Profile

Irving Berlin

Irving Berlin adalah seorang komposer dan penulis lirik, yang secara luas dianggap sebagai salah satu penulis lagu terbesar dalam sejarah Amerika. Musiknya merupakan sebagian besar adalah “Great American Songbook”.
Lahir di Tolochin Kekaisaran Rusia dengan nama Israel Berlin, pada 11 Mei 1888.
Dia menerbitkan lagu pertamanya, “Marie from Sunny Italy” pada tahun 1907, menerima 33 sen untuk hak penerbitan, dan merubah namanya dari Israel Berlin menjadi Irving Berlin. Dia memiliki hit internasional besar pertamanya, “Alexander’s Ragtime Band” sebuah lagu Tin Pan Alley yang dirilis pada tahun 1911. Meskipun sebenarnya bukan lagu ragtime tradisional, melodi riang Berlin tetap sangat digemari dan telah terjual satu juta copy pada tahun 1912, dan terus terjual laris selama bertahun-tahun sesudahnya. Lagu tersebut menjadi nomor satu dari Oktober 1911 sampai Januari 1912.
Berlin juga adalah pemilik Music Box Theatre di Broadway.
Untuk sebagian besar kariernya, Berlin tidak dapat membaca lembaran musik dan merupakan pemain piano yang sangat terbatas sehingga ia hanya dapat memainkan kunci F-sharp menggunakan piano kustomnya yang dilengkapi dengan tuas transposing (sebuah piano mentransposisi khusus dengan mekanisme dioperasikan oleh pedal atau tuas).
Selama bertahun-tahun ia dikenal sebagai penulis lagu dan lirik dalam bahasa Amerika yang tidak rumit, sederhana, dan langsung dengan tujuan yang dinyatakannya adalah untuk “mencapai hati rata-rata orang Amerika” yang ia lihat sebagai “jiwa sejati negara”. Dengan melakukan itu kata Walker Cronkite (seorang jurnalis siaran Amerika pembawa berita untuk CBS “Evening News”), pada penghormatan ulang tahun ke 100 Berlin dia mengatakan; “Berlin telah membantu menulis kisah negara ini, menangkap yang terbaik dari diri kita dan impian yang membentuk hidup kita”
Berlin menulis ratusan lagu, banyak yang menjadi hit besar, yang membuatnya terkenal sebelum dia berusia 30 tahun.
Selama 60 tahun kariernya, ia menulis sekitar 1.500 lagu, termasuk skor untuk 20 pertunjukkan Broadway dan 15 film Hollywood dengan lagu-lagunya yang dinominasikan 8 kali untuk Academy Awards.
Banyak yang menjadi tema dan populer termasuk; “Alexander’s Ragtime Band”, “Easter Parade”, “Puttin’ on the Ritz”, “Cheek to Cheek”, “White Christmas”, “Happy Holiday”, “Anything You Can Do (I Can Do Better)”, dan musik Broadway-nya juga film seperti “This is the Army” (1943), dengan bintang Ronald Reagan, yang membuat Kate Smith menyanyikan, “God Bless America” nya Berlin untuk pertama kali dibawakan pada tahun 1938.
Lagu-lagu Irving Berlin telah mencapai puncak tangga lagu 25 kali dan telah direkam ulang secara ekstensif oleh banyak penyanyi termasuk The Andrew Sister, Pery Como, Eddie Fisher, Al Jolson, Fred Astaire, Ethel Merman, Louis Armstrong, Frank Sinatra, Dean Martin, Elvis Presley, Judy Garland, Tiny Tim, Barbra Streisand, Linda Ronstadt, Rosemary Clooney, Cher, Diana Ross, Bing Crosby, Sarah Vaughn, Ruth Etting, Fanny Brice, Marilyn Miller, Rudy Vallèe, Nat King Cole, Billie Holiday, Doris Day, Jerry Garcia, Willie Nelson, Bob Dylan, Leonard Cohen, Ella Fitzgerald, Michael Buble, Lady Gaga, dan Christina Aguilera.
Berlin meninggal pada 22 September 1989, di Manhattan, New York City, AS, pada usia 101 tahun. Komposer Douglas Moore membedakan Berlin dari semua penulis lagu kontemporer lainnya, dan memasukkannya sebagai gantinya dengan: Stephen Foster, Walt Whitman, dan Carl Sandburg, sebagai “penyanyi Amerika yang hebat”-seseorang telah “menangkap dan mengabadikan dalam lagu-lagunya apa yang kita katakan, apa yang kita pikirkan, dan apa yang kita yakini”.
Komposer George Gershwin menyebutnya “penulis lagu terhebat yang pernah hidup”.
Dan komposer Jerome Kern menyimpulkan bahwa “Irving Berlin tidak memiliki tempat dalam musik Amerika-dia adalah musik Amerika”.
Berlin berasal dari keluarga Shteti dari Tolochin (sekarang ini Belarus), dokumen mengatakan bahwa ia lahir di Tyumen, Siberia. Dia adalah salah satu dari delapan anak Musa (1848-1901) dan Lena Lipkin Beilin (1850-1922). Ayahnya seorang penyanyi di Sinagog, memindahkan keluarganya ke Amerika, seperti yang dilakukan banyak keluarga Yahudi lainnya di akhir abad ke-19.
Pada 14 September 1893, keluarga itu tiba di Pulau Ellis di New York City. Mereka meninggalkan benua lama dari Antwerpen dengan menaiki SS Rijnland dari Red Star Line.
Ketika mereka tiba, Berlin dimasukkan ke dalam kandang bersamaan dengan saudara laki-laki dan lima saudara perempuannya sampai petugas imigrasi menyatakan mereka layak untuk diizinkan masuk ke kota.
Setelah kedatangan mereka, nama “Berlin” diubah menjadi “Baline”. Menurut penulis biografi Laurance Bergreen, sebagai orang dewasa Berlin mengakui tidak ada kenangan lima tahun pertamanya di Rusia kecuali satu, “dia berbaring di atas selimut di pinggir jalan, menyaksikan rumahnya terbakar habis, rumahnya menjadi abu”.
Keluarga Berlin adalah salah satu dari ratusan ribu keluarga Yahudi lainnya yang berimigrasi ke Amerika Serikat pada akhir 1800 dan awal 1900-an, lolos dari diskriminasi, kemiskinan, dan pembantaian brutal.

Setelah kedatangan Irving Berlin di New York City, keluarganya tinggal sebentar di flat bawah tanah di Monroe Street, dan kemudian pindah ke rumah petak tiga kamar di 330 Cherry Street. Ayahnya, tidak dapat menemukan pekerjaan yang sebanding sebagai penyanyi di New York, mengambil pekerjaan di pasar daging halal dan memberikan pelajaran bahasa Ibrani di samping untuk menghidupi keluarganya. Dia meninggal beberapa tahun kemudian ketika Irving Berlin berusia tiga belas tahun.

Berlin hanya beberapa tahun bersekolah dan ketika ia berusia delapan tahun membantu keluarganya dengan menjajakan koran The Evening Journal untuk membantu menghidupi keluarganya. Suatu ketika saat mengantarkan koran, menurut penulis biografinya dan sekaligus temannya, Alexander Woollcott, dia berhenti untuk melihat sebuah kapal yang berangkat ke China dan menjadi begitu terpesona sehingga ia tidak melihat derek berayun, yang menjatuhkannya ke sungai.
Ibunya bekerja sebagai bidan, dan ketiga saudara perempuannya bekerja membungkus cerutu, yang biasa dilakukan oleh gadis-gadis imigran. Kakak laki-lakinya bekerja di sweetshop merakit kemeja.
Sejarawan musik Philip Furis menulis ketika Berlin mulai menjual koran di Bowey, ia dihadapkan pada musik dan suara yang berasal dari salon dan restoran yang berjajar dijalan-jalan yang ramai. Berlin muda menyanyikan beberapa lagu yang dia dengar saat menjual koran, dan orang-orang akan melemparnya beberapa koin. Ia mengaku kepada ibunya suatu malam bahwa ambisi terbarunya dalam hidup adalah menjadi pelayan penyanyi di sebuah salon.
Setelah meninggalkan sekolah sekitar usia tiga belas tahun. Berlin memiliki sedikit keterampilan bertahan hidup dan menyadari bahwa pekerjaan formal tidak mungkin dilakukan. Satu-satunya kemampuannya diperoleh dari panggilan ayahnya sebagai penyanyi, dan dia bergabung dengan beberapa anak muda lainnya yang pergi ke salon di Bowery dan bernyanyi untuk pelanggan. Berlin akan menyanyikan beberapa balada populer yang dia dengar di jalan, dan berharap orang-orang akan memberinya beberapa sen.
Dari lingkungan yang berliku-liku ini, ia menjadi bijaksana, dengan pendidikan yang nyata dan abadi. Musik adalah satu-satunya sumber pendapatanmya dan dia mengambil bahasa dan budaya gaya hidup ghetto.
Berlin mengetahui jenis lagu apa yang menarik bagi penonton. Dia segera mulai memasukkan lagu-lagu di Aula Musik Tony Pastor di Union Square dan pada tahun 1906, ketika dia berusia 18 tahun, mendapat pekerjaan sebagai pelayan penyanyi di Pelham Cafe di Chinatown. Selain menyajikan minuman, ia menyanyikan parodi lagu-lagu hit yang dibuat-buat untuk menyenangkan pelanggan.
Penulis biografi Charles Hamm menulis bahwa di waktu luang Berlin setelah bekerja, dia belajar sendiri bermain piano. Ia tidak pernah mengikuti pelajaran secara formal, setelah bar tutup, Berlin akan duduk di depan piano di belakang dan mulai mengimprovisasi lagu.
Berlin terus menulis dan bermain musik di Pelham Cafe dan mengembangkan gaya awal.

Ahmad Jailani

Menyukai jazz sejak masih di SMP. Wiraswastawan yang mulai membentuk komunitas Balikpapan Jazz Lovers pada 2008 ini juga kerap menulis artikel jazz di koran-koran lokal di Balikpapan dan sejak 2009 rutin menulis tentang jazz di akun facebook.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
WhatsApp Perlu bantuan?

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker