreditkan dengan mengembalikan instrumen ke tempat yang seharusnya sebagai kekuatan utama dalam jazz modern, terlepas dari protes kaum puritan, beberapa seniman lain di zamannya terbukti lebih penting dalam merobohkan batas-batas yang sudah lama tidak dapat diubah dari musik kulit hitam kontemporer.
Pecahnya Brit-funk selama awal 80-an membawanya untuk mulia menjelajahi jalan musik lainnya, yang berpuncak pada ketertarikannya dengan jazz.
Jordan adalah seorang gitaris otodidak, pengaruh awalnya termasuk Charlie Christian, Wes Montgomery, dan Grant Green, dan ketika hip hop mulai berkembang, Jordan mulai mencari cara untuk menggabungkan jazz dengan rap bersama-sama. Buah pertama dari usahanya adalah single, “After Hours” sebuah primitif ke dalam apa yang akhirnya dikenal sebagai acid jazz.
Perusahaan rekaman awalnya tidak menginginkan bagian dari musik Jordan, tetapi ketika cover khasnya dari lagu klasik Miles Davis, “So What” menjadi hit, jelas ada sesuatu yang terjadi.
Dia segera merilis debut LP nya, “Antidote” di tahun 1992, dan namanya semakin menjulang setelah tampil di album rapper Guru tahun 1993, “Jazzmaster Vol.1” di mana karya gitar Jordan sangat menonjol, yang membuat acid jazz menjadi proposisi yang layak.
Dia kemudian mengeluarkan album seperti: “Quiet Revolution” (1993), “Light to the Dark” (1996), “A Brighter Day” (2000), dan “At Last” (2003).
Robert Laurence Albert Simpson yang dikenal secara profesional sebagai Ronny Jordan dilahirkan pada 29 November 1962, di London, inggris dan meninggal dalam usia yang sebenarnya masih sangat produktif 51 tahun, pada 13 Januari 2014.
Jordan adalah penerima The MOBO Best Jazz Guitarist Award.
Albumnya, “A Brighter Day” dinominasikan Grammy Award untuk Album Jazz Kontemporer Terbaik.
Sedang lagunya, “The Jackal” (dari album, “The Quiet Revolution”) menjadi terkenal ketika artis Alisson Janney dalan perannya sebagai CJ Gregg menyinkronnya dalam episode “Six Meetings Before Lunch” dari serial The West Wing.
Hal yang sama, dia juga melakukannya di acara televisi Arsenio Hall pada September 2013.

Ahmad Jailani

Menyukai jazz sejak masih di SMP. Wiraswastawan yang mulai membentuk komunitas Balikpapan Jazz Lovers pada 2008 ini juga kerap menulis artikel jazz di koran-koran lokal di Balikpapan dan sejak 2009 rutin menulis tentang jazz di akun facebook.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
WhatsApp Perlu bantuan?

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker